www.ibumengaji.com Ada kebaikan yang kita lakukan sendiri. Ada pula kebaikan yang terjadi karena kita menjadi jalan bagi orang lain untuk melakukannya. Menariknya, Islam tidak hanya memberikan penghargaan kepada orang yang mengerjakan kebaikan, tetapi juga kepada orang yang menunjukkan jalan menuju kebaikan tersebut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim no. 1893)
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Mas‘ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat tersebut, seseorang membutuhkan kendaraan, kemudian ada orang lain yang menunjukkan kepadanya siapa yang dapat memberikan kendaraan. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa orang yang menunjukkan kebaikan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.
Hadis yang singkat ini sebenarnya mengandung pesan yang sangat luas: jangan menjadi orang yang hanya melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri, tetapi berusahalah menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi orang lain.
1. Menjadi Jalan Kebaikan
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Ada yang mempunyai ilmu, tetapi tidak memiliki harta. Ada yang mempunyai harta, tetapi tidak memiliki waktu. Ada yang memiliki waktu dan tenaga, tetapi tidak mengetahui siapa yang membutuhkan bantuan.
Di sinilah pentingnya menjadi dalil ‘ala al-khair—orang yang menunjukkan jalan menuju kebaikan.
Misalnya, seseorang mengetahui keluarga yang membutuhkan bantuan, kemudian mempertemukannya dengan orang yang mampu membantu. Seseorang mengetahui adanya majelis ilmu yang bermanfaat, lalu mengajak temannya untuk hadir. Seorang ibu mengajarkan anaknya membaca Al-Qur’an. Seorang guru memberikan ilmu yang kemudian diamalkan muridnya.
Semua itu merupakan bentuk menjadi perantara kebaikan.
Allah SWT juga berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak dibangun dengan sikap individualistis. Kebaikan justru diperintahkan untuk dikerjakan secara bersama-sama.
2. Pahala Tidak Berkurang karena Dibagikan
Salah satu keindahan hadis ini adalah bahwa pahala orang yang menunjukkan kebaikan tidak mengurangi pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.
Orang yang bersedekah mendapatkan pahala sedekahnya. Orang yang menerima dan memanfaatkannya mendapatkan manfaat. Sementara orang yang mempertemukan keduanya juga mendapatkan pahala karena menjadi sebab terjadinya kebaikan.
Begitu pula ilmu. Ketika seseorang mengajarkan satu ilmu kepada orang lain, kemudian ilmu itu diamalkan dan diajarkan kembali, manfaatnya dapat berkembang semakin luas.
Karena itu, jangan pernah meremehkan peran sebagai perantara kebaikan.
Mungkin kita tidak mampu membangun sekolah, tetapi kita bisa menunjukkan orang lain kepada lembaga pendidikan yang membutuhkan dukungan. Kita mungkin tidak mampu membantu semua orang secara finansial, tetapi kita dapat mempertemukan orang yang membutuhkan dengan orang yang mampu membantu.
Kita mungkin tidak menjadi guru besar, tetapi kita dapat menunjukkan seseorang kepada guru dan ilmu yang benar.
3. Menunjukkan Kebaikan Tidak Selalu dengan Nasihat
Menunjukkan kebaikan tidak harus selalu melalui ceramah panjang atau nasihat dengan kata-kata.
Perbuatan juga dapat menjadi dakwah.
Ketika seorang ayah menjaga salat, anak belajar dari keteladanan. Ketika seorang ibu membiasakan membaca Al-Qur’an, anak memperoleh contoh nyata. Ketika seseorang jujur dalam berdagang, orang di sekitarnya belajar tentang amanah.
Inilah mengapa keteladanan mempunyai kekuatan yang besar.
Dalam artikel “JAGALAH SALAT ANAK-ANAK KITA: Pesan Pendidikan Keluarga dari Atsar Abdullah bin Mas’ud”, dijelaskan bahwa pendidikan salat tidak cukup hanya dengan perintah, tetapi membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan pendampingan. Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dilihat.
Maka, terkadang perilaku kita berbicara lebih keras daripada nasihat kita.
4. Kebaikan yang Dimulai dari Hal Kecil
Jangan menunggu menjadi orang besar untuk melakukan kebaikan.
Mengirimkan informasi tentang kajian yang bermanfaat, memberikan sebuah buku, mengajarkan satu ayat, mengingatkan waktu salat, membantu seseorang menemukan pekerjaan halal, menunjukkan jalan kepada orang yang membutuhkan pertolongan, atau sekadar memperkenalkan seseorang kepada orang yang dapat membantunya—semuanya dapat menjadi pintu kebaikan.
Bahkan sebuah kalimat sederhana dapat menjadi sebab berubahnya kehidupan seseorang.
Karena itu, jangan pernah berkata, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa.”
Mungkin kita tidak bisa melakukan semuanya, tetapi hampir selalu ada sesuatu yang dapat kita lakukan.
5. Kebaikan Harus Dibangun dengan Akhlak
Menunjukkan kebaikan juga membutuhkan cara yang baik. Jangan sampai niat mengajak kepada kebaikan justru dilakukan dengan cara yang membuat orang lain menjauh.
Kebenaran membutuhkan hikmah. Nasihat membutuhkan kelembutan. Pendidikan membutuhkan kesabaran.
Hal ini berkaitan erat dengan pentingnya membangun akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Artikel “Empat Tanda Kemunafikan: Menjaga Kejujuran, Janji, dan Amanah dalam Kehidupan” mengingatkan bahwa kejujuran, menepati janji, berlaku benar ketika berselisih, dan menjaga amanah merupakan bagian penting dari pembentukan pribadi yang dapat dipercaya.
Dengan demikian, menunjukkan kebaikan bukan sekadar menyampaikan pesan yang benar, tetapi juga menghadirkannya melalui akhlak yang benar.
6. Jadilah Orang yang Dicari Ketika Ada Kebaikan
Ada orang yang ketika melihat persoalan hanya bertanya, “Siapa yang salah?”
Ada pula orang yang bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Orang kedua inilah yang lebih dekat dengan semangat hadis tersebut.
Ketika ada orang membutuhkan ilmu, ia menunjukkan guru. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, ia menunjukkan donatur. Ketika ada yang sedang kesulitan, ia menunjukkan jalan keluar. Ketika ada yang sedang jauh dari kebaikan, ia mengajaknya perlahan menuju kebaikan.
Ia mungkin tidak selalu terlihat di depan. Namun, ia menjadi bagian penting dari lahirnya sebuah kebaikan.
7. Jadikan Hidup sebagai Rangkaian Kebaikan
Kehidupan memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk menjadi sebab kebaikan. Kadang kesempatan itu datang dalam bentuk masalah orang lain. Kadang berupa ilmu yang kita miliki. Kadang berupa hubungan yang kita punya. Bahkan pengalaman hidup yang sulit pun dapat menjadi bekal untuk membantu orang lain.
Dalam artikel “Ujian Kehidupan, Guru yang Mengajarkan Pelajaran Berharga”, dijelaskan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi sarana untuk belajar tentang kesabaran, evaluasi, empati, dan kebijaksanaan.
Maka pengalaman yang pernah kita lalui jangan hanya berhenti sebagai cerita tentang diri sendiri. Jika pengalaman tersebut dapat membantu orang lain agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, maka pengalaman itu telah berubah menjadi pelajaran yang bermanfaat.
Penutup: Jangan Hanya Berbuat Baik, Jadilah Sebab Kebaikan
Hadis Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah cara pandang yang sangat indah. Kebaikan tidak selalu harus kita lakukan sendirian. Kita juga dapat memperoleh pahala dengan menjadi sebab orang lain melakukan kebaikan.
Karena itu, mulai hari ini jangan hanya bertanya:
“Kebaikan apa yang sudah saya lakukan?”
Tetapi tanyakan pula:
“Kebaikan apa yang sudah saya bantu hadirkan dalam kehidupan orang lain?”
Mungkin kita tidak mampu memberi banyak harta, tetapi kita bisa menunjukkan jalan kepada orang yang mampu memberi. Mungkin kita tidak mampu mengajar banyak orang, tetapi kita bisa memperkenalkan mereka kepada ilmu yang bermanfaat. Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan semua masalah, tetapi kita bisa membantu seseorang menemukan jalan keluarnya.
Dan bisa jadi, satu kebaikan yang kita tunjukkan hari ini terus dilakukan oleh orang lain bertahun-tahun kemudian.
Ketika itu terjadi, kita berharap Allah SWT mencatatnya sebagai bagian dari amal kebaikan kita.
Jadilah orang yang bukan hanya berbuat baik, tetapi juga menjadi sebab orang lain berbuat baik.
Sebab, terkadang amal terbesar dalam hidup kita bukanlah kebaikan yang kita lakukan sendiri, melainkan kebaikan yang lahir karena kita pernah menunjukkan jalannya kepada orang lain.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.