www.ibumengaji.com Dalam membaca Al-Qur’an, salah satu aspek penting yang harus dipahami oleh setiap Muslim adalah tajwid, yaitu ilmu untuk mengatur cara pengucapan huruf-huruf Arab dengan benar. Salah satu bagian penting dalam tajwid adalah mad, yaitu bacaan panjang. Pemahaman yang baik terhadap mad akan membuat bacaan Al-Qur’an menjadi lebih indah, sesuai aturan, dan bernilai ibadah.
Secara bahasa, mad berarti “memanjangkan”. Sedangkan secara istilah dalam ilmu tajwid, mad adalah memanjangkan suara huruf tertentu karena adanya sebab tertentu, baik secara asli maupun tambahan. Huruf-huruf yang menjadi dasar terjadinya mad disebut huruf mad, yaitu: alif (ا) yang didahului fathah, wawu (و) yang didahului dhammah, dan ya’ (ي) yang didahului kasrah.
Dalam pembagiannya, mad terbagi menjadi dua: mad asli dan mad far’i.
1. Mad Ashli (Mad Thabi’i)
Mad asli adalah bacaan panjang yang terjadi secara alami tanpa sebab tambahan apa pun. Disebut juga mad thabi’i karena panjangnya adalah sepanjang normal atau “alami”, yakni dua harakat (seperti dua ketukan). Mad ini terjadi ketika ada salah satu huruf mad (ا، و، ي) yang tidak diikuti oleh hamzah atau sukun setelahnya.
Contohnya:
-
﴿الْكِتَابُ﴾ – kata al-kitaabu mengandung mad thabi’i karena huruf alif setelah ta berharakat fathah.
-
﴿فِيهِ﴾ – huruf ya’ setelah fa berharakat kasrah.
Mad ini wajib dibaca panjang dua harakat, tidak boleh kurang atau lebih, karena merupakan standar bacaan yang menjadi dasar dari mad-mad lainnya.
2. Mad Far’i
Mad far’i adalah bacaan panjang yang terjadi karena adanya sebab tambahan, seperti adanya hamzah atau sukun setelah huruf mad. Panjang bacaannya bisa lebih dari dua harakat, tergantung jenisnya. Mad far’i ini sangat banyak cabangnya, namun salah satu yang sering ditemui dalam bacaan sehari-hari adalah mad ‘aridh lissukun.
Mad ‘Aridh Lissukun
Secara bahasa, ‘aridh artinya “yang bersifat sementara”, dan lissukun berarti “karena sukun”. Jadi, mad ‘aridh lissukun adalah mad yang terjadi karena adanya huruf mad yang diikuti oleh huruf yang disukunkan karena waqaf (berhenti). Artinya, sukun di sini bukan sukun asli, melainkan sukun karena berhenti membaca pada akhir kalimat atau ayat.
Contohnya:
-
﴿الرَّحِيمِ﴾ – saat dibaca sambung, huruf “mim” di akhir dibaca kasrah. Namun ketika kita berhenti (waqaf), huruf mim dibaca sukun. Maka huruf ya’ sebelumnya menjadi mad ‘aridh lissukun.
Panjang bacaan mad ini fleksibel, bisa dibaca 2, 4, atau 6 harakat, namun yang paling utama adalah memilih salah satu panjang dan konsisten dalam penggunaannya. Para qari’ sering memilih membaca 4 atau 6 harakat karena mengikuti riwayat bacaan yang lebih kuat.
Penutup
Memahami bacaan mad dalam membaca Al-Qur’an bukan hanya soal teknis membaca, melainkan juga menunjukkan kecintaan dan ketelitian dalam memuliakan kalam Allah. Dengan mengetahui perbedaan antara mad asli dan mad far’i, serta mengerti contoh dan hukum bacanya seperti pada mad ‘aridh lissukun, kita dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih khusyuk dan benar sesuai kaidah tajwid. Ini juga menjadi bagian dari menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ