Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

3 Pilar Kemuliaan Menurut Abdul Malik bin Marwan

www.ibumengaji.com Di dalam kehidupan, hampir semua orang ingin menjadi besar: memiliki kedudukan yang tinggi, pengaruh yang luas, kekuatan, harta, atau penghormatan dari banyak orang. Namun tidak semua orang siap menghadapi ujian yang datang bersama kebesaran itu. Sebab sering kali manusia diuji bukan saat ia berada di bawah, melainkan ketika ia berada di atas. Jabatan dapat melahirkan kesombongan, kekuatan dapat memunculkan kezaliman, dan kemampuan membalas dapat menumbuhkan dendam. Karena itulah, perkataan bijak Khalifah Abdul Malik bin Marwan tentang rendah hati, memaafkan, dan berlaku adil menjadi nasihat yang terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Kalimatnya singkat, tetapi maknanya mampu menjadi cermin untuk menilai diri: apakah semakin tinggi kita melangkah, semakin baik pula akhlak yang kita miliki?

أَفْضَلُ الرِّجَالِ مَنْ تَوَاضَعَ عَنْ رِفْعَةٍ، وَعَفَا عَنْ قُدْرَةٍ، وَأَنْصَفَ عَنْ قُوَّةٍ

Artinya:

“Orang yang paling utama adalah yang rendah hati ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya, dan bersikap adil ketika kuat.”

Perkataan yang dinisbatkan kepada Abdul Malik bin Marwan ini mengandung pelajaran besar tentang karakter seorang pemimpin dan juga adab dalam kehidupan sehari-hari. Kalimatnya singkat, tetapi di dalamnya terdapat prinsip yang dapat membentuk manusia yang matang secara akhlak dan kuat secara kepribadian.

Abdul Malik bin Marwan adalah khalifah kelima dari Dinasti Umayyah. Beliau lahir sekitar tahun 646 M dan wafat pada tahun 705 M. Masa pemerintahannya berlangsung dari tahun 685 M hingga 705 M. Beliau memimpin pada masa yang cukup sulit karena dunia Islam saat itu sedang menghadapi berbagai gejolak politik, perpecahan, dan pemberontakan.

Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik dikenal sebagai seorang yang tekun dalam ilmu agama. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa beliau merupakan ahli fikih dan termasuk orang yang rajin beribadah di Masjid Nabawi. Namun setelah menjadi pemimpin, beliau berubah menjadi sosok negarawan yang tegas, cerdas, dan sangat terampil dalam mengelola pemerintahan.

Karakter kepemimpinan Abdul Malik bin Marwan memiliki beberapa ciri menonjol. Pertama, beliau memiliki ketegasan dalam menjaga stabilitas negara. Kedua, beliau memiliki visi besar dalam administrasi pemerintahan. Pada masanya dilakukan reformasi besar, seperti penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi negara serta pencetakan mata uang Islam sendiri. Ketiga, beliau memiliki kemampuan politik yang kuat dalam menyatukan kembali wilayah-wilayah Islam yang sebelumnya terpecah.

Nasihat beliau di atas tampaknya lahir dari pengalaman panjang memimpin manusia. Terdapat tiga pesan penting yang sangat dalam.

Pertama, “rendah hati ketika berkedudukan tinggi.” Ketika seseorang memiliki jabatan, kekayaan, atau pengaruh, muncul godaan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jabatan sering membuat seseorang ingin dihormati, didengar, bahkan diperlakukan secara istimewa. Padahal semakin tinggi pohon, semakin besar ia diterpa angin. Kerendahan hati menjaga manusia agar tidak terjatuh oleh kesombongan. Orang besar bukanlah orang yang membuat dirinya tampak besar, tetapi orang yang membuat orang lain merasa dihargai.

Kedua, “memaafkan ketika berdaya.” Memaafkan ketika tidak memiliki kemampuan membalas bukan sesuatu yang sulit. Namun memaafkan ketika kita memiliki kekuatan untuk membalas itulah kemuliaan yang sesungguhnya. Saat seseorang memiliki jabatan, kekuasaan, atau posisi yang kuat, ia mampu menghukum orang lain. Tetapi menggunakan kekuatan untuk memberi maaf sering kali menunjukkan kematangan jiwa yang lebih tinggi daripada sekadar membalas kesalahan.

Ketiga, “bersikap adil ketika kuat.” Keadilan paling berat diuji ketika seseorang memiliki kekuasaan. Ketika kuat, seseorang bisa memihak orang yang disukai dan menekan orang yang dibenci. Karena itu, keadilan menjadi ukuran sejati dari kemuliaan seseorang. Kekuatan tanpa keadilan dapat berubah menjadi kezaliman.

Lalu bagaimana agar nasihat ini mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?

Pertama, biasakan menghargai semua orang tanpa melihat jabatan atau statusnya. Sapa orang dengan baik, dengarkan pendapat mereka, dan jangan merasa diri lebih penting.

Kedua, tahan keinginan untuk membalas ketika marah. Berikan jeda sebelum merespons kesalahan orang lain. Kadang-kadang memaafkan bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kedewasaan.

Ketiga, biasakan membuat keputusan berdasarkan kebenaran, bukan kedekatan. Mulailah dari hal-hal kecil seperti bersikap adil kepada anak, teman, pasangan, atau rekan kerja.

Pada akhirnya, manusia sering diuji bukan ketika lemah, melainkan ketika kuat. Saat tidak memiliki apa-apa, banyak orang tampak baik. Namun saat memiliki jabatan, harta, dan kekuasaan, karakter asli seseorang mulai terlihat. Nasihat Abdul Malik bin Marwan mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan pada seberapa baik ia memperlakukan manusia ketika berada di posisi tinggi itu.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments