www.ibumengaji.com Kita sering mengira bahwa ujian adalah sesuatu yang menyakitkan: kehilangan harta, sakit, kegagalan, masalah keluarga, atau berbagai musibah yang membuat hati bersedih. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: ujian tidak selalu berbentuk kesulitan. Kenikmatan pun merupakan ujian.
Allah Ta’ala berfirman:
وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya’: 35)
Ayat ini mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Kesulitan bukan satu-satunya bentuk ujian. Kelapangan, kesehatan, kekayaan, keberhasilan, kedudukan, keluarga, ilmu, dan berbagai kenikmatan juga merupakan bagian dari ujian Allah.
Kelapangan dan Kesulitan, Keduanya Ujian
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menukil penjelasan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat tersebut:
بِالرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ وَكِلَاهُمَا بَلَاءٌ
“Yaitu dengan kelapangan dan kesulitan, dan keduanya merupakan cobaan.”
📚 Jami’ul Bayan, 18/440.
Inilah hakikat yang sering kita lupakan.
Kemiskinan menguji kesabaran. Kekayaan menguji kesyukuran.
Kegagalan menguji keteguhan. Keberhasilan menguji kerendahan hati.
Keterbatasan menguji kesabaran. Kelapangan menguji amanah.
Karena itu, tidak semua yang terasa berat berarti buruk, dan tidak semua yang terasa menyenangkan berarti baik.
Yang menjadi ukuran bukan hanya apa yang terjadi kepada kita, tetapi bagaimana kita menyikapi apa yang terjadi di hadapan Allah.
Ketika Nikmat Menjadi Ujian
Ada ujian yang datang secara halus sehingga sering tidak kita sadari: nikmat.
Ketika memperoleh rezeki yang luas, apakah kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin sibuk mengejar dunia?
Ketika mendapatkan jabatan, apakah kita semakin amanah atau mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Ketika memiliki ilmu, apakah kita semakin rendah hati atau semakin mudah merendahkan orang lain?
Ketika diberikan kesehatan, apakah tubuh digunakan untuk beribadah dan melakukan kebaikan, atau justru untuk bermaksiat?
Itulah sebabnya nikmat tidak cukup hanya dinikmati. Nikmat harus dipertanggungjawabkan.
Allah berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)
Maka, semakin banyak nikmat yang kita terima, semakin besar pula pertanyaan yang harus kita jawab: untuk apa nikmat itu digunakan?
Ketika Musibah Menjadi Jalan Kebaikan
Sebaliknya, kesulitan dapat menjadi jalan seseorang semakin dekat kepada Allah.
Musibah memang terasa berat. Kita boleh menangis, bersedih, dan merasa kehilangan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi orang yang tidak memiliki perasaan.
Namun seorang mukmin belajar untuk tidak membiarkan kesedihan mengantarkannya kepada keputusasaan.
Ia bersabar, berdoa, berikhtiar, dan tetap berbaik sangka kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya.”
Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila mendapatkan kesusahan, ia bersabar sehingga itu pun menjadi kebaikan baginya.
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan keseimbangan luar biasa dalam kehidupan seorang mukmin. Ia tidak hanya mengenal sabar, tetapi juga syukur.
Tiga Respons Seorang Mukmin
Dari sini kita dapat belajar bahwa kehidupan seorang mukmin seharusnya dibangun di atas tiga sikap.
Pertama, bersyukur ketika mendapatkan nikmat.
Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Syukur berarti mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah, memuji-Nya, dan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan yang diridai-Nya.
Kedua, bersabar ketika mendapatkan kesulitan.
Sabar bukan berarti menyerah. Sabar berarti tetap berada dalam ketaatan sambil terus berikhtiar mencari jalan keluar.
Ketiga, beristighfar ketika melakukan kesalahan.
Sebab manusia tidak luput dari dosa. Ketika terjatuh, jangan menjauh dari Allah. Justru kembalilah kepada-Nya dengan taubat.
Dengan demikian, seorang mukmin memiliki sikap untuk setiap keadaan: syukur ketika diberi, sabar ketika diuji, dan istighfar ketika bersalah.
Jangan Hanya Meminta Hidup Tanpa Ujian
Kita tentu boleh memohon kepada Allah agar dijauhkan dari musibah. Kita bahkan dianjurkan memohon keselamatan dan kesehatan.
Namun kita juga perlu menyadari bahwa selama hidup, manusia akan selalu berhadapan dengan berbagai bentuk ujian.
Karena itu, jangan hanya berdoa agar Allah menghilangkan ujian. Mintalah pula agar Allah memberikan kekuatan iman untuk melewatinya.
Sebab terkadang yang perlu berubah bukan keadaan kita, tetapi cara kita memandang keadaan tersebut.
Kesulitan dapat menjadi jalan menuju kesabaran.
Kenikmatan dapat menjadi jalan menuju kesyukuran.
Kesalahan dapat menjadi jalan menuju taubat.
Dan semua itu dapat menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah.
Apa yang Sedang Allah Uji dari Kita?
Ketika mendapatkan kesulitan, jangan hanya bertanya:
“Mengapa Allah memberikan ini kepadaku?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui keadaan ini?”
Ketika mendapatkan kenikmatan, jangan hanya berkata:
“Betapa beruntungnya aku.”
Tetapi tanyakan:
“Sudahkah aku menggunakan nikmat ini untuk mendekat kepada Allah?”
Karena sesungguhnya hidup bukan tentang seberapa sedikit ujian yang kita hadapi. Hidup adalah tentang seberapa baik kita melewati setiap ujian dengan tetap menjaga iman.
Hari ini mungkin kita sedang diuji dengan kesulitan. Esok mungkin kita diuji dengan kelapangan.
Hari ini mungkin kita sedang menangis karena kehilangan. Esok mungkin kita justru menangis karena mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan.
Keduanya adalah ujian.
Maka, jangan hanya takut ketika musibah datang. Berhati-hatilah pula ketika nikmat datang.
Sebab terkadang manusia mampu bertahan ketika diuji dengan kesulitan, tetapi justru lalai ketika diuji dengan kenikmatan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang bersyukur ketika diberi, bersabar ketika diuji, dan segera kembali ketika melakukan kesalahan.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَنَفْسًا صَابِرَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًا
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keselamatan dan afiat. Kami memohon kepada-Mu hati yang bersyukur, jiwa yang sabar, dan taubat yang tulus.”
Sebab pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan kehidupan tanpa ujian, tetapi pertolongan Allah agar mampu melewati setiap ujian dengan selamat.