Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Jangan Tunggu Kehilangan: Mensyukuri Empat Nikmat Terbesar dalam Hidup

www.ibumengaji.com Sebelum memahami pesan yang terkandung dalam nasihat ini, ada baiknya mengenal beberapa kata kunci yang menjadi poros maknanya.

قَدْر (qadr) secara bahasa berarti nilai, kedudukan, kemuliaan, atau kadar sesuatu. Dalam konteks ini, kata qadr menunjukkan betapa berharganya suatu nikmat yang sering kali tidak disadari ketika masih dimiliki.

الشَّبَاب (asy-syabāb) berarti masa muda, yaitu fase kehidupan ketika seseorang memiliki kekuatan fisik, semangat, dan peluang yang besar untuk berkarya.

الْعَافِيَة (al-‘āfiyah) adalah keselamatan dan perlindungan dari berbagai keburukan, baik yang berkaitan dengan penyakit, musibah, fitnah, maupun kesulitan hidup. Karena itu para ulama menjelaskan bahwa makna afiat lebih luas daripada sekadar sehat.

الْبَلَاء (al-balā’) berarti ujian, cobaan, atau musibah yang menimpa seseorang.

الصِّحَّة (aṣ-ṣiḥḥah) berarti kesehatan dan keadaan tubuh yang berfungsi dengan baik.

الْمَوْتَى (al-mawtā) berarti orang-orang yang telah meninggal dunia.

Biografi Singkat Hātim al-Aṣamm رحمه الله

Hātim al-Aṣamm adalah seorang ulama zuhud dan tokoh besar generasi salaf. Nama lengkapnya adalah Hatim al-Asamm. Beliau hidup pada abad kedua Hijriah dan merupakan murid dari ulama terkenal Syaqiq al-Balkhi.

Julukan al-Aṣamm berarti “yang tuli”. Menurut riwayat, beliau mendapat julukan tersebut bukan karena benar-benar tuli, melainkan karena pernah menjaga perasaan seorang wanita yang tanpa sengaja mengeluarkan suara yang memalukan. Agar wanita tersebut tidak merasa malu, Hātim berpura-pura tidak mendengar. Karena akhlak mulianya itu, beliau dikenal dengan sebutan al-Aṣamm. Beliau wafat sekitar tahun 237 H dan dikenang sebagai sosok yang penuh hikmah, wara’, dan kebijaksanaan.

Empat Nikmat yang Sering Disadari Setelah Hilang

Nasihat Hātim al-Aṣamm mengajarkan sebuah kenyataan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: banyak nikmat baru terasa besar nilainya ketika sudah tidak lagi dimiliki.

Pertama, nikmat masa muda. Ketika seseorang masih muda, ia memiliki tenaga, waktu, dan kesempatan yang luas. Namun tidak sedikit orang yang menghabiskan masa mudanya dalam kelalaian. Setelah usia senja datang dan kekuatan mulai berkurang, barulah ia menyadari betapa berharganya masa muda tersebut.

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, (di antaranya) masa mudamu sebelum datang masa tuamu.” (HR. Al-Hakim)

Kedua, nikmat afiat. Seseorang yang hidup dalam keadaan aman dan terlindungi dari berbagai bencana sering kali menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal ketika musibah datang, ia baru menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut. Oleh sebab itu Nabi ﷺ sering berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan afiat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Ketiga, nikmat kesehatan. Orang yang sehat dapat beribadah, bekerja, belajar, dan membantu sesama dengan mudah. Namun ketika sakit menimpanya, aktivitas yang dahulu terasa ringan menjadi sangat berat. Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Keempat, nikmat umur dan kehidupan. Selama masih hidup, pintu taubat, amal saleh, dan perbaikan diri selalu terbuka. Namun ketika kematian datang, semua kesempatan itu berakhir. Karena itulah orang-orang yang telah meninggal dunia akan berharap dapat kembali ke dunia untuk beramal saleh, sebagaimana firman Allah:

﴿رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ﴾

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minūn: 99–100)

Pelajaran yang Dapat Diambil

Nasihat Hātim al-Aṣamm mengajarkan bahwa manusia sering mengenali nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang. Karena itu seorang mukmin hendaknya senantiasa bersyukur sebelum kehilangan, memanfaatkan kesempatan sebelum tertutup, dan menggunakan setiap nikmat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Masa muda hendaknya diisi dengan ilmu dan amal saleh. Kesehatan digunakan untuk beribadah dan bekerja dalam kebaikan. Afiat disyukuri dengan ketaatan, bukan dengan kelalaian. Sementara umur yang masih tersisa harus dipandang sebagai modal terbesar untuk menambah bekal menuju akhirat.

Dengan demikian, hikmah Hātim al-Aṣamm bukan sekadar mengingatkan tentang empat nikmat besar, tetapi juga mengajak setiap manusia agar tidak menunggu kehilangan untuk menyadari nilainya. Orang yang bijaksana adalah orang yang mampu mensyukuri nikmat ketika nikmat itu masih berada di tangannya, sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments