Yayasan Ibu Indonesia Mengaji

Jangan Abaikan Nasihat Hanya karena Orang yang Menyampaikannya Belum Melakukannya

www.ibumengaji.com Pernahkah kita menerima nasihat yang baik dari seseorang, tetapi diam-diam berpikir, “Mengapa ia menasihatiku, padahal dirinya sendiri tidak melakukan hal itu?”

Kita mungkin pernah mengalaminya. Seseorang mengingatkan kita agar bersabar, padahal ia mudah marah. Ada yang mengajak kita bersedekah, sementara dirinya belum banyak berbagi. Ada pula yang menasihati kita agar menjaga lisan, meskipun ia sendiri masih sering berkata-kata tanpa pertimbangan.

Lalu, apakah nasihat mereka pantas diabaikan?

Seorang bijak pernah menyampaikan ungkapan yang menarik:

قد ينصحك شخص بأمر وهو لا يفعله، ليس لأنه متناقض، بل ربما تمنى لك الخير في أمر لم يستطع فعله.

Artinya, terkadang seseorang menasihatimu tentang suatu perkara, padahal ia sendiri belum melakukannya. Bukan semata-mata karena ia bertentangan dengan dirinya sendiri, tetapi mungkin ia mengharapkan kebaikan bagimu dalam perkara yang belum sanggup ia lakukan.

Ungkapan ini mengajarkan kita untuk melihat nasihat dengan lebih jernih, tanpa terburu-buru menghakimi orang yang menyampaikannya.

1. Kebenaran Nasihat Tidak Bergantung pada Kesempurnaan Pemberinya

Kita perlu memahami bahwa kebenaran sebuah nasihat tidak otomatis hilang hanya karena orang yang menyampaikannya belum mampu mengamalkannya.

Seseorang bisa mengetahui pentingnya kesabaran, meskipun masih kesulitan mengendalikan emosi. Ia bisa memahami keutamaan sedekah, meskipun belum memiliki banyak harta untuk dibagikan. Ia juga bisa mengetahui bahaya ghibah, meskipun masih berjuang menjaga lisannya.

Mengetahui kebaikan dan mampu melakukannya merupakan dua hal yang berbeda. Pengetahuan tidak selalu langsung diikuti kemampuan untuk mengamalkannya.

Karena itu, ketika menerima nasihat, nilailah kebenaran isinya, bukan semata-mata kekurangan orang yang menyampaikannya. Jika nasihat tersebut benar dan membawa kebaikan, ambillah manfaatnya.

Jangan sampai kita menolak nasihat tentang kesabaran hanya karena pemberinya mudah marah. Jangan pula mengabaikan ajakan bersedekah hanya karena orang yang menyampaikannya belum banyak memberi.

Kekurangan orang yang menyampaikan kebenaran tidak menjadikan kebenaran itu berubah menjadi kesalahan.

2. Setiap Orang Memiliki Perjuangannya Sendiri

Di balik ketidakmampuan seseorang menjalankan nasihatnya, mungkin ada perjuangan yang tidak kita ketahui.

Ia bisa jadi sedang berusaha mengubah kebiasaan buruk, melawan hawa nafsu, mengatasi ketakutan, atau menghadapi keterbatasan yang tidak mudah diatasi. Ia mengetahui jalan yang baik, tetapi masih membutuhkan waktu dan kekuatan untuk menempuhnya.

Tentu, kita tidak boleh menganggap semua orang yang tidak mengamalkan nasihatnya pasti memiliki niat tulus. Ada orang yang berbicara tentang kebaikan tanpa kesungguhan untuk memperbaiki dirinya. Namun, kita juga tidak seharusnya terburu-buru menyimpulkan buruknya niat seseorang hanya karena ia belum sempurna.

Bukankah kita pun memiliki kekurangan?

Kita mengetahui pentingnya membaca Al-Qur’an, tetapi terkadang masih kalah oleh kesibukan. Kita memahami bahwa marah harus dikendalikan, tetapi sesekali masih terbawa emosi. Kita tahu bahwa bersyukur itu penting, tetapi terkadang lebih sibuk menghitung apa yang belum kita miliki.

Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih rendah hati dalam menilai orang lain. Kita semua sedang belajar, berjuang, dan memperbaiki diri dengan kemampuan masing-masing.

3. Nasihat yang Baik Juga Menjadi Pengingat bagi Pemberinya

Meskipun demikian, bukan berarti seseorang boleh merasa cukup hanya dengan menasihati orang lain. Nasihat seharusnya diikuti kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2).

Ayat berikutnya menjelaskan bahwa sangat besar kebencian di sisi Allah jika seseorang mengatakan apa yang tidak dikerjakannya (QS. Ash-Shaff: 3).

Ayat ini mengingatkan kita agar berusaha menyelaraskan perkataan dengan perbuatan. Jangan sampai kita rajin menunjukkan kesalahan orang lain, tetapi mengabaikan kekurangan diri sendiri.

Rasulullah saw. juga mengingatkan tentang pentingnya mengamalkan ilmu melalui hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau mengabarkan tentang seseorang yang didatangkan pada hari kiamat, kemudian ia menjelaskan kebaikan kepada orang lain, tetapi dirinya tidak mengamalkannya.

Hadis tersebut memberikan peringatan keras agar kita tidak berhenti pada ucapan. Ilmu dan nasihat semestinya mendorong perubahan nyata dalam diri kita.

Namun, pelajarannya bukanlah bahwa seseorang harus menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum boleh menasihati orang lain. Kita tetap dapat mengajak kepada kebaikan sambil terus berusaha memperbaiki diri. Yang perlu dihindari adalah sikap merasa cukup menasihati orang lain tanpa peduli pada perbaikan diri sendiri.

4. Belajar Menerima dan Memberikan Nasihat dengan Bijaksana

Ada dua sikap yang perlu kita jaga dalam menghadapi nasihat.

Pertama, ketika menerima nasihat, jangan terburu-buru menolaknya hanya karena pemberinya belum mampu melakukan hal yang sama. Periksalah isi nasihatnya. Jika benar, terimalah dengan lapang dada dan berusahalah mengamalkannya.

Kedua, ketika memberikan nasihat, lakukanlah dengan tulus dan rendah hati. Jangan merasa diri lebih baik daripada orang yang dinasihati. Sampaikan kebaikan dengan cara yang santun, sembari mengingatkan diri sendiri untuk menjalankannya.

Kita tidak harus menunggu sempurna untuk mengajak orang lain kepada kebaikan. Namun, kita juga tidak boleh berhenti berusaha menjadi lebih baik setelah menyampaikan nasihat.

Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling sempurna. Kehidupan adalah perjalanan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Jangan kehilangan hikmah hanya karena sibuk mencari kekurangan orang yang menyampaikannya. Ambillah kebenaran dari nasihatnya, jadikanlah sebagai bekal perbaikan diri, dan doakan agar ia pun dimampukan mengamalkan kebaikan yang disampaikannya.

Sebab, kita semua bukan manusia yang telah sempurna, melainkan manusia yang sedang berusaha menjadi lebih baik. Ada kalanya kita membutuhkan nasihat orang lain, dan ada kalanya orang lain membutuhkan nasihat dari kita.

Semoga Allah membimbing kita untuk menerima kebenaran dengan lapang dada, mengamalkan ilmu dengan sungguh-sungguh, dan saling menasihati dalam kebaikan tanpa merasa diri paling baik.

Sebab, nasihat yang baik bukan hanya tentang siapa yang mengucapkannya, melainkan juga tentang kebenaran yang dikandungnya dan perubahan baik yang lahir setelah kita menerimanya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments