Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Jika Tak Ingin Menyesal, Lakukan Segala Sesuatu karena Allah Hikmah Nasihat Ali Ath-Thantawi tentang Keikhlasan dalam Beramal

Di antara nasihat yang sangat singkat namun memiliki makna yang amat mendalam adalah perkataan ulama besar Suriah, Ali Ath-Thantawi:

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ لَا تَنْدَمَ عَلَى شَيْءٍ، فَافْعَلْ كُلَّ شَيْءٍ لِوَجْهِ اللَّهِ.

“Jika engkau tidak ingin menyesal atas suatu hal, maka lakukanlah segala sesuatu semata-mata karena mengharapkan ridha Allah.”

Kalimat yang hanya terdiri dari beberapa kata ini sesungguhnya merangkum salah satu prinsip terbesar dalam Islam, yaitu ikhlas. Selama manusia beramal demi Allah, ia tidak akan pernah benar-benar merugi. Kalaupun hasilnya tidak sesuai harapan, ia tetap memperoleh pahala di sisi Allah.

Mengenal Ali Ath-Thantawi

Ali Ath-Thantawi (علي الطنطاوي) lahir di Damaskus, Suriah, pada tahun 1909 M, dan wafat di Jeddah, Arab Saudi, pada tahun 1999 M. Beliau dikenal sebagai ulama, hakim syariah, sastrawan, pendidik, sekaligus dai yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyampaikan ilmu dengan bahasa yang indah, sederhana, dan mudah dipahami.

Beliau berasal dari keluarga ulama. Sejak kecil, Ali Ath-Thantawi tumbuh dalam lingkungan yang mencintai ilmu dan agama. Pendidikan pertamanya diperoleh dari ayahnya, kemudian dilanjutkan kepada para ulama Damaskus yang terkenal pada zamannya.

Di antara guru-guru beliau yang paling berpengaruh adalah Syaikh Muhammad Bahjat al-Baithar, seorang ahli hadis dan bahasa Arab; Syaikh Muhammad Kurd Ali, sejarawan dan pendiri Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah di Damaskus; Syaikh Badruddin al-Hasani, ulama hadis besar Suriah; serta sejumlah ulama Syam lainnya yang membentuk keluasan ilmu dan kedalaman adab beliau.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Ali Ath-Thantawi menjadi guru, kemudian diangkat sebagai hakim syariah di Suriah. Beberapa tahun kemudian beliau hijrah ke Arab Saudi dan mengajar di berbagai lembaga pendidikan, termasuk Fakultas Syariah di Makkah. Ceramah-ceramah beliau melalui radio dan televisi menjadikannya salah seorang dai paling dikenal di dunia Arab pada abad ke-20.

Peran dalam Dakwah dan Kebangkitan Islam

Ali Ath-Thantawi tidak dikenal sebagai pendiri organisasi Islam tertentu, tetapi pengaruhnya dalam dunia dakwah sangat besar. Beliau memilih jalan dakwah melalui pendidikan, tulisan, media massa, dan pengadilan syariah.

Beliau mampu menjembatani dunia keilmuan klasik dengan masyarakat modern. Ceramahnya tidak rumit, tetapi kaya dalil, penuh hikmah, dan menyentuh hati. Banyak generasi muda yang kembali mencintai Islam karena mendengar penjelasan beliau yang logis sekaligus menyejukkan.

Sebagai hakim syariah, beliau juga memperlihatkan bahwa hukum Islam bukan sekadar teori, melainkan mampu menghadirkan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Dalam dunia pendidikan, beliau mengajarkan pentingnya akhlak sebelum ilmu, karena ilmu tanpa akhlak justru dapat menjadi sumber kerusakan.

Karya-Karya Monumental

Ali Ath-Thantawi meninggalkan banyak karya yang hingga kini masih dicetak dan dipelajari. Di antara yang paling terkenal adalah:

  • مذكرات علي الطنطاوي (Mudzakkirāt ‘Ali ath-Thantawi), autobiografi yang memotret perjalanan hidup, dakwah, dan kondisi dunia Islam selama hampir satu abad.
  • قصص من التاريخ (Qashash min at-Tarikh), kisah-kisah sejarah Islam yang disampaikan dengan gaya sastra yang menarik.
  • تعريف عام بدين الإسلام (Ta’rīf ‘Āmm bi Dīn al-Islām), pengantar yang sangat baik untuk memahami ajaran Islam.
  • رجال من التاريخ (Rijāl min at-Tārīkh), biografi tokoh-tokoh Islam yang penuh pelajaran.
  • فتاوى علي الطنطاوي (Fatāwā ‘Ali ath-Thantawi), kumpulan jawaban atas berbagai persoalan keagamaan masyarakat.

Ciri khas tulisan beliau adalah bahasa yang indah, argumentasi yang kuat, serta mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan.

Memahami Nasihat Beliau

Mengapa seseorang sering menyesal?

Sebagian menyesal karena gagal. Sebagian lagi menyesal karena dikhianati. Ada pula yang menyesal karena pengorbanannya tidak dihargai.

Ali Ath-Thantawi memberikan resep yang sangat sederhana: ubahlah tujuan setiap amal. Jangan jadikan manusia sebagai tujuan utama. Jadikan Allah sebagai tujuan akhir.

Orang yang membantu tetangganya karena ingin dipuji akan kecewa ketika tidak mendapat ucapan terima kasih. Namun orang yang membantu karena Allah akan tetap tenang sekalipun tidak ada seorang pun yang mengetahui amalnya.

Demikian pula seorang guru. Jika ia mengajar demi penghargaan, ia akan kecewa ketika murid-muridnya tidak menghormatinya. Tetapi jika ia mengajar karena Allah, setiap ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariah yang terus mengalir.

Inilah makna firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Keikhlasan tidak selalu menghilangkan kesedihan, tetapi membuat seseorang tidak tenggelam dalam penyesalan. Ia yakin bahwa setiap amal yang dilakukan karena Allah pasti bernilai di sisi-Nya.

Mengimplementasikan dalam Kehidupan

Nasihat ini dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Seorang pegawai datang tepat waktu bukan semata-mata karena takut kepada atasan, tetapi karena menyadari bahwa bekerja dengan amanah adalah ibadah. Ketika tidak ada yang melihat, ia tetap jujur.

Seorang pedagang tidak mengurangi timbangan walaupun pembeli tidak mengetahuinya. Ia lebih takut kepada Allah daripada kehilangan keuntungan sesaat.

Seorang ibu memasak, mencuci, dan mendidik anak-anaknya dengan niat mencari ridha Allah. Pekerjaan rumah yang tampak sederhana berubah menjadi ladang pahala.

Seorang mahasiswa belajar dengan sungguh-sungguh bukan hanya demi memperoleh nilai tinggi, tetapi agar kelak ilmunya bermanfaat bagi umat.

Bahkan ketika tersenyum kepada pasangan, menyingkirkan paku dari jalan, atau mengangkat telepon orang tua dengan penuh hormat, semuanya dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah.

Kuncinya adalah membiasakan diri memperbarui niat sebelum memulai pekerjaan. Kalimat sederhana seperti, “Ya Allah, aku melakukan ini untuk mencari ridha-Mu,” akan mengubah aktivitas dunia menjadi investasi akhirat.

Penutup

Ali Ath-Thantawi mengajarkan bahwa sumber utama penyesalan adalah salah arah tujuan. Ketika manusia menggantungkan harapan kepada pujian, balasan, atau penghargaan dari sesama manusia, ia mudah kecewa. Sebaliknya, ketika semua amal dipersembahkan untuk Allah semata, hati menjadi lebih tenang karena balasan terbaik berada di sisi-Nya.

Keikhlasan bukan berarti tidak berusaha memperoleh hasil terbaik. Justru seorang mukmin tetap bekerja dengan profesional, bersungguh-sungguh, dan bertanggung jawab. Bedanya, ia tidak menggantungkan kebahagiaannya pada penilaian manusia, melainkan pada keridhaan Allah.

Karena itu, setiap kali hendak memulai pekerjaan—sekecil apa pun—marilah bertanya kepada diri sendiri, “Untuk siapa aku melakukan ini?” Jika jawabannya adalah karena Allah, maka insya Allah tidak ada amal yang sia-sia dan tidak ada penyesalan yang berkepanjangan. Sebab segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah akan kembali kepada pelakunya dalam bentuk pahala, ketenangan hati, dan keberkahan hidup.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments