www.ibumengaji.com Banyak orang begitu berhati-hati ketika memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mereka memeriksa apakah makanan itu halal, apakah sudah kedaluwarsa, apakah bersih, dan apakah baik bagi kesehatan. Bahkan, tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang lebih banyak demi mendapatkan makanan yang sehat dan berkualitas.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Kita begitu berhati-hati terhadap apa yang masuk ke dalam mulut, tetapi kurang berhati-hati terhadap apa yang keluar darinya.
Kita bisa sangat selektif memilih makanan, tetapi mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Kita takut keracunan makanan, tetapi tidak terlalu khawatir ketika ucapan kita meracuni suasana, merusak persaudaraan, bahkan melukai hati seseorang.
Padahal, dampak ucapan terkadang jauh lebih panjang daripada dampak makanan yang kita konsumsi.
Lisan Kecil, tetapi Dampaknya Bisa Sangat Besar
Lisan merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang harus disyukuri sekaligus dijaga. Melalui lisan, manusia dapat membaca Al-Qur’an, berdzikir, menyampaikan ilmu, memberikan nasihat, menghibur orang yang sedang bersedih, dan menyebarkan kebaikan.
Namun, melalui lisan pula seseorang bisa berbohong, memfitnah, menggunjing, mencela, menghina, mengadu domba, bahkan menyebarkan kebencian.
Allah SWT mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia tidak pernah luput dari pengawasan-Nya.
Allah berfirman dalam QS. Qaf ayat 18:
وَمَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa ucapan bukanlah sesuatu yang sepele. Setiap perkataan dicatat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Mungkin manusia bisa melupakan apa yang pernah kita katakan. Mungkin orang yang kita sakiti tidak berani mengungkapkan perasaannya. Namun, tidak ada satu pun ucapan yang luput dari catatan Allah SWT.
Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu disampaikan? Apakah cara penyampaiannya akan menyakiti orang lain?
Berkata Baik atau Lebih Baik Diam
Rasulullah ﷺ memberikan pedoman yang sangat sederhana, tetapi luar biasa dalam menjaga lisan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas keimanan seseorang juga tercermin dari cara ia menggunakan lisannya.
Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua informasi harus disebarkan. Tidak semua perbedaan pendapat harus dibalas dengan perdebatan. Dan tidak semua kemarahan harus dilampiaskan melalui kata-kata.
Diam bukan berarti tidak memiliki pendapat. Diam justru bisa menjadi pilihan bijaksana ketika perkataan yang akan disampaikan tidak membawa manfaat.
Sebaliknya, berkata baik bukan sekadar mengucapkan kalimat yang terdengar sopan. Termasuk di dalamnya adalah berkata jujur, memberikan nasihat dengan santun, menyampaikan kritik secara bijaksana, dan menjaga perasaan orang lain.
Satu Ucapan Bisa Mengangkat atau Menjatuhkan Derajat
Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan betapa besar pengaruh sebuah ucapan dalam kehidupan manusia.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang bisa mengucapkan suatu perkataan yang diridhai Allah tanpa menyadari besarnya nilai perkataan tersebut, tetapi Allah mengangkat derajatnya karenanya.
Sebaliknya, seseorang bisa mengucapkan suatu perkataan yang dimurkai Allah tanpa menganggapnya berbahaya, tetapi perkataan itu justru menjerumuskannya ke dalam neraka.
Pesan hadis ini sangat dalam. Terkadang kita menganggap sebuah kalimat hanya sebagai candaan, komentar spontan, atau ungkapan biasa. Namun, bagi orang yang mendengarnya, kalimat tersebut bisa menjadi luka yang membekas bertahun-tahun.
Ucapan yang merendahkan seseorang di depan banyak orang, misalnya, mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk disampaikan. Namun, rasa malu dan sakit hati yang ditimbulkannya bisa berlangsung sangat lama.
Sebaliknya, satu kalimat penyemangat bisa mengembalikan kepercayaan diri seseorang yang hampir menyerah.
Karena itu, jangan pernah meremehkan kekuatan kata-kata.
Jangan Sampai Kebaikan Rusak karena Lisan
Allah SWT memberikan peringatan agar orang beriman tidak merusak amal kebaikannya dengan perilaku yang menyakiti orang lain.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 263, Allah berfirman:
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
Artinya:
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun.”
Ayat ini mengingatkan bahwa kebaikan tidak cukup hanya diwujudkan melalui tindakan, tetapi juga harus disertai akhlak yang baik.
Seseorang mungkin rajin bersedekah, membantu tetangga, aktif dalam kegiatan sosial, bahkan tekun beribadah. Namun, jika lisannya gemar merendahkan, mencela, dan menyakiti orang lain, ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam akhlaknya.
Jangan sampai tangan kita ringan memberikan bantuan, tetapi lisan kita berat memberikan penghargaan. Jangan sampai kita mudah mengeluarkan uang untuk membantu orang lain, tetapi sulit mengeluarkan kata-kata yang menenangkan hati mereka.
Melatih Diri agar Lebih Berhati-hati dalam Berbicara
Menjaga lisan memang tidak selalu mudah. Terlebih ketika sedang marah, kecewa, tersinggung, atau menghadapi perbedaan pendapat.
Namun, kebiasaan ini bisa dilatih melalui beberapa langkah sederhana.
Pertama, biasakan berpikir sebelum berbicara. Jangan biarkan emosi mengambil alih kendali lisan.
Kedua, hindari membicarakan keburukan orang lain. Jika tidak ada kepentingan yang dibenarkan, lebih baik tidak ikut menyebarkannya.
Ketiga, biasakan menyampaikan kritik dengan santun. Tujuan kritik adalah memperbaiki, bukan mempermalukan.
Keempat, perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an. Lisan yang terbiasa digunakan untuk mengingat Allah akan lebih mudah diarahkan kepada perkataan yang baik.
Kelima, segera meminta maaf apabila ucapan kita ternyata menyakiti orang lain. Jangan mempertahankan kesalahan hanya karena gengsi.
Penutup: Jagalah Apa yang Masuk dan Apa yang Keluar dari Mulut
Menjaga makanan yang masuk ke dalam mulut memang penting karena berkaitan dengan kesehatan tubuh. Namun, menjaga ucapan yang keluar dari mulut tidak kalah penting karena berkaitan dengan keselamatan diri, kehormatan orang lain, dan kualitas keimanan.
Makanan yang tidak sehat bisa merusak tubuh. Sementara itu, ucapan yang tidak terjaga bisa merusak persahabatan, menghancurkan rumah tangga, memecah persaudaraan, bahkan menjadi sebab datangnya dosa.
Mari kita mulai lebih berhati-hati. Jangan hanya memeriksa kehalalan makanan sebelum memakannya, tetapi periksa pula kebaikan perkataan sebelum mengucapkannya.
Sebab, mulut bukan hanya pintu masuk makanan bagi tubuh, tetapi juga pintu keluar perkataan yang menentukan kualitas akhlak seseorang.
Semoga Allah membimbing kita menjadi pribadi yang mampu menjaga lisan, memperbanyak perkataan yang bermanfaat, dan menjadikan setiap ucapan sebagai jalan menuju kebaikan.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ