Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Khalifah Abdul Malik bin Marwan: Keteladanan Tawadhu, Pemaaf, dan Adil dalam Kekuatan

www.ibumengaji.com Di antara tokoh besar dalam sejarah Islam yang meninggalkan jejak peradaban yang kuat adalah Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Beliau merupakan khalifah kelima dari Dinasti Umayyah yang memimpin kaum Muslimin pada tahun 65–86 H (685–705 M). Abdul Malik dikenal sebagai seorang pemimpin yang cerdas, berwibawa, ahli ilmu, dan memiliki kemampuan administrasi yang luar biasa. Pada masa pemerintahannya, berbagai gejolak politik yang sebelumnya mengguncang dunia Islam berhasil diredam sehingga stabilitas negara kembali terwujud.

Banyak pencapaian besar yang diraih umat Islam pada masa kepemimpinannya. Di antara yang paling terkenal adalah penyatuan administrasi pemerintahan dengan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara, pencetakan mata uang Islam sendiri yang independen dari pengaruh Romawi dan Persia, pembangunan berbagai sarana publik, serta perluasan wilayah Islam hingga menjangkau kawasan yang lebih luas. Pada masanya pula dibangun Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) di Baitul Maqdis yang hingga kini menjadi salah satu simbol peradaban Islam. Berkat kepemimpinannya, masyarakat Muslim menikmati keamanan, kemajuan ekonomi, dan kestabilan pemerintahan.

Salah satu nasihat yang dinisbatkan kepada beliau adalah:

أفضل الرجال من تواضع عن رفعة، وعفا عن قدرة، وأنصف عن قوة

“Orang yang paling utama adalah yang rendah hati ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya, dan bersikap adil ketika kuat.”

Ungkapan singkat ini mengandung pelajaran akhlak yang sangat mendalam. Pertama, kemuliaan seseorang tidak diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari kerendahan hatinya. Ketika seseorang memperoleh kedudukan, kekayaan, ilmu, atau pengaruh, sering kali muncul godaan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Padahal, seorang mukmin justru semakin tawadhu ketika Allah mengangkat derajatnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan sifat dasar orang beriman yang tidak sombong meskipun memiliki berbagai kelebihan. Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa tawadhu adalah sikap tunduk kepada kebenaran dan tidak merendahkan orang lain. Semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi manusia, semakin besar pula tuntutan baginya untuk bersikap rendah hati.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati bukanlah hasil kesombongan, melainkan buah dari kerendahan hati.

Sifat kedua yang disebutkan Abdul Malik bin Marwan adalah memaafkan ketika memiliki kemampuan untuk membalas. Inilah salah satu bentuk akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Memaafkan ketika lemah adalah sesuatu yang biasa, tetapi memaafkan ketika mampu menghukum merupakan kemuliaan yang luar biasa.

Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)

Menurut para mufassir, ayat ini mengajarkan bahwa orang yang berharap mendapatkan ampunan Allah hendaknya juga membiasakan diri memberi maaf kepada sesama manusia.

Adapun sifat ketiga adalah berlaku adil ketika memiliki kekuatan. Inilah ujian terbesar bagi manusia. Banyak orang mampu berlaku adil ketika lemah, tetapi berubah ketika memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan keadilan tanpa memandang kedudukan, hubungan, ataupun kepentingan pribadi.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keadilan adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya tanpa kecenderungan kepada hawa nafsu. Bahkan Allah memerintahkan agar keadilan tetap ditegakkan meskipun terhadap orang yang dibenci.

Karena itu, nasihat Abdul Malik bin Marwan sesungguhnya merupakan ringkasan akhlak seorang mukmin yang sempurna: tawadhu saat mulia, pemaaf saat berkuasa, dan adil saat kuat. Tiga sifat ini bukan hanya membangun kehormatan pribadi, tetapi juga menjadi fondasi kokohnya keluarga, masyarakat, dan pemerintahan. Sejarah membuktikan bahwa pemimpin yang dihormati bukanlah mereka yang paling keras menunjukkan kekuasaan, melainkan mereka yang mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kekuatan. Di situlah letak kemuliaan yang sesungguhnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments