www.ibumengaji.com Ayat ini tidak memiliki asbabun nuzul dalam arti sebab khusus turunnya ayat karena peristiwa tertentu di masa Nabi Muhammad ﷺ. Namun, ayat ini menceritakan peristiwa primordial, yaitu dialog antara Allah SWT dan Iblis ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihis salam sebagai bentuk penghormatan, bukan ibadah.
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Artinya:“Ia (Iblis) berkata, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’”
(QS. Al-A‘raf: 12)
Seluruh malaikat taat melaksanakan perintah tersebut, kecuali Iblis. Ia menolak karena merasa dirinya lebih unggul. Penolakannya bukan karena tidak mengetahui perintah, tetapi karena kesombongan dan pembangkangan yang bersumber dari rasa superioritas.
Tafsir dan Makna Ayat
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kesalahan Iblis bukan sekadar tidak sujud, melainkan karena ia melakukan qiyas (analogi) yang keliru. Ia membandingkan unsur penciptaannya—api—dengan tanah yang menjadi asal penciptaan Adam. Menurutnya, api lebih mulia daripada tanah karena api bersifat naik, bercahaya, dan aktif; sementara tanah dianggap rendah dan pasif.
Namun logika ini keliru. Kemuliaan tidak ditentukan oleh bahan penciptaan, tetapi oleh ketaatan dan ketakwaan. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Adam dimuliakan karena ilmu dan ketaatannya, bukan karena unsur tanahnya.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa kesombongan adalah akar kekufuran Iblis. Ia bukan tidak percaya kepada Allah, tetapi ia membangkang terhadap perintah-Nya. Inilah bentuk kesombongan spiritual yang sangat berbahaya.
Dampak Negatif Sifat Merasa Lebih Baik dari Orang Lain
Sikap merasa lebih unggul atau superioritas memiliki dampak negatif yang luas, baik secara spiritual, sosial, maupun psikologis.
Pertama, secara spiritual, kesombongan menghalangi seseorang dari ketaatan yang tulus. Orang yang sombong sulit menerima nasihat, karena ia merasa sudah benar dan lebih tahu. Dalam hadis disebutkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.
Kedua, secara sosial, sikap merasa lebih baik akan merusak hubungan antarmanusia. Ia menumbuhkan sikap merendahkan, meremehkan, dan memandang orang lain tidak berharga. Ini menjadi bibit konflik, perpecahan, dan hilangnya harmoni dalam masyarakat.
Ketiga, secara psikologis, kesombongan sering kali menutupi kelemahan batin. Orang yang merasa superior cenderung defensif dan sulit berkembang, karena ia menolak kritik dan evaluasi diri. Akibatnya, pertumbuhan pribadi menjadi terhambat.
Keempat, secara moral, sikap ini melahirkan diskriminasi dan ketidakadilan. Dalam sejarah manusia, banyak penindasan terjadi karena satu kelompok merasa lebih tinggi dari yang lain, baik karena ras, status sosial, kekayaan, maupun jabatan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah asal-usul, materi, jabatan, ataupun kelebihan lahiriah, melainkan ketaatan dan ketakwaan. Kesombongan adalah penyakit hati yang dapat menggugurkan amal dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.
Sebaliknya, kerendahan hati membuka pintu ilmu, mempererat persaudaraan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kisah Iblis menjadi peringatan abadi agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama: merasa lebih baik, lalu menolak kebenaran.
Dengan memahami ayat ini secara mendalam, kita diajak untuk senantiasa melakukan muhasabah, membersihkan hati, dan membangun sikap tawadhu’ dalam kehidupan sehari-hari.