www.ibumengaji.com Secara bahasa, kata “isyrah” berasal dari akar kata syaraha yang berarti melapangkan atau membukakan. “Shadri” berarti dada, yang dalam bahasa Arab sering dimaknai sebagai hati atau ruang batin. Maka “isyrah li shadri” berarti permohonan agar hati diberi kelapangan, ketenangan, dan keberanian.
Kata “yassir” berasal dari kata yusr yang berarti kemudahan. Musa memohon agar tugas beratnya dipermudah, bukan diringankan dari tanggung jawabnya, tetapi dimudahkan dalam prosesnya.
Kemudian frasa “wahlul ‘uqdatan min lisani” berarti lepaskanlah kekakuan atau ikatan pada lisanku. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi Musa memiliki sedikit gangguan dalam kefasihan bicara, sehingga beliau memohon agar hambatan tersebut dihilangkan agar pesan dakwahnya dipahami.
Terakhir, “yafqahu qawli” bermakna agar mereka memahami perkataanku. Ini menunjukkan bahwa tujuan utama dakwah adalah penyampaian pesan yang dipahami dengan baik.
Pokok-pokok utama doa ini adalah: kelapangan hati, kemudahan urusan, kelancaran komunikasi, dan tercapainya pemahaman audiens.
Tafsir Para Ulama
Dalam tafsir klasik seperti Tafsir Ibn Katsir dan Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa doa ini dipanjatkan Nabi Musa saat beliau merasa berat menghadapi Firaun, penguasa zalim yang bahkan pernah mengancam nyawanya. Permohonan “lapangkanlah dadaku” menunjukkan bahwa tugas dakwah membutuhkan kekuatan mental dan spiritual sebelum kekuatan fisik.
Ulama tafsir menjelaskan bahwa kelapangan dada adalah sumber kesabaran dan keberanian. Sedangkan kemudahan urusan adalah taufik Allah dalam setiap langkah perjuangan. Tentang “ikatan lidah”, sebagian riwayat menyebutkan bahwa Musa kecil pernah memasukkan bara api ke mulutnya sehingga lisannya kurang fasih. Namun hikmah di balik itu adalah agar beliau bergantung sepenuhnya kepada pertolongan Allah.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa para nabi sekalipun tetap memohon pertolongan Allah sebelum menjalankan tugas besar.
Metode Dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun
Ketika diperintahkan mendakwahi Firaun, Allah juga memerintahkan agar Musa ditemani oleh Nabi Harun. Dalam Surah Taha ayat 44 disebutkan agar keduanya berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut (qaulan layyinan).
Metode dakwah mereka meliputi:
-
Pendekatan persuasif dan santun, meskipun kepada penguasa zalim.
-
Dialog rasional, menunjukkan bukti dan mukjizat.
-
Kesabaran dan keteguhan, meskipun mendapat penolakan keras.
-
Kolaborasi, Musa dan Harun bekerja bersama dalam misi dakwah.
Pelajaran Penting bagi Kita
Pertama, setiap tugas besar harus diawali dengan doa dan ketergantungan kepada Allah. Kedua, kelapangan hati adalah modal utama menghadapi tantangan. Ketiga, komunikasi yang jelas dan mudah dipahami adalah kunci keberhasilan dakwah maupun kepemimpinan. Keempat, kelembutan lebih efektif daripada kekerasan dalam menyampaikan kebenaran.
Doa Nabi Musa ini mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang kemampuan pribadi, tetapi tentang pertolongan Allah yang menyertai hamba-Nya yang tulus dan bersungguh-sungguh.