Yayasan Ibu Indonesia Mengaji

Kemuliaan Jiwa Seorang Mukmin: Menjaga Kehormatan, Menahan Marah, dan Bersabar dalam Ujian

www.ibumengaji.com Bagaimana seseorang tetap terlihat kuat ketika sebenarnya sedang kekurangan? Bagaimana ia tetap mampu menjaga ucapan ketika hatinya sedang marah? Dan bagaimana ia tetap tersenyum ketika sedang menghadapi penderitaan?

Di situlah salah satu bentuk kemuliaan jiwa seorang mukmin terlihat. Bukan karena hidupnya selalu mudah, tetapi karena ia mampu menjaga sikap ketika kehidupan sedang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Imam asy-Syafi‘i رحمه الله dinukil pernah berkata:

“Kemuliaan jiwa seseorang ada pada tiga perkara: menyembunyikan kefakiran hingga orang lain menyangka bahwa engkau berkecukupan; menyembunyikan kemarahan hingga orang lain menyangka bahwa engkau ridha; dan menyembunyikan penderitaan hingga orang lain menyangka bahwa engkau hidup enak.”

Ungkapan ini dinukil dalam Manaqib asy-Syafi‘i, jilid 4, halaman 188. Pesannya sangat dalam. Seorang mukmin tidak menjadikan keadaan yang sulit sebagai alasan untuk kehilangan kehormatan, kendali diri, dan harapan kepada Allah.

Menyembunyikan Kefakiran: Menjaga Kehormatan Diri

Kekurangan harta bukanlah kehinaan. Seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi mulia di hadapan Allah. Sebaliknya, banyaknya harta tidak otomatis menjadikan seseorang mulia.

Yang perlu dijaga adalah sikap hati dan kehormatan diri. Seorang mukmin tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk terus-menerus mengeluh atau menggantungkan kehidupannya kepada manusia.

Allah berfirman:

يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ

“Orang yang tidak mengetahui mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta.”
(QS. Al-Baqarah: 273)

Ayat ini menggambarkan kemuliaan orang-orang yang memiliki sifat ta‘affuf, yaitu menjaga kehormatan diri meskipun berada dalam kebutuhan.

Namun, menjaga kehormatan bukan berarti seseorang dilarang meminta pertolongan. Ketika benar-benar membutuhkan, mencari bantuan melalui jalan yang halal adalah sesuatu yang dibenarkan. Yang harus dihindari adalah menjadikan meminta-minta dan mengeluh kepada manusia sebagai kebiasaan.

Kepada manusia kita berusaha. Kepada Allah kita menggantungkan harapan.

Menyembunyikan Kemarahan: Mengendalikan Diri

Kemarahan adalah bagian dari tabiat manusia. Bahkan seseorang yang baik pun dapat marah. Yang membedakan adalah kemampuannya mengendalikan kemarahan tersebut.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, menyembunyikan kemarahan bukan berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan kezaliman. Maksudnya adalah tidak membiarkan emosi mengendalikan ucapan dan tindakan.

Ketika marah, seseorang dapat memilih untuk diam sejenak, mengambil wudu, meninggalkan tempat pertengkaran, menunda pesan yang hendak dikirim, atau membicarakan masalah setelah suasana menjadi tenang.

Sering kali masalah menjadi besar bukan karena persoalannya, tetapi karena seseorang menyelesaikannya ketika sedang dikuasai kemarahan.

Menyembunyikan Penderitaan: Memperkuat Kesabaran

Setiap manusia memiliki ujian yang tidak diketahui orang lain. Ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga, tekanan ekonomi, kegagalan usaha, kehilangan orang yang dicintai, atau pergulatan hidup yang berat.

Tidak semua penderitaan harus diketahui semua orang.

Allah menggambarkan sikap Nabi Ya‘qub عليه السلام ketika kehilangan putranya, Yusuf عليه السلام:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
(QS. Yusuf: 86)

Ini bukan berarti seorang mukmin harus memendam seluruh persoalannya sendirian. Nabi Ya‘qub mengajarkan bahwa tempat pertama bagi hati untuk mengadu adalah Allah.

Kepada manusia, seseorang tetap boleh mencari nasihat, bantuan, pendampingan, dan solusi. Tetapi jangan sampai keluhan kepada manusia lebih besar daripada pengaduan kepada Allah.

Di sinilah letak kekuatan seorang mukmin: ia boleh menangis, tetapi tidak kehilangan harapan; ia boleh merasa lemah, tetapi tidak berhenti berdoa; ia boleh menghadapi masalah besar, tetapi tetap yakin bahwa Allah Mahabesar.

Jangan Salah Memahami “Menyembunyikan”

Tiga nasihat ini tidak mengajarkan kepura-puraan.

Seorang mukmin tidak harus berpura-pura kaya ketika sedang miskin. Tidak harus tersenyum ketika sedang terluka. Tidak harus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja ketika memang sedang membutuhkan pertolongan.

Yang diajarkan adalah menjaga kehormatan dan mengendalikan cara kita membawa masalah tersebut.

Ada perbedaan antara sabar dan memendam, antara menjaga kehormatan dan menolak bantuan, serta antara menahan marah dan membiarkan kezaliman.

Sabar berarti tetap berada dalam ketaatan sambil mencari jalan keluar. Menahan marah berarti mengendalikan reaksi agar tidak melampaui batas. Menjaga kehormatan berarti tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk merendahkan diri di hadapan manusia.

Tiga Latihan Kemuliaan Jiwa

Nasihat ini dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, ketika kekurangan, jagalah kehormatan.
Kurangi mengeluh, tingkatkan ikhtiar, perbaiki pengelolaan keuangan, dan mintalah pertolongan melalui jalan yang benar ketika memang diperlukan.

Kedua, ketika marah, kendalikan reaksi.
Jangan langsung membalas pesan, jangan terburu-buru mengambil keputusan, dan jangan mengucapkan sesuatu yang mungkin akan disesali setelah emosi reda.

Ketiga, ketika menderita, perbanyak mengadu kepada Allah.
Bangun hubungan yang lebih dekat dengan-Nya melalui doa, shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan kesabaran. Kemudian carilah bantuan manusia yang amanah apabila persoalan memang membutuhkan pertolongan.

Pada akhirnya, kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari seberapa sedikit masalah yang dimilikinya. Kemuliaan justru terlihat dari bagaimana ia bersikap ketika masalah datang.

Ketika kekurangan, ia tetap menjaga kehormatan.
Ketika marah, ia tetap menjaga lisannya.
Ketika menderita, ia tetap menjaga harapannya kepada Allah.

Ia tidak harus menceritakan seluruh kesulitannya kepada dunia, karena ia mengetahui kepada siapa seluruh kesulitan itu seharusnya dikembalikan.

Manusia mungkin hanya melihat wajah yang tenang. Tetapi Allah mengetahui hati yang sedang berjuang.

Maka, jika hari ini kita sedang berada dalam kesempitan, jangan merasa hina. Jika sedang marah, jangan biarkan emosi menguasai diri. Jika sedang menderita, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Sebab kemuliaan seorang mukmin bukan karena hidupnya tanpa ujian, melainkan karena di tengah ujian ia tetap menjaga iman, kehormatan, kesabaran, dan tawakalnya kepada Allah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments