www.ibumengaji.com Dalam perjalanan hidup, setiap manusia diuji dengan keadaan yang berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada pula yang diuji dengan kelapangan. Namun menariknya, tidak semua orang yang hidupnya sulit dipenuhi keluhan, dan tidak semua yang hidupnya berkecukupan dipenuhi rasa syukur. Di sinilah pentingnya memahami dua sikap utama dalam Islam: syukur dan tawakal.
1. Hakikat Syukur
Syukur adalah kesadaran hati bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Nikmat itu tidak selalu berupa harta atau jabatan. Kesehatan, keluarga, kesempatan belajar, bahkan udara yang kita hirup adalah karunia yang sering luput dari perhatian. Syukur memiliki tiga unsur utama: di hati (meyakini nikmat dari Allah), di lisan (mengucapkan pujian kepada-Nya), dan di perbuatan (menggunakan nikmat untuk kebaikan).
Dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Ibrahim ayat 7, Allah menegaskan bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Tambahan ini tidak selalu berbentuk materi, tetapi bisa berupa ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup. Orang yang bersyukur cenderung fokus pada apa yang ia miliki, bukan pada apa yang belum ia capai. Inilah yang membuat hidupnya terasa lebih ringan dan damai.
2. Hakikat Tawakal (Berserah Diri)
Tawakal sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan doa. Seseorang bekerja keras, merencanakan dengan matang, lalu menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada.
Dalam Surah At-Talaq ayat 3 disebutkan bahwa barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Kecukupan di sini mencakup kebutuhan lahir maupun batin. Tawakal melahirkan ketenangan karena seseorang yakin bahwa Allah Maha Mengatur dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
3. Mengapa Syukur dan Tawakal Membawa Kebahagiaan?
Pertama, syukur menghilangkan iri dan keluhan. Ketika seseorang terbiasa melihat sisi positif dalam hidupnya, ia tidak mudah membandingkan diri secara negatif dengan orang lain. Ia merasa cukup dan terhindar dari penyakit hati.
Kedua, tawakal mengurangi kecemasan berlebihan. Banyak kegelisahan muncul karena kita ingin mengendalikan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kuasa kita. Dengan tawakal, seseorang sadar bahwa tugasnya adalah berusaha, sementara hasil adalah hak Allah.
Ketiga, perpaduan syukur dan tawakal membentuk mental yang tangguh. Saat mendapat nikmat, ia tidak sombong karena sadar itu pemberian Allah. Saat mendapat ujian, ia tidak putus asa karena yakin ada hikmah di baliknya.
4. Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Syukur dapat dilatih dengan membiasakan diri mencatat nikmat setiap hari dan memperbanyak ucapan alhamdulillah. Tawakal dapat dilatih dengan memperbaiki kualitas ikhtiar dan memperbanyak doa, lalu belajar menerima hasil tanpa protes berlebihan.
Pada akhirnya, perbedaan antara hidup yang penuh keluhan dan hidup yang penuh ketenangan terletak pada cara pandang. Syukur menjadikan hati kaya, dan tawakal menjadikan jiwa kokoh. Dengan keduanya, seseorang mampu menjalani kehidupan dengan lebih tenang, optimis, dan bahagia, apa pun kondisi yang sedang dihadapinya.