www.ibumengaji.com Ada kalanya sebuah kalimat terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih dalam tentang keadaan hati.
“Jangan urusi saya!”
Kalimat seperti ini mungkin pernah kita dengar. Bahkan mungkin, tanpa sadar, pernah keluar dari lisan kita ketika seseorang mengingatkan kesalahan yang sedang kita lakukan.
Padahal nasihat itu berbunyi sederhana:
اتَّقِ اللهَ — Bertakwalah kepada Allah.
Mengapa kalimat yang seharusnya mengingatkan kita kepada Allah justru terkadang membuat hati merasa terusik?
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولَ: عَلَيْكَ نَفْسَكَ
“Sesungguhnya perkataan yang paling dibenci Allah adalah seseorang berkata kepada orang lain, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri.’”
Riwayat ini berasal dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut diriwayatkan antara lain oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dan Imam al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman.
Bukan Sekadar Kalimat, tetapi Sikap Hati
Yang perlu kita pahami, hadis ini bukan berarti setiap ucapan “urus dirimu sendiri” otomatis menjadi dosa.
Persoalannya terletak pada sikap batin yang menyertai jawaban tersebut.
Seseorang mungkin tidak setuju dengan cara nasihat disampaikan. Ia mungkin merasa nasihat itu kurang tepat, tidak mengetahui seluruh persoalan, atau membutuhkan waktu untuk mempertimbangkannya. Hal itu berbeda dengan menolak kebenaran karena kesombongan.
Yang tercela adalah ketika seseorang diberi nasihat tentang takwa, kemudian ia membalas dengan sikap merendahkan:
“Kamu siapa? Urus saja dirimu sendiri!”
Seolah-olah orang lain tidak boleh mengingatkannya kepada Allah.
Padahal yang sedang disampaikan bukan sekadar pendapat pribadi. Nasihat “bertakwalah kepada Allah” mengandung ajakan untuk kembali kepada kebenaran.
“At-Taqwa” Bukan Penghakiman
Kata اتَّقِ اللهَ — ittaqillāh berarti “bertakwalah kepada Allah.”
Ia bukan kalimat untuk menyatakan:
“Saya lebih baik daripada kamu.”
Justru orang yang mengucapkannya semestinya juga merasa sedang mengingatkan dirinya sendiri.
Karena itu, nasihat yang baik bukanlah:
“Kamu yang bermasalah.”
Tetapi:
“Mari kita sama-sama bertakwa kepada Allah.”
Inilah perbedaan antara nasihat dan penghakiman.
Nasihat lahir dari kepedulian. Penghakiman sering kali lahir dari ego.
Jangan Menolak Kebenaran Hanya Karena Tidak Suka Orang yang Menyampaikannya
Salah satu penyakit hati yang perlu kita waspadai adalah ketika kita menilai kebenaran berdasarkan siapa yang mengucapkannya.
“Dia saja masih punya kesalahan.”
“Dia juga belum tentu lebih baik.”
“Kenapa dia yang menasihati saya?”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin saja benar dalam konteks tertentu. Namun, apabila digunakan untuk menolak kebenaran, kita sedang membuat kesalahan baru.
Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena disampaikan oleh manusia yang masih memiliki kekurangan.
Seorang mukmin justru perlu belajar memiliki sifat shiddiq, yaitu mencintai dan menerima kebenaran. Pembahasan tentang makna sifat ini dapat dilanjutkan melalui artikel Makna Sifat Shiddiq dan Keistimewaannya pada Rasulullah ﷺ.
Al-Qur’an Menggambarkan Hati yang Menolak Nasihat
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ
“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa.”
(QS. Al-Baqarah: 206)
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat dalam.
Masalahnya bukan karena ia tidak memahami kata-kata “bertakwalah kepada Allah.”
Ia memahami.
Tetapi kesombongan membuatnya tidak mau tunduk kepada kebenaran.
Ketika nasihat justru membangkitkan kesombongan, seseorang dapat terdorong mempertahankan kesalahan hanya demi mempertahankan harga dirinya.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa memperbaiki hati bukan perkara ringan. Kita membutuhkan pertolongan Allah agar mampu melihat kesalahan diri sendiri dan menerima kebenaran. Salah satu doa yang sangat indah untuk memohon pertolongan dalam menjalankan ketaatan adalah Allahumma A’inni ‘Ala Dzikrika: Makna Hadis, Wasiat Nabi dan Keutamaannya.
Orang Beriman Tidak Harus Langsung Sempurna, tetapi Harus Mau Menerima Kebenaran
Menerima nasihat tidak berarti kita langsung menjadi manusia sempurna.
Kita mungkin masih jatuh pada kesalahan yang sama.
Kita mungkin membutuhkan waktu untuk berubah.
Kita mungkin harus berjuang berkali-kali melawan hawa nafsu.
Tetapi setidaknya hati kita masih mengatakan:
“Saya tahu ini nasihat yang baik. Saya akan berusaha memperbaikinya.”
Itulah tanda bahwa pintu perbaikan masih terbuka.
Kesalahan masih mungkin diperbaiki. Namun, hati yang merasa tidak membutuhkan nasihat akan semakin sulit menemukan jalan kembali.
Karena itu, seorang Muslim harus memiliki kemuliaan jiwa: tidak mudah terseret ego, tidak sibuk membela diri, dan tidak merasa hina ketika harus mengakui kekurangan.
Nasihat Juga Memiliki Adab
Hadis ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk menegur orang lain dengan kasar.
Orang yang menasihati juga harus bercermin.
Apakah nasihat itu disampaikan karena Allah atau karena ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih baik?
Apakah waktunya tepat?
Apakah caranya lembut?
Apakah nasihat itu akan memperbaiki keadaan atau justru mempermalukan orang lain?
Karena itu, orang yang menerima nasihat harus belajar rendah hati, sedangkan orang yang memberikan nasihat harus belajar ikhlas dan bijaksana.
Keduanya membutuhkan mujahadah.
Nasihat yang benar tetap membutuhkan cara yang benar.
Karena itulah nasihat dalam Islam tidak identik dengan mempermalukan orang lain di hadapan banyak orang. Tujuannya adalah islah—perbaikan, bukan kemenangan dalam perdebatan.
Ketika Nasihat Terasa Pahit
Ada nasihat yang terasa pahit bukan karena nasihat itu salah, tetapi karena ia menyentuh bagian diri kita yang ingin kita sembunyikan.
Kita senang mendengar pujian.
Kita nyaman ketika orang mengatakan bahwa kita benar.
Tetapi ketika seseorang menunjukkan kekurangan kita, hati terasa terusik.
Di sinilah nasihat menjadi cermin.
Cermin tidak membuat wajah kita menjadi buruk. Cermin hanya memperlihatkan apa yang memang ada.
Demikian pula nasihat.
Ia mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi bisa menjadi sarana Allah menunjukkan sesuatu yang perlu kita perbaiki.
Maka jangan buru-buru bertanya:
“Siapa dia sampai menasihati saya?”
Cobalah bertanya:
“Apakah ada kebenaran dalam nasihatnya?”
Pertanyaan kedua jauh lebih menyelamatkan.
Jangan Mudah Tersinggung oleh Takdir dan Nasihat
Belajar menerima nasihat sebenarnya memiliki hubungan dengan kemampuan kita menerima berbagai ketentuan Allah.
Orang yang selalu ingin segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya akan lebih mudah tersinggung ketika mendapatkan koreksi, kritik, atau keadaan yang tidak sesuai harapan.
Sebaliknya, hati yang belajar ridha kepada ketentuan Allah akan lebih mudah berkata:
“Saya mungkin tidak menyukai ini, tetapi mungkin Allah sedang mengajarkan sesuatu kepada saya.”
Sikap tersebut dapat kita renungkan pula dalam artikel Tersenyum Tak Berarti Selalu Bahagia: Rela dengan Apa yang Allah Takdirkan, sebagai bagian dari latihan menerima ketentuan Allah dengan hati yang lebih lapang.
Belajar Menjadi Orang yang Mudah Menerima Nasihat
Ada beberapa sikap yang dapat kita latih.
Pertama, jangan langsung defensif.
Dengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban.
Kedua, pisahkan antara orang dan isi nasihat.
Kekurangan orang yang menasihati tidak otomatis membuat nasihatnya salah.
Ketiga, periksa diri sebelum membantah.
Mungkin nasihat itu memang sedang menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak kita sadari.
Keempat, berani mengatakan, “Saya akan memperbaikinya.”
Tidak ada kehinaan dalam mengakui kesalahan.
Kelima, doakan orang yang menasihati.
Boleh jadi melalui lisannya, Allah sedang menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar.
Keenam, mintalah pertolongan Allah.
Sebab menerima kebenaran bukan hanya persoalan kecerdasan, tetapi juga kelembutan hati.
Jangan Hanya Pandai Menasihati, Belajarlah Dinasehati
Kita sering berharap orang lain menerima nasihat kita.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah kita sendiri mudah menerima nasihat?
Kita ingin orang lain mau berubah ketika kita mengingatkannya. Tetapi bagaimana ketika giliran kita yang diingatkan?
Di situlah kualitas hati diuji.
Sebab orang yang benar-benar ingin dekat dengan Allah bukanlah orang yang merasa dirinya selalu benar. Ia adalah orang yang bersedia tunduk kepada kebenaran, dari siapa pun kebenaran itu datang.
Dan ketika hati terasa berat menerima kebenaran, kita membutuhkan pertolongan Allah dengan sabar dan ibadah. Renungan tentang hal tersebut dapat dilanjutkan melalui Al-Baqarah: 45 — Memohon Pertolongan Allah dengan Sabar dan Shalat.
Penutup: Semoga Hati Kita Tidak Keras
“Jangan urusi saya!”
Bisa jadi kalimat itu hanya berlangsung beberapa detik.
Tetapi di baliknya mungkin ada ego yang sedang mempertahankan dirinya.
Semoga kita tidak menjadi orang yang demikian.
Semoga ketika seseorang berkata:
“Bertakwalah kepada Allah.”
hati kita tidak segera memberontak.
Semoga kita mampu menjawab:
“Jazakallahu khairan. Terima kasih sudah mengingatkan saya.”
Sebab kita tidak pernah tahu, nasihat siapa yang kelak menjadi sebab Allah menyelamatkan kita.
Dan kita juga tidak pernah tahu, mungkin orang yang hari ini menasihati kita adalah salah satu jalan yang Allah pilih agar kita kembali kepada-Nya.
Karena itu:
Jangan takut pada nasihat yang memperbaiki kita. Takutlah pada hati yang tidak lagi mau menerima nasihat.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari kesombongan, memberi kita keberanian untuk mengakui kesalahan, dan menjadikan kita orang-orang yang mau menasihati dalam kebaikan sekaligus rendah hati ketika dinasihati.
اللَّهُمَّ لَيِّنْ قُلُوبَنَا لِلْحَقِّ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُونَ النَّصِيحَةَ فَيَنْتَفِعُونَ بِهَا
“Ya Allah, lembutkanlah hati kami untuk menerima kebenaran dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengambil manfaat darinya.”
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ