Thalhah bukan hanya dikenal karena keimanannya, tetapi juga karena keberanian, pengorbanan, kedermawanan, dan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ.
Salah satu kisah paling mengharukan dalam kehidupannya terjadi ketika Perang Uhud. Dalam peperangan tersebut, Thalhah mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Rasulullah ﷺ.
1. Masuk Islam pada masa awal dakwah
Thalhah bin Ubaidillah berasal dari Bani Taim, salah satu cabang suku Quraisy. Beliau lahir di Makkah dan termasuk orang yang memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakatnya.
Beliau masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه. Abu Bakar memperkenalkan Thalhah kepada Rasulullah ﷺ, kemudian Thalhah menerima Islam.
Keislamannya terjadi pada masa awal dakwah Islam, ketika kaum Muslimin masih menghadapi tekanan dan ancaman dari kaum Quraisy.
Keputusan masuk Islam bukan perkara mudah. Kaum Muslimin saat itu mengalami berbagai bentuk penyiksaan, intimidasi, dan pengucilan. Namun, Thalhah tetap teguh mempertahankan keimanannya.
2. Peristiwa Perang Uhud: Melindungi Rasulullah ﷺ dengan tubuhnya
Dalam Perang Uhud tahun 3 H, pasukan Muslimin sempat mengalami keadaan yang sangat sulit. Sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi yang telah diperintahkan Rasulullah ﷺ untuk tetap dijaga.
Keadaan berubah. Pasukan Quraisy menyerang balik dan barisan kaum Muslimin menjadi kacau.
Dalam situasi tersebut, Rasulullah ﷺ menghadapi serangan musuh. Sejumlah sahabat berusaha melindungi beliau.
Thalhah bin Ubaidillah termasuk sahabat yang berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ untuk menangkis serangan musuh.
Ia menggunakan tubuhnya sebagai pelindung. Tangannya terluka parah akibat serangan yang diarahkan kepada Rasulullah ﷺ.
Diriwayatkan bahwa tangannya mengalami luka berat hingga jari-jarinya tidak berfungsi seperti semula.
Pengorbanan ini menunjukkan betapa besar kecintaan Thalhah kepada Rasulullah ﷺ.
Dalam sebuah riwayat dari Qais bin Abi Hazim, ia menceritakan bahwa dirinya pernah melihat tangan Thalhah yang mengalami kelumpuhan akibat melindungi Rasulullah ﷺ pada Perang Uhud. Riwayat ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari.
Ada satu riwayat yang sangat terkenal mengenai pengorbanannya. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah tiba di tempat Rasulullah ﷺ, beliau berkata kepada keduanya:
«دُونَكُمْ أَخَاكُمْ فَقَدْ أَوْجَبَ»
Artinya kurang lebih: “Tolonglah saudara kalian, karena ia telah memperoleh pahala yang besar.”
Riwayat ini menggambarkan besarnya pengorbanan Thalhah dalam membela Rasulullah ﷺ.
3. Mendapat julukan Thalhah al-Khair dan Thalhah al-Fayyadh
Thalhah dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Kekayaan yang dimilikinya tidak membuatnya menjadi orang yang cinta dunia.
Beliau sering membantu orang miskin, memberikan hartanya kepada orang yang membutuhkan, dan tidak segan mengeluarkan kekayaan untuk kepentingan Islam.
Karena kebaikan dan kemurahan hatinya, beliau dikenal dengan beberapa julukan:
-
Thalhah al-Khair: Thalhah yang penuh kebaikan.
-
Thalhah al-Fayyadh: Thalhah yang sangat dermawan.
-
Thalhah al-Jud: Thalhah yang memiliki kemurahan hati.
Kedermawanannya menjadi salah satu karakter yang paling menonjol dalam kehidupannya.
4. Thalhah dan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ
Kecintaan Thalhah kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya terlihat ketika peperangan.
Beliau senantiasa berusaha membela Islam, membantu perjuangan kaum Muslimin, dan memberikan hartanya untuk kepentingan umat.
Kecintaan tersebut bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan dibuktikan dengan pengorbanan jiwa dan harta.
Kisah Thalhah mengajarkan bahwa mencintai Rasulullah ﷺ berarti bersedia mengikuti ajarannya dan membela agama yang beliau sampaikan.
5. Wafat dalam Peristiwa Perang Jamal
Bagian akhir kehidupan Thalhah memiliki kisah yang cukup menyedihkan.
Pada tahun 36 H, terjadi peristiwa Perang Jamal di Basrah. Peristiwa ini melibatkan dua kelompok kaum Muslimin dalam persoalan politik dan upaya penyelesaian pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه.
Thalhah berada dalam kelompok yang bersama Aisyah رضي الله عنها dan Az-Zubair bin Awwam رضي الله عنه.
Sementara itu, kelompok lainnya dipimpin oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Perlu dipahami bahwa peristiwa ini merupakan bagian dari fitnah besar dalam sejarah umat Islam. Para sahabat memiliki ijtihad dan pandangan yang berbeda dalam menghadapi situasi tersebut.
Dalam pertempuran itu, Thalhah terkena anak panah dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 36 H.
Beliau wafat di Basrah dalam usia sekitar 60-an tahun.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa para sahabat juga menghadapi ujian yang sangat berat dalam perjalanan sejarah Islam.
6. Mengapa Thalhah termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga?
Keistimewaan Thalhah bukan hanya karena keberaniannya dalam Perang Uhud. Rasulullah ﷺ secara khusus menyebut namanya sebagai salah satu dari sepuluh sahabat yang mendapatkan kabar gembira surga.
Hal ini menunjukkan kedudukan dan keutamaan beliau di sisi Allah.
Namun, jaminan tersebut bukan berarti para sahabat tidak pernah menghadapi ujian atau perbedaan pendapat. Justru perjalanan hidup mereka memperlihatkan bagaimana beratnya perjuangan mempertahankan iman.
7. Lima pelajaran penting dari kehidupan Thalhah
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil:
1. Keimanan harus dibuktikan dengan tindakan. Thalhah tidak hanya mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi membuktikannya dengan pengorbanan.
2. Berani membela kebenaran. Dalam keadaan genting, beliau tidak meninggalkan Rasulullah ﷺ.
3. Kekayaan hendaknya menjadi sarana kebaikan. Thalhah menggunakan hartanya untuk membantu orang lain.
4. Jangan takut berkorban untuk agama. Beliau mempertaruhkan keselamatan dirinya demi melindungi Rasulullah ﷺ.
5. Jangan mudah menghakimi ketika terjadi perbedaan. Peristiwa Perang Jamal mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan sikap terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ.
Penutup
Thalhah bin Ubaidillah رضي الله عنه adalah gambaran seorang Muslim yang memadukan keberanian, kedermawanan, kesetiaan, dan pengorbanan.
Kisahnya mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau keberanian fisik, tetapi dari bagaimana semua potensi tersebut digunakan untuk membela kebenaran dan mencari keridaan Allah.
Semoga Allah meridai Thalhah bin Ubaidillah dan seluruh sahabat Rasulullah ﷺ.
Catatan sumber: Kisah perlindungan Thalhah dalam Perang Uhud diriwayatkan dalam sejumlah kitab hadis, antara lain Shahih Ibnu Hibban. Ada perbedaan penilaian ulama terhadap sanad salah satu jalur riwayat yang memuat dialog “Dūnakum akhākum faqad awjab”. Karena itu, rincian dialog tersebut sebaiknya tidak disamakan tingkat kekuatannya dengan hadis-hadis dalam Shahihain