www.ibumengaji.com Perlu dicatat bahwa kalimat “لَا تَجْعَلْ هَمًّا وَاحِدًا يُنْسِيكَ أَلْفًا مِنَ النِّعَمِ” bukan hadis Nabi ﷺ. Kalimat tersebut adalah kata-kata hikmah (حكمة) yang maknanya benar dan sejalan dengan ajaran Islam mengenai syukur, sabar, dan husnuzan kepada Allah. Karena itu, sebaiknya ketika dipublikasikan tidak dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, melainkan disebut sebagai mahfuzhat (kata-kata mutiara) atau nasihat para ulama/hikmah Arab.
لَا تَجْعَلْ هَمًّا وَاحِدًا يُنْسِيكَ أَلْفًا مِنَ النِّعَمِ
“Janganlah engkau membiarkan satu kesedihan membuatmu lupa terhadap seribu kenikmatan.”
Kalimat hikmah yang indah ini mengajarkan sebuah prinsip penting dalam kehidupan: jangan sampai satu persoalan yang sedang dihadapi menutupi begitu banyak nikmat yang masih Allah anugerahkan. Manusia memang tidak pernah lepas dari ujian, namun seorang mukmin diperintahkan untuk melihat kehidupan secara utuh, bukan hanya terpaku pada satu kesulitan.
Dalam bahasa Arab, kata هَمٌّ (hamm) berarti kegelisahan, beban pikiran, atau kekhawatiran yang memenuhi hati. Berbeda dengan الحُزْن (al-ḥuzn) yang lebih menggambarkan kesedihan terhadap sesuatu yang telah berlalu, hamm sering berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi atau kekhawatiran terhadap masa depan. Karena beratnya pengaruh hamm terhadap jiwa, Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu perkara yang beliau mohon perlindungan kepada Allah.
Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.” (HR. Bukhari)
Adapun kata النِّعَم (an-ni‘am) merupakan bentuk jamak dari نِعْمَةٌ (ni‘mah), yaitu seluruh karunia Allah yang mendatangkan kebaikan. Nikmat bukan hanya berupa harta atau kedudukan, tetapi juga iman, kesehatan, keluarga, ilmu, keamanan, waktu luang, kesempatan beribadah, hingga kemampuan menghirup udara setiap detik.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini menunjukkan bahwa nikmat Allah tidak terhitung jumlahnya. Yang sering menjadi masalah bukan sedikitnya nikmat, melainkan sedikitnya kesadaran manusia untuk mengingatnya.
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepada satu masalah dibandingkan puluhan bahkan ratusan nikmat yang dimiliki. Sakit kepala selama beberapa jam dapat membuat seseorang lupa bahwa selama bertahun-tahun Allah telah memberinya tubuh yang sehat. Kehilangan sebagian harta bisa membuat seseorang melupakan keluarga yang mencintainya, sahabat yang mendukungnya, serta nikmat iman yang menjadi bekal menuju akhirat.
Padahal Allah mengingatkan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “setelah kesulitan ada kemudahan”, tetapi “bersama kesulitan ada kemudahan”. Artinya, ketika satu ujian datang, Allah tetap menyertakan berbagai nikmat lainnya. Kesulitan tidak pernah berdiri sendirian.
Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa rasa syukur termasuk sebab terbesar datangnya kebahagiaan, sedangkan terlalu larut dalam mengeluhkan musibah akan mempersempit hati. Hati yang dipenuhi syukur akan lebih kuat menghadapi ujian karena ia selalu menyaksikan karunia Allah yang tidak pernah terputus.
Rasulullah ﷺ juga memberikan bimbingan yang sangat indah:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan cara menjaga hati agar tetap bersyukur. Ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang yang lebih kaya, lebih sukses, atau lebih terkenal, ia akan mudah merasa kurang. Sebaliknya, ketika ia melihat banyak orang yang hidup dalam keadaan lebih sulit, ia akan semakin menyadari besarnya nikmat Allah.
Dari nasehat singkat di atas, terdapat sepuluh pelajaran berharga. Pertama, jangan membesarkan satu masalah hingga menutupi seluruh kehidupan. Kedua, biasakan menghitung nikmat Allah setiap hari. Ketiga, syukur adalah penawar kegelisahan. Keempat, setiap ujian pasti disertai berbagai kemudahan dari Allah. Kelima, jangan membandingkan diri dengan orang yang lebih beruntung dalam urusan dunia. Keenam, jadikan doa Rasulullah ﷺ sebagai wirid ketika hati diliputi kegelisahan. Ketujuh, lihatlah kehidupan dengan pandangan yang seimbang. Kedelapan, nikmat terbesar adalah iman dan hidayah. Kesembilan, orang yang bersyukur akan lebih kuat menghadapi musibah. Kesepuluh, kebahagiaan sejati bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena hati selalu mengingat karunia Allah.
Akhirnya, kalimat لَا تَجْعَلْ هَمًّا وَاحِدًا يُنْسِيكَ أَلْفًا مِنَ النِّعَمِ adalah ajakan untuk memperbaiki cara pandang terhadap kehidupan. Kesedihan boleh datang, air mata boleh menetes, dan ujian boleh silih berganti. Namun, jangan pernah biarkan satu kegelisahan menghapus kesadaran kita bahwa Allah masih melimpahkan ribuan nikmat setiap hari. Selama lisan terus mengucapkan Alhamdulillāh dan hati terus mengingat karunia-Nya, seorang mukmin akan selalu memiliki alasan untuk tetap berharap, bersabar, dan bersyukur.