www.ibumengaji.com Fathonah, salah satu sifat utama Nabi Muhammad SAW, berarti kecerdasan luar biasa dan kebijaksanaan yang mendalam. Meski Nabi SAW dikenal sebagai seorang yang ummi, yaitu tidak dapat membaca dan menulis, beliau tetap memiliki kecerdasan yang luar biasa, yang justru menjadi bukti kuat bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan yang beliau miliki adalah wahyu dari Allah SWT. Fathonah tidak hanya merujuk pada kecerdasan intelektual, tetapi juga mencakup ketajaman berpikir, kemampuan memahami situasi dengan cepat, dan membuat keputusan yang tepat dalam segala situasi.
Sifat ummi Nabi SAW sebenarnya memperkuat posisi beliau sebagai utusan Allah. Dengan segala keterbatasan pendidikan formal, namun tetap mampu menyampaikan ajaran yang begitu mendalam dan sempurna, menunjukkan bahwa semua itu bukanlah hasil dari kemampuan manusia biasa, melainkan dari wahyu Ilahi. Fathonah pada diri Nabi SAW juga menegaskan bahwa Allah SWT memberikan kecerdasan dan hikmah yang luar biasa, sehingga Nabi SAW mampu memimpin umat dengan sempurna.
Banyak peristiwa yang menjadi bukti kecerdasan Nabi SAW. Salah satunya adalah ketika terjadi konflik antar suku di Mekkah tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya setelah renovasi Ka’bah. Dengan kebijaksanaan yang luar biasa, Nabi SAW mengusulkan agar Hajar Aswad diletakkan di atas kain, kemudian setiap pemimpin suku memegang ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama. Akhirnya, Nabi SAW sendiri yang menempatkan batu suci tersebut ke posisinya. Keputusan ini tidak hanya menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan pertikaian, tetapi juga menunjukkan kecerdasan sosial dan kemampuan memediasi yang luar biasa.
Contoh lain adalah dalam perjanjian Hudaibiyah, di mana Nabi SAW dengan cerdik menerima syarat-syarat yang sekilas tampak merugikan umat Islam. Namun, kesepakatan ini justru membuka jalan bagi perkembangan Islam yang lebih pesat. Kecerdasan Nabi SAW dalam membaca situasi dan berpikir jauh ke depan terbukti membawa manfaat besar bagi umat Islam.
Melalui sifat fathonah ini, Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa kecerdasan dan hikmah sejati tidak hanya berasal dari pengetahuan duniawi, tetapi juga dari pemahaman mendalam terhadap kebenaran Ilahi. Inilah yang membuat beliau menjadi panutan sempurna bagi umat manusia.