www.ibumengaji.com Al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan biasa, melainkan firman Allah SWT yang diturunkan sebagai pedoman hidup umat manusia. Oleh karena itu, ketika membacanya kita diperintahkan untuk melakukannya dengan penuh ketelitian, keindahan, dan adab. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Muzzammil ayat 4: “Warattilil-Qur’āna tartīlā” yang artinya, “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
Makna tartil dalam ayat ini dijelaskan oleh para ulama sebagai membaca Al-Qur’an dengan perlahan, jelas, tenang, dan sesuai dengan kaidah bacaan. Imam Ali bin Abi Thalib menafsirkan tartil sebagai “membaguskan huruf-hurufnya dan mengetahui tempat berhentinya (waqaf).” Artinya, tartil tidak hanya menyangkut keindahan suara, tetapi juga kedisiplinan mengikuti aturan bacaan yang telah ditetapkan. Inilah yang kemudian kita kenal dalam kajian ilmu tajwid.
Definisi dan Ruang Lingkup Ilmu Tajwid
Secara bahasa, tajwid berasal dari kata jawwada–yujawwidu–tajwīdan yang berarti membaguskan atau membuat sesuatu menjadi baik. Adapun secara istilah, para ulama mendefinisikannya sebagai ilmu yang mempelajari cara melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an sesuai dengan makhraj (tempat keluar) dan sifatnya, serta hukum-hukum bacaan yang menyertainya. Dengan kata lain, tajwid adalah sarana agar kita mampu membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan kepada Rasulullah SAW.
Ruang lingkup ilmu tajwid sangat luas, meliputi pengenalan makhraj huruf, sifat huruf, hukum nun mati dan tanwin, mim mati, mad, serta berbagai macam idgham, ikhfa, iqlab, dan hukum waqaf. Di antara pembahasan penting dalam tajwid adalah tentang idgham.
Makna Idgham
Kata idgham secara bahasa berarti memasukkan atau meleburkan. Dalam ilmu tajwid, idgham diartikan sebagai meleburkan suatu huruf ke dalam huruf sesudahnya sehingga keduanya menjadi seperti satu huruf yang bertasydid. Idgham dapat terjadi dalam berbagai kondisi, seperti pada hukum nun mati dan tanwin, maupun dalam pertemuan antarhuruf tertentu.
Idgham Mutajanissain: Makna dan Cara Membaca
Salah satu bentuk idgham adalah idgham mutajanissain. Secara bahasa, mutajanissain berasal dari kata jins yang berarti jenis. Maka, mutajanissain bermakna dua huruf yang sejenis. Dalam ilmu tajwid, idgham mutajanissain adalah pertemuan dua huruf yang sama makhraj-nya tetapi berbeda sifatnya. Cara membacanya, dengan memasukkan huruf pertama ke huruf kedua dan ditekan.
Dibaca idgham mitsli jika:
- ta’ sukun (تْ) bertemu dengan tho (ط) dan dal (د), contohnya: اِذْ هَمَّتْ طَا ىِٕفَتٰنِ, اَثْقَلَتْ دَعَوَا اللهَ.
- dal sukun (دْ) bertemu dengan ta (ت), contohnya: لَقَدْ تَابَ.
- dzal sukun (ذْ) bertemu dengan dzo’ (ظ), contohnya: اِذْ ظَلَمُوْا.
- tho sukun (طْ) bertemu dengan ta’ (ت), contohnya: لَىِٕنْ بَسَطْتَ.
- lam sukun (لْ) bertemu dengan ra’ (ر), contohnya: قُلْ رَبِّى.
Membaca Al-Qur’an dengan tartil adalah perintah langsung dari Allah SWT yang mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa, melainkan penuh kesungguhan dan penghayatan. Melalui ilmu tajwid, kita diajarkan cara menjaga keaslian bacaan sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan. Salah satunya adalah memahami hukum idgham mutajanissain, yang melatih kita agar bacaan Al-Qur’an lebih fasih, indah, dan sesuai aturan.
Dengan memahami dan mempraktikkan tajwid, khususnya idgham mutajanissain, kita tidak hanya menjaga keindahan lantunan ayat suci, tetapi juga memelihara kemurnian firman Allah agar tetap terjaga hingga akhir zaman.