Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Ilmu Tidak Datang dengan Menunggu: Belajar dengan Perhatian, Diskusi, dan Pendampingan

www.ibumengaji.com Perkataan yang indah ini dinisbatkan kepada Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani رحمه الله, seorang imam besar mazhab Maliki yang hidup di Qairawan, Afrika Utara. Beliau lahir sekitar tahun 310 H/922 M dan wafat pada tahun 386 H/996 M. Dengan demikian, beliau hidup pada abad ke-4 Hijriah, sebuah masa penting dalam perkembangan ilmu-ilmu Islam. Beliau dikenal sebagai salah satu imam terbesar Malikiyah pada zamannya, bahkan sering disebut sebagai “Malik kecil” karena keluasan ilmunya dalam memahami, menghimpun, dan menjelaskan mazhab Imam Malik.النَّصُّ بِالشَّكْلِ

اَلْعِلْمُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْعِنَايَةِ، وَالْمُبَاحَثَةِ، وَالْمُلَازَمَةِ، مَعَ هِدَايَةِ اللهِ وَتَوْفِيقِهِ.

“Ilmu tidak datang kecuali dengan perhatian, diskusi, dan pendampingan yang tekun, bersamaan dengan petunjuk dan pertolongan dari Allah.”

Adapun kata مُلَازَمَةٌ (mulāzamah) berasal dari makna menemani, terus bersama, dan tidak meninggalkan. Sebagaimana penjelasan yang disebutkan: رَافَقَهُ وَلَمْ يُفَارِقْهُ — “ia menemaninya dan tidak meninggalkannya.”

Perkataan yang indah ini dinisbatkan kepada Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani رحمه الله, seorang imam besar mazhab Maliki yang hidup di Qairawan, Afrika Utara. Beliau lahir sekitar tahun 310 H/922 M dan wafat pada tahun 386 H/996 M. Dengan demikian, beliau hidup pada abad ke-4 Hijriah, sebuah masa penting dalam perkembangan ilmu-ilmu Islam. Beliau dikenal sebagai salah satu imam terbesar Malikiyah pada zamannya, bahkan sering disebut sebagai “Malik kecil” karena keluasan ilmunya dalam memahami, menghimpun, dan menjelaskan mazhab Imam Malik.

Di antara guru-guru beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin Muhammad bin al-Labbad, Abu al-‘Arab Muhammad bin Ahmad al-Tamimi, Abu al-Fadhl al-Mamsi, Sa‘dun al-Khaulani, dan sejumlah ulama Qairawan lainnya. Beliau juga melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dan mendengar ilmu dari para ulama di wilayah Timur Islam, di antaranya Muhammad bin al-A‘rabi. Di antara murid-muridnya kemudian lahir ulama-ulama besar yang meneruskan tradisi keilmuan Malikiyah.

Perkataan beliau tentang ilmu sebenarnya mengandung sebuah metode pendidikan yang sangat mendalam. Ilmu tidak datang hanya karena seseorang memiliki buku. Ilmu juga tidak otomatis hadir hanya karena seseorang pernah mengikuti kajian. Ilmu membutuhkan العناية — al-‘ināyah, yaitu perhatian yang sungguh-sungguh. Seorang pencari ilmu harus memberikan waktu, pikiran, dan keseriusan. Ia tidak cukup hanya membaca judul, mendengar potongan ceramah, atau menyimpan banyak tautan. Ia harus benar-benar memperhatikan, memahami, mencatat, mengulang, dan berusaha mengamalkan.

Kemudian ada المباحثة — al-mubāḥatsah, yaitu diskusi dan pembahasan. Ilmu menjadi semakin terang ketika seseorang berdialog dengan orang lain. Pertanyaan yang muncul dalam diskusi sering kali membuka pintu pemahaman yang sebelumnya tertutup. Karena itu, belajar bukan hanya aktivitas menerima, tetapi juga bertanya, menguji pemahaman, menjelaskan kembali, dan berdiskusi dengan adab.

Yang ketiga adalah الملازمة — al-mulāzamah. Inilah bagian yang sering dilupakan. Ilmu membutuhkan pendampingan yang panjang. Seseorang harus terus bersama ilmu dan para guru. Ia tidak mudah berpindah dari satu tema ke tema lain sebelum memahami dasar-dasarnya. Ia tidak meninggalkan proses hanya karena belum segera melihat hasilnya.

Di sinilah kehidupan Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani menjadi contoh nyata. Beliau memperoleh ilmu melalui perjalanan panjang, berguru kepada banyak ulama, mendengarkan, mendalami, dan terus bersama ilmu hingga menjadi seorang imam. Keilmuan besar tidak lahir dari semangat sesaat, melainkan dari ketekunan yang berlangsung bertahun-tahun.

Namun, Ibnu Abi Zaid menambahkan satu hal yang sangat penting: مَعَ هِدَايَةِ اللهِ وَتَوْفِيقِهِ — bersama petunjuk dan pertolongan Allah. Artinya, usaha manusia sangat penting, tetapi ilmu yang bermanfaat tetap merupakan karunia Allah. Karena itu, seorang penuntut ilmu tidak boleh hanya mengandalkan kecerdasan dan kerja keras. Ia harus selalu memohon pertolongan kepada Allah.

Allah mengajarkan doa:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
(QS. Thaha: 114)

Perhatikanlah, bahkan Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk memohon tambahan ilmu. Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak pernah merasa selesai dalam belajar.

Allah juga berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa mencari ilmu adalah perjalanan. Ada jalan yang harus ditempuh. Ada waktu yang harus diberikan. Ada kesulitan yang harus dilewati. Dan dalam perjalanan itulah Allah memberikan kemudahan.

Lalu, bagaimana kita mengimplementasikan nasihat Ibnu Abi Zaid dalam kehidupan?

Pertama, jadikan belajar sebagai kebiasaan, bukan kegiatan musiman. Sisihkan waktu setiap hari untuk membaca, mengikuti kajian, mempelajari Al-Qur’an, atau mendalami bidang yang bermanfaat.

Kedua, carilah guru dan lingkungan belajar yang baik. Ilmu membutuhkan bimbingan. Jangan merasa cukup belajar sendirian dari potongan informasi yang tidak selalu jelas sumbernya.

Ketiga, biasakan berdiskusi dengan adab. Tidak semua perbedaan harus menjadi pertengkaran. Diskusi yang baik bukan untuk menunjukkan siapa yang paling pintar, tetapi untuk menemukan kebenaran.

Keempat, teruslah mendampingi ilmu sampai ia menjadi amal. Ilmu yang hanya tersimpan dalam ingatan belum mencapai tujuan tertingginya. Ilmu harus membentuk akhlak, memperbaiki ibadah, menumbuhkan kejujuran, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Pada akhirnya, pesan Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani رحمه الله mengajarkan bahwa ilmu tidak dapat dipaksa datang dengan cara yang tergesa-gesa. Ilmu harus didekati dengan perhatian, dirawat melalui diskusi, dan dijaga dengan ketekunan. Kita harus menemani ilmu dan tidak meninggalkannya.

Namun, di atas semua usaha itu, kita tetap membutuhkan hidayah dan taufik Allah. Sebab, ilmu yang paling berharga bukan sekadar ilmu yang membuat seseorang banyak mengetahui, tetapi ilmu yang membuatnya semakin mengenal Allah, semakin rendah hati, semakin baik akhlaknya, dan semakin bermanfaat bagi kehidupan.

Ilmu membutuhkan perhatian. Ia tumbuh melalui diskusi. Ia menjadi kuat melalui pendampingan yang tekun. Dan ia menjadi cahaya hanya dengan hidayah serta pertolongan Allah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments