Ungkapan ini mengandung nasihat yang sangat dalam. Ia tidak sekadar mengajarkan kita untuk berpikir positif terhadap orang lain, tetapi mengajak kita memperbaiki sesuatu yang sering luput dari perhatian: cara hati memandang manusia. Sebab, banyak persoalan dalam kehidupan bermula bukan dari apa yang dilakukan seseorang, melainkan dari bagaimana kita menafsirkan apa yang dilakukannya.
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ اللَّهُ لَهُ بِالْخَيْرِ، فَلْيُحْسِنِ الظَّنَّ بِالنَّاسِ
“Barang siapa menginginkan agar Allah menetapkan kebaikan baginya, hendaklah ia berbaik sangka kepada manusia.”
Memahami Kata-Kata Penting
Ada beberapa kata penting dalam ungkapan tersebut.
مَنْ أَرَادَ — “barang siapa menginginkan” menunjukkan adanya keinginan dan pilihan dari dalam diri seseorang. Kebaikan tidak hanya ditunggu, tetapi juga diusahakan. Seseorang yang menginginkan kebaikan perlu menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kebaikan.
Kemudian أَنْ يَقْضِيَ اللَّهُ لَهُ بِالْخَيْرِ berarti “agar Allah menetapkan baginya kebaikan”. Di sini terdapat pesan penting: kebaikan yang sejati pada akhirnya berada dalam ketetapan Allah. Manusia berusaha, tetapi Allah yang menentukan hasilnya.
Lalu ada kata الْخَيْرِ — al-khair, yang berarti kebaikan. Dalam perspektif Islam, khair bukan sekadar sesuatu yang menyenangkan, menguntungkan, atau sesuai dengan keinginan manusia. Sesuatu yang kita sukai belum tentu baik menurut Allah. Sebaliknya, sesuatu yang terasa berat belum tentu buruk.
Karena itu, ukuran kebaikan dalam Islam tidak semata-mata berdasarkan keuntungan duniawi. Kebaikan berkaitan dengan sesuatu yang diridhai Allah, mendekatkan manusia kepada-Nya, membawa manfaat yang benar, serta tidak bertentangan dengan syariat.
Al-Qur’an menggunakan istilah al-ihsan untuk menggambarkan kebaikan yang luhur. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 90 bahwa Allah memerintahkan keadilan dan ihsan. Ihsan tidak hanya berarti melakukan sesuatu yang baik, tetapi juga melakukan kebaikan dengan kualitas yang terbaik.
Dengan demikian, kebaikan dalam Islam memiliki dimensi hubungan dengan Allah sekaligus hubungan dengan sesama manusia. Ibadah yang baik, akhlak yang baik, kejujuran, keadilan, menolong orang lain, menjaga lisan, memaafkan, dan memperlakukan manusia dengan baik semuanya merupakan bagian dari jalan kebaikan.
Apa Makna Berbaik Sangka?
Kata فَلْيُحْسِنِ الظَّنَّ — fal-yuḥsiniẓ-ẓanna berarti “hendaklah ia berbaik sangka”. Sedangkan بِالنَّاسِ — bin-nās berarti “kepada manusia”.
Berbaik sangka atau husnuzan berarti memilih prasangka yang baik ketika terdapat beberapa kemungkinan dalam memahami perilaku seseorang. Kita tidak tergesa-gesa menuduh, mencurigai, atau memberikan penilaian buruk tanpa bukti yang memadai.
Misalnya, seseorang tidak membalas pesan kita. Kita dapat langsung berpikir, “Dia sengaja mengabaikan saya.” Tetapi kita juga dapat berpikir, “Mungkin dia sedang sibuk, belum melihat pesan, atau sedang menghadapi persoalan.”
Berbaik sangka bukan berarti menganggap semua orang pasti benar. Husnuzan bukan kebodohan, dan bukan pula menutup mata terhadap kenyataan. Jika terdapat bukti yang jelas tentang kesalahan seseorang, kita tetap harus bersikap adil. Namun, sebelum bukti itu ada, hati tidak seharusnya membangun tuduhan berdasarkan dugaan.
Inilah keindahan husnuzan. Ia menjaga hati dari penyakit su’uzan, yaitu buruk sangka yang dapat berkembang menjadi curiga, ghibah, fitnah, kebencian, bahkan permusuhan.
Berbaik Sangka Bukan Berarti Naif
Ada perbedaan antara berbaik sangka dan mudah ditipu.
Islam mengajarkan husnuzan sekaligus kehati-hatian. Kita boleh mempercayai seseorang secara baik, tetapi tetap melakukan tabayyun. Kita boleh memaafkan, tetapi tidak harus mengulangi kesalahan yang sama. Kita boleh melihat sisi baik seseorang, tetapi tetap menjaga batas ketika terdapat risiko yang nyata.
Karena itu, husnuzan seharusnya melahirkan sikap tenang, adil, dan proporsional. Kita tidak mudah menuduh, tetapi juga tidak kehilangan kewaspadaan.
Siapakah Imam Asy-Syafi‘i?
Ungkapan tersebut dinisbatkan kepada Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i رحمه الله, seorang ulama besar Islam yang hidup pada abad kedua Hijriah. Beliau lahir pada tahun 150 H/767 M dan wafat pada 204 H/820 M di Mesir. Beliau dikenal sebagai seorang faqih, ahli hadis, dan mujtahid besar yang menjadi tokoh utama dalam perkembangan mazhab Syafi‘i.
Imam asy-Syafi‘i memiliki kedudukan penting dalam sejarah ilmu fikih. Karya beliau Ar-Risalah menjadi salah satu karya penting dalam pembahasan metodologi dan dasar-dasar ushul fikih.
Menariknya, nasihat tentang berbaik sangka ini memang dinisbatkan kepada beliau dalam Bustān al-‘Ārifīn karya Imam an-Nawawi. Namun, karena ia merupakan perkataan seorang ulama dan bukan sabda Rasulullah ﷺ, sebaiknya kita tidak menyebutnya sebagai hadis.
Kebaikan yang Dimulai dari Hati
Pada akhirnya, pesan Imam asy-Syafi‘i mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sangat dalam: jika kita menginginkan kebaikan dari Allah, mulailah dengan membangun kebaikan dalam hati kita terhadap manusia.
Jangan terlalu cepat menilai. Jangan mudah mencurigai. Jangan menjadikan dugaan sebagai kenyataan. Berikan ruang bagi orang lain untuk memiliki alasan yang mungkin belum kita ketahui.
Sebab, hati yang terbiasa berbaik sangka akan lebih tenang. Ia tidak mudah terbakar oleh prasangka. Ia tidak sibuk mencari kesalahan orang lain. Dan yang lebih penting, ia belajar melihat manusia dengan kasih sayang, sementara urusan hati dan niat mereka diserahkan kepada Allah.
Berbaik sangka bukan berarti menganggap semua manusia baik. Berbaik sangka berarti memilih untuk tidak menuduh seseorang buruk sebelum memiliki alasan yang benar.
Barangkali, justru melalui hati yang seperti itulah Allah membukakan jalan menuju al-khair—kebaikan yang sesungguhnya.