“Nanti dulu ah” atau “besok saja.” Dua kalimat sederhana ini mungkin sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, keduanya sering menjadi alasan untuk menunda sebuah pekerjaan, kewajiban, atau kesempatan berbuat baik. Padahal, jika direnungkan dengan jujur, sering kali kita sebenarnya memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikannya saat itu juga.
Menunda pekerjaan memang terasa ringan pada awalnya. Namun, kebiasaan kecil tersebut perlahan berubah menjadi karakter yang merugikan. Pekerjaan menumpuk, kesempatan hilang, target tidak tercapai, bahkan ibadah pun sering tertunda. Yang lebih berbahaya lagi, seseorang akhirnya terbiasa hidup tanpa disiplin terhadap waktu.
Islam memandang waktu sebagai salah satu nikmat terbesar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, seorang muslim tidak diajarkan untuk menunggu waktu yang “sempurna”, melainkan memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.
Waktu Adalah Nikmat yang Sangat Mahal
Allah Swt. berkali-kali bersumpah menggunakan nama waktu di dalam Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.
Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Surah yang sangat pendek ini mengandung pesan yang luar biasa besar. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah mengatakan bahwa seandainya manusia hanya merenungkan surah ini saja, niscaya sudah cukup sebagai pelajaran hidup. Kerugian terbesar manusia bukan semata kehilangan harta atau jabatan, melainkan kehilangan waktu yang tidak pernah bisa kembali.
Berbeda dengan uang yang masih dapat dicari kembali, waktu yang telah berlalu tidak mungkin diulang. Satu detik yang terlewat akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak dapat diperbaiki.
Islam Mengajarkan Berlomba dalam Kebaikan
Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan umat Islam untuk bermalas-malasan atau menunggu kesempatan yang belum tentu datang. Sebaliknya, Allah memerintahkan agar manusia segera melakukan amal terbaik.
Allah berfirman:
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Pada ayat lain Allah juga berfirman:
“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain.”
(QS. Asy-Syarh: 7)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh larut dalam kemalasan. Setelah menyelesaikan satu pekerjaan, ia segera mengerjakan pekerjaan berikutnya. Hidup seorang mukmin adalah rangkaian aktivitas yang produktif, bermanfaat, dan bernilai ibadah.
Nabi Muhammad ﷺ Mengingatkan Agar Tidak Menunda
Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat menyentuh mengenai pentingnya memanfaatkan waktu.
Beliau bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim, dinilai sahih oleh banyak ulama)
Hadis ini menunjukkan bahwa waktu luang bukanlah kesempatan untuk bermalas-malasan, melainkan modal untuk memperbanyak amal dan menyelesaikan berbagai kewajiban.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Banyak orang baru menyadari berharganya waktu ketika kesempatan itu telah hilang. Ketika sehat berubah menjadi sakit, ketika muda berganti tua, atau ketika hidup telah mencapai penghujungnya.
Bahaya Kebiasaan Menunda
Menunda pekerjaan bukan hanya membuat tugas semakin banyak. Dampaknya jauh lebih luas daripada yang dibayangkan.
Pertama, pekerjaan menjadi menumpuk sehingga memicu stres dan kecemasan.
Kedua, kualitas pekerjaan justru menurun karena dikerjakan secara terburu-buru menjelang tenggat waktu.
Ketiga, kesempatan emas sering kali hilang karena kita terlalu lama berpikir tanpa bertindak.
Keempat, kebiasaan menunda akan membentuk karakter malas yang akhirnya memengaruhi seluruh aspek kehidupan, baik pekerjaan, pendidikan, keluarga, maupun ibadah.
Yang paling berbahaya adalah ketika seseorang terus berkata, “Besok saya akan bertaubat,” “Besok saya mulai membaca Al-Qur’an,” atau “Besok saya akan memperbaiki salat.” Padahal tidak seorang pun mengetahui apakah esok masih menjadi bagian dari usianya.
Mengapa Kita Sering Menunda?
Ada beberapa penyebab seseorang gemar menunda pekerjaan.
Di antaranya adalah rasa malas, takut gagal, terlalu perfeksionis, tidak memiliki target yang jelas, serta lebih tertarik pada hiburan dibandingkan tanggung jawab.
Kemajuan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri. Niat membuka telepon genggam selama lima menit sering berubah menjadi satu jam karena asyik menonton video, bermain media sosial, atau membaca berbagai informasi yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Sedikit demi sedikit, waktu habis tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.
Mulailah dari Langkah Kecil
Menghilangkan kebiasaan menunda tidak harus dilakukan dengan perubahan yang besar sekaligus. Mulailah dari langkah sederhana.
Biasakan mengerjakan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam beberapa menit tanpa menunggu nanti. Buat daftar prioritas harian. Kurangi gangguan dari media sosial saat bekerja. Tetapkan target yang realistis dan disiplin terhadap jadwal yang telah dibuat.
Yang tidak kalah penting, luruskan niat bahwa setiap pekerjaan yang halal dan bermanfaat dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah.
Dengan cara ini, produktivitas bukan hanya menghasilkan manfaat dunia, tetapi juga menjadi bekal akhirat.
Penutup
Setiap hari Allah memberikan kita jatah waktu yang sama, yaitu dua puluh empat jam. Yang membedakan setiap orang bukanlah jumlah waktunya, melainkan bagaimana cara memanfaatkannya. Orang yang berhasil adalah mereka yang mampu mengubah setiap detik menjadi amal, ilmu, karya, dan manfaat bagi sesama.
Jangan terlalu sering berkata, “Nanti saja,” karena “nanti” belum tentu menjadi milik kita. Jangan terus menunggu “besok”, sebab tidak ada seorang pun yang dijamin akan bertemu dengannya.
Mari mulai hari ini. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang. Tunaikan kewajiban sebelum menjadi penyesalan. Perbanyak amal sebelum kesempatan berakhir. Sebab waktu adalah amanah dari Allah, dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.