www.ibumengaji.com Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian Rasulullah SAW. Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang melampaui batas akal manusia, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam perjalanan dakwah Islam, terutama melalui pensyariatan sholat lima waktu.
Waktu dan Latar Belakang Terjadinya Isra’ Mi’raj
Mayoritas ulama berpendapat bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun ke-10 kenabian, sekitar tahun 621 M, pada periode yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan). Pada masa ini, Rasulullah SAW kehilangan dua pendukung terbesarnya, yaitu Khadijah binti Khuwailid RA dan Abu Thalib. Selain itu, dakwah di Makkah menghadapi penentangan keras, bahkan Rasulullah SAW mengalami penolakan dan perlakuan kasar saat berdakwah ke Thaif. Dalam kondisi psikologis yang berat inilah Allah SWT menghibur dan menguatkan Rasulullah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.
Makna dan Tujuan Isra’ Mi’raj
Isra’ Mi’raj memiliki tujuan utama untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT kepada Rasulullah SAW serta meneguhkan hati beliau dalam menjalankan misi dakwah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha… untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.” (QS. Al-Isra’: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan nyata yang dilakukan atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT.
Tahapan Perjalanan Isra’ dan Mi’raj
Perjalanan Isra’ dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina dengan menaiki Buraq, ditemani Malaikat Jibril AS. Di Masjidil Aqsha, Rasulullah SAW menjadi imam sholat bagi para nabi dan rasul terdahulu, yang menunjukkan kepemimpinan beliau atas seluruh umat.
Selanjutnya adalah peristiwa Mi’raj, yaitu perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW bertemu dengan para nabi di setiap lapisan langit, termasuk Nabi Musa AS di langit keenam.
Dalil Hadits tentang Sholat dan Peran Nabi Musa AS
Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa pada awalnya Allah SWT mewajibkan sholat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Ketika Rasulullah SAW bertemu Nabi Musa AS, beliau menyarankan agar Rasulullah SAW memohon keringanan karena umat Muhammad dinilai tidak akan mampu melaksanakannya. Nabi Musa AS memberikan saran tersebut berdasarkan pengalaman beliau membimbing Bani Israil yang dikenal sering lalai dalam ketaatan. Atas saran tersebut, Rasulullah SAW berulang kali kembali memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu sholat dengan pahala setara lima puluh waktu.
Isra’ Mi’raj dalam Tinjauan Sains Modern
Secara sains modern, Isra’ Mi’raj tidak dapat dijelaskan sepenuhnya karena termasuk peristiwa mukjizat. Namun, konsep relativitas waktu, perjalanan cepat, dan dimensi ruang-waktu dalam fisika modern menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman manusia tidak menutup kemungkinan adanya realitas di luar jangkauan indera dan logika biasa.
Hikmah dan Manfaat Isra’ Mi’raj bagi Dakwah Rasulullah SAW
Peristiwa Isra’ Mi’raj memperkuat posisi sholat sebagai pilar utama agama Islam dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Allah SWT. Selain itu, peristiwa ini menjadi ujian keimanan bagi umat Islam awal serta memperteguh keyakinan Rasulullah SAW dalam melanjutkan dakwah meskipun menghadapi berbagai tantangan. Isra’ Mi’raj juga menegaskan bahwa pertolongan Allah selalu hadir pada saat yang paling sulit bagi hamba-Nya.