www.ibumengaji.com Surah Luqman ayat 14 diawali dengan pernyataan Allah bahwa manusia diwasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Kata wawashshainā menunjukkan perintah yang kuat dan berkelanjutan. Berbakti kepada orang tua bukan sekadar anjuran moral, tetapi kewajiban agama yang langsung diperintahkan oleh Allah SWT.
Penegasan Khusus tentang Perjuangan Ibu
Setelah menyebut kedua orang tua, Allah secara khusus menyoroti peran ibu. Frasa ḥamalt-hu ummuhu wahnan ‘alā wahnin menggambarkan kondisi ibu yang mengandung dalam keadaan lemah yang terus bertambah. Ini menunjukkan bahwa beban fisik dan mental ibu berlangsung lama dan semakin berat, mulai dari kehamilan hingga persalinan.
Masa Menyusui sebagai Bentuk Pengorbanan
Ayat ini juga menyebutkan wa fiṣāluhu fī ‘āmayn, yaitu masa penyapihan selama dua tahun. Menyusui bukan sekadar proses biologis, tetapi pengorbanan waktu, tenaga, dan kasih sayang ibu dalam membesarkan anak. Islam mengakui fase ini sebagai bagian penting dari perjuangan keibuan.
Keterkaitan Syukur kepada Allah dan Orang Tua
Allah kemudian memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tua. Urutan ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, merupakan perwujudan nyata dari rasa syukur kepada Allah. Seseorang tidak dianggap sempurna syukurnya kepada Allah jika ia mengabaikan jasa orang tuanya.
Kesadaran Akan Pertanggungjawaban Akhir
Ayat ini ditutup dengan pernyataan ilayya al-maṣīr (hanya kepada-Kulah kembalimu). Penutup ini menegaskan bahwa setiap sikap terhadap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Birrul walidain bukan hanya urusan sosial, tetapi perkara yang bernilai akhirat.
Relevansi Ayat dalam Kehidupan Modern
Dalam konteks kehidupan modern, Surah Luqman ayat 14 mengingatkan pentingnya menghormati, merawat, dan memuliakan ibu di tengah kesibukan dan perubahan zaman. Penghargaan kepada ibu tidak cukup dengan kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perhatian, dan pengabdian yang berkelanjutan.