www.ibumengaji.com Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu momen paling agung dalam sejarah Islam. Di dalamnya terdapat penetapan kewajiban sholat bagi umat Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa pada awalnya Allah SWT mewajibkan sholat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Namun, kewajiban tersebut kemudian diringankan menjadi lima waktu setelah Rasulullah SAW berulang kali memohon keringanan atas saran Nabi Musa AS. Saran tersebut bukan tanpa alasan, melainkan lahir dari pengalaman panjang Nabi Musa AS dalam membimbing Bani Israil.
Nabi Musa AS dikenal sebagai nabi yang menghadapi umat dengan karakter sangat berat. Al-Qur’an menggambarkan Bani Israil sebagai kaum yang sering membantah, mudah ingkar, dan kurang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Meskipun mereka menyaksikan mukjizat besar secara langsung—seperti terbelahnya Laut Merah dan hancurnya Fir’aun—namun hal itu tidak serta-merta menjadikan mereka taat sepenuhnya.
Salah satu kisah paling terkenal adalah peristiwa penyembahan anak sapi yang terjadi ketika Nabi Musa AS bermunajat selama empat puluh malam. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 51–54, Allah SWT menegur keras Bani Israil karena menyekutukan-Nya meskipun baru saja diselamatkan dari perbudakan. Peristiwa ini menunjukkan betapa lemahnya konsistensi mereka dalam tauhid dan ibadah.
Kisah lain yang memperlihatkan sulitnya membimbing Bani Israil adalah penolakan mereka untuk memasuki tanah suci sebagaimana diperintahkan Allah SWT. Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 20–26, mereka dengan terang-terangan menolak perintah tersebut dan justru meminta Nabi Musa AS yang maju berperang bersama Allah. Akibat sikap tersebut, Allah menghukum mereka tersesat di padang pasir selama empat puluh tahun.
Pengalaman Nabi Musa AS tidak berhenti di situ. Bani Israil juga dikenal gemar memperdebatkan perintah Allah, sebagaimana tampak dalam kisah penyembelihan sapi pada Surah Al-Baqarah ayat 67–71. Alih-alih segera taat, mereka justru mengajukan pertanyaan berbelit-belit yang menunjukkan sikap enggan menjalankan perintah secara sederhana.
Berangkat dari pengalaman panjang itulah Nabi Musa AS, ketika bertemu Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, menyarankan agar beliau memohon keringanan kewajiban sholat. Nabi Musa AS berkata bahwa beliau telah menguji umat manusia melalui Bani Israil dan mengetahui bahwa umat Nabi Muhammad SAW tidak akan sanggup melaksanakan sholat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Atas saran tersebut, Rasulullah SAW berulang kali kembali menghadap Allah SWT hingga akhirnya kewajiban sholat ditetapkan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh waktu.
Hikmah dari peristiwa ini sangat besar bagi umat Islam. Sholat lima waktu merupakan bentuk kasih sayang dan rahmat Allah SWT, bukan pengurangan nilai ibadah, melainkan keringanan dalam pelaksanaan. Kisah Nabi Musa AS dan Bani Israil menjadi pelajaran agar umat Nabi Muhammad SAW tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu, melainkan menjaga ketaatan dan konsistensi dalam menjalankan ibadah sholat sebagai tiang agama.