www.ibumengaji.com Dalam mempelajari agama, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu mendahulukan pemahaman daripada sekadar hafalan. Ilmu yang hakiki bukan hanya sesuatu yang tersimpan dalam ingatan, melainkan ilmu yang dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan. Hafalan tetap penting, tetapi pemahaman membuat ilmu lebih bermakna dan mampu membimbing seseorang mengambil keputusan yang benar.
Allah SWT menjelaskan pentingnya memperdalam ilmu agama dalam QS. At-Taubah ayat 122:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa mempelajari agama tidak cukup hanya dengan mengumpulkan pengetahuan. Umat Islam membutuhkan orang-orang yang mendalami ajaran agama agar mampu menjelaskan, membimbing, dan mengingatkan masyarakat. Dengan demikian, ilmu menjadi petunjuk yang membantu manusia menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberikan pemahaman kepadanya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan keutamaan pemahaman agama. Dalam konteks ini, fiqh tidak sekadar berarti mengetahui atau menghafal suatu ketentuan, tetapi juga memahami makna, tujuan, dan penerapannya secara tepat. Orang yang memahami agama diharapkan mampu melihat persoalan dengan lebih jernih serta menerapkan ajaran Islam sesuai dengan keadaan dan ketentuan syariat.
Perumpamaan Ilmu seperti Air Hujan
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengumpamakan petunjuk dan ilmu yang beliau bawa seperti hujan yang menyirami tanah. Tanah yang subur menyerap air dan menumbuhkan tanaman. Tanah lain mampu menampung air sehingga dapat dimanfaatkan manusia. Sementara itu, tanah yang tandus tidak menyerap air dan tidak menumbuhkan tanaman.
Perumpamaan tersebut menggambarkan tiga kelompok manusia dalam menerima ilmu.
Pertama, orang yang memahami ilmu, mengambil manfaat darinya, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain. Mereka seperti tanah subur yang menghasilkan tanaman sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Kedua, orang yang mampu menghafal dan menyampaikan ilmu, meskipun pemahamannya belum mendalam. Mereka seperti tanah yang menampung air sehingga orang lain dapat mengambil manfaat darinya. Kelompok ini tetap memiliki kedudukan penting karena hafalan mereka membantu menjaga dan menyebarkan pengetahuan.
Ketiga, orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu, baik melalui pemahaman maupun penyampaian. Mereka seperti tanah tandus yang tidak menyerap air dan tidak menghasilkan tanaman.
Perumpamaan ini mengajarkan bahwa ilmu seharusnya menghasilkan manfaat. Memahami, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu merupakan rangkaian yang saling melengkapi. Namun, kemampuan menghafal dan menyampaikan pengetahuan juga tidak boleh diremehkan karena menjadi bagian penting dalam menjaga warisan ilmu.
Hafalan adalah Sarana, Bukan Tujuan Akhir
Mendahulukan pemahaman bukan berarti merendahkan hafalan. Menghafal Al-Qur’an, hadis, dan berbagai kaidah keilmuan merupakan usaha mulia. Hafalan membantu seseorang menyimpan informasi, mengingat dalil, dan menyampaikan pengetahuan kepada orang lain.
Akan tetapi, hafalan seharusnya menjadi sarana untuk mencapai pemahaman yang lebih baik. Seseorang yang hafal suatu ayat atau hadis perlu berusaha memahami maknanya, konteksnya, serta cara menerapkannya secara benar.
Karena itu, penghargaan terhadap penghafal Al-Qur’an patut dipertahankan. Pada saat yang sama, perhatian juga perlu diberikan kepada mereka yang mendalami tafsir, hadis, fikih, usul fikih, akidah, dan dakwah. Berbagai bidang tersebut diperlukan agar umat Islam tidak hanya mampu mengingat ajaran agama, tetapi juga memahami dan mengamalkannya secara tepat.
Membangun Pendidikan yang Mengutamakan Pemahaman
Prinsip ini juga relevan bagi dunia pendidikan. Pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan dan ujian dapat membuat peserta didik mengingat materi untuk sementara, kemudian melupakannya setelah ujian selesai.
Sebaliknya, pembelajaran yang menekankan pemahaman, diskusi, contoh nyata, dan penerapan akan membantu peserta didik menghubungkan ilmu dengan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak hanya mengetahui jawaban, tetapi juga memahami alasan di balik jawaban tersebut.
Dalam pendidikan agama, misalnya, peserta didik tidak cukup menghafal dalil tentang kejujuran. Mereka perlu memahami pentingnya kejujuran dan membiasakannya dalam perkataan, transaksi, serta hubungan sosial.
Kesimpulannya, pemahaman harus menjadi prioritas dalam menuntut ilmu, tanpa mengabaikan pentingnya hafalan. Hafalan menyimpan pengetahuan, sedangkan pemahaman membantu mengolah dan menerapkannya. Ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah ilmu yang tidak berhenti di dalam ingatan, tetapi membentuk cara berpikir, memperbaiki perilaku, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan demikian, belajar agama bukan sekadar mengetahui ajaran Islam, melainkan memahami, mengamalkan, dan menyebarkannya dengan bijaksana.