www.ibumengaji.com Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani rahimahullah (310–386 H) adalah salah satu ulama besar dalam mazhab Maliki yang berasal dari Qairawan (Tunisia). Beliau dikenal sebagai “Mālik aṣ-Ṣaghīr” (Malik kecil) karena keluasan ilmunya dalam fikih dan kedalaman pemahamannya terhadap manhaj Imam Malik. Karya beliau yang terkenal, ar-Risālah, menjadi rujukan penting dalam pendidikan dasar fikih dan akidah Ahlus Sunnah di dunia Islam. Dari sisi generasi, beliau bukan termasuk tabi‘in maupun tabi‘ut tabi‘in, melainkan termasuk ulama setelah generasi tersebut (ulama khalaf), namun tetap tersambung kuat sanad keilmuannya kepada para imam terdahulu.
Salah satu nasihat beliau yang sangat mendalam tentang hakikat menuntut ilmu adalah sebagai berikut:
العِلْمُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْعِنَايَةِ وَالْمُبَاحَثَةِ وَالْمُلَازَمَةِ، مَعَ هِدَايَةِ اللَّهِ وَتَوْفِيقِهِ.
Artinya: “Ilmu tidak akan datang kecuali dengan perhatian, diskusi, dan ketekunan dalam mendampingi (ilmu), disertai dengan hidayah dan taufik dari Allah.”
Kata المُلَازَمَةُ sendiri bermakna:
رَافَقَهُ وَلَمْ يُفَارِقْهُ — menemani dan tidak pernah meninggalkannya.
Makna ini menggambarkan kedekatan yang terus-menerus antara penuntut ilmu dengan ilmunya, baik dalam belajar, mengulang, maupun mengamalkan.
Ungkapan ini, meskipun singkat, memuat prinsip besar dalam tradisi keilmuan Islam. Pertama, al-‘ināyah (perhatian) menunjukkan bahwa ilmu tidak akan menetap pada hati yang lalai. Ia membutuhkan fokus, kesungguhan, dan pengorbanan. Kedua, al-mubāḥatsah (diskusi) menegaskan bahwa ilmu tumbuh melalui interaksi—bertanya, berdialog, dan menguji pemahaman. Ketiga, al-mulāzamah (ketekunan mendampingi) mengajarkan pentingnya kontinuitas; ilmu tidak bisa diraih oleh mereka yang mudah berpaling dan tidak istiqamah.
Namun, puncak dari semua itu adalah pengakuan bahwa keberhasilan tetap bergantung pada hidāyatullāh wa taufīqih—petunjuk dan pertolongan Allah. Inilah yang membedakan tradisi keilmuan Islam dengan pendekatan yang semata-mata rasional: ada dimensi ruhani yang menjadi penentu.
Dari nasihat ini, dapat diambil sepuluh pelajaran berharga. Ilmu menuntut kesungguhan, bukan sekadar keinginan. Fokus menjadi kunci utama keberhasilan belajar. Diskusi memperkuat dan memperluas pemahaman. Konsistensi lebih bernilai daripada semangat sesaat. Kedekatan dengan guru dan majelis ilmu membawa keberkahan. Ilmu tidak cocok bagi mereka yang mudah bosan dan berpaling. Kesabaran menjadi fondasi utama dalam perjalanan panjang menuntut ilmu. Doa dan ketergantungan kepada Allah adalah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Ilmu sejati adalah cahaya yang Allah karuniakan, bukan sekadar hasil usaha intelektual. Dan akhirnya, perpaduan antara ikhtiar yang maksimal dan tawakal yang tulus akan melahirkan keberhasilan yang hakiki.
Esai ini mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya kumpulan informasi, tetapi cahaya yang menghidupkan hati. Ia menuntut kehadiran jiwa, keterlibatan akal, dan ketundukan kepada Allah. Barang siapa yang bersungguh-sungguh menjaganya—dengan perhatian, diskusi, dan ketekunan—serta memohon pertolongan-Nya, maka Allah akan membukakan baginya pintu-pintu pemahaman.
Dengan demikian, nasihat Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani bukan sekadar teori, melainkan peta jalan bagi siapa pun yang ingin menapaki jalan ilmu dengan benar: jalan yang memadukan usaha manusia dan pertolongan Ilahi, hingga ilmu itu benar-benar menjadi cahaya dalam kehidupan.