Yayasan Ibu Indonesia Mengaji

Mengenali Sifat Asli Seseorang: Lihat Cara Ia Memperlakukan Orang Lain

www.ibumengaji.com Mengenal seseorang tidak cukup hanya dengan mendengar apa yang ia katakan tentang dirinya. Seseorang dapat terlihat ramah ketika bertemu, pandai berbicara di depan banyak orang, dan mampu memberikan kesan yang baik. Namun, karakter yang sesungguhnya sering kali terlihat bukan dari perkataannya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Terutama ketika ia berhadapan dengan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan apa pun kepadanya.

Di situlah karakter sering berbicara lebih jujur daripada kata-kata.

1. Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang dianggap tidak penting

Perhatikan cara seseorang berbicara kepada orang yang memiliki posisi lebih rendah darinya. Apakah ia tetap sopan kepada petugas kebersihan, pelayan, bawahan, orang lanjut usia, atau orang yang sedang mengalami kesulitan?

Orang yang memiliki akhlak baik tidak menentukan nilai seseorang berdasarkan jabatan, kekayaan, pendidikan, atau kedudukannya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh mengukur kemuliaan seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak di mata manusia.

2. Perhatikan sikapnya ketika keinginannya ditolak

Karakter seseorang juga terlihat ketika ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

Ketika permintaannya ditolak, apakah ia tetap menghargai orang lain? Ataukah ia menjadi kasar, marah, merendahkan, bahkan memutus hubungan?

Mudah bersikap baik ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan. Tetapi mempertahankan adab ketika kecewa membutuhkan kematangan jiwa.

Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana seseorang bersikap ketika memperoleh apa yang ia inginkan. Lihat pula bagaimana ia bersikap ketika keinginannya tidak terpenuhi.

3. Lihat bagaimana ia berbicara tentang orang yang tidak hadir

Salah satu cermin karakter adalah pembicaraan tentang orang lain ketika orang tersebut tidak berada di hadapannya.

Jika seseorang terbiasa membuka aib, merendahkan, mencela, atau menceritakan keburukan orang lain, kita patut berhati-hati. Sebab bukan tidak mungkin suatu hari kita menjadi bahan pembicaraannya ketika kita tidak berada di sana.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai.
(HR. Muslim)

Menjaga lisan karena tidak ingin menyakiti kehormatan orang lain merupakan salah satu tanda kematangan akhlak.

4. Lihat bagaimana ia menggunakan kekuasaan

Jabatan, harta, ilmu, dan pengaruh merupakan ujian.

Ketika seseorang memiliki kekuasaan, apakah ia semakin rendah hati atau justru semakin suka merendahkan? Apakah ia menggunakan posisinya untuk membantu atau untuk menekan?

Seseorang yang benar-benar berkarakter baik tidak membutuhkan jabatan untuk membuat dirinya merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata buruk.”
(HR. Tirmidzi)

Kedudukan yang tinggi seharusnya melahirkan tanggung jawab yang lebih besar, bukan kesombongan yang lebih besar.

5. Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang sedang membutuhkan

Karakter seseorang sering terlihat ketika ada orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

Apakah ia membantu tanpa banyak menghitung keuntungan? Apakah ia mampu memberikan waktu, perhatian, tenaga, atau sekadar kata-kata yang menenangkan?

Kebaikan yang dilakukan ketika tidak ada keuntungan pribadi sering kali menjadi kebaikan yang paling jujur.

Allah berfirman:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”
(QS. Al-Hasyr: 9)

Jangan terburu-buru menghakimi

Meski demikian, mengenali karakter seseorang tidak berarti kita boleh menghakimi seseorang hanya berdasarkan satu kejadian.

Setiap manusia dapat lelah, marah, salah bicara, atau melakukan kesalahan. Yang lebih penting adalah pola perilakunya: apakah ia mau memperbaiki diri, meminta maaf, belajar dari kesalahan, dan kembali kepada akhlak yang baik?

Karakter bukan hanya terlihat dari bagaimana seseorang bersikap ketika keadaan menyenangkan. Karakter justru lebih jelas ketika ia kecewa, marah, memiliki kekuasaan, menghadapi orang yang berbeda pendapat, atau berhadapan dengan orang yang tidak dapat memberinya keuntungan.

Penutup

Jika ingin mengenal seseorang lebih dalam, jangan hanya mendengarkan bagaimana ia menggambarkan dirinya. Perhatikan bagaimana ia memperlakukan manusia di sekitarnya.

Lihat caranya berbicara kepada orang yang lebih lemah. Lihat sikapnya ketika ditolak. Lihat lisannya ketika orang lain tidak hadir. Lihat perilakunya ketika memiliki kekuasaan. Dan lihat kepeduliannya ketika orang lain membutuhkan bantuan.

Namun, sebelum menggunakan semua itu untuk menilai orang lain, ada pertanyaan yang lebih penting untuk diri kita sendiri:

“Jika orang lain ingin mengenal sifat asliku dari caraku memperlakukan mereka, apakah mereka akan menemukan akhlak yang baik?”

Sebab bisa jadi, cara kita memperlakukan orang lain bukan hanya sedang memperlihatkan siapa diri kita kepada mereka, tetapi juga sedang menunjukkan siapa diri kita di hadapan Allah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments