www.ibumengaji.com Dalam ajaran Islam, memohon ampunan kepada Allah merupakan salah satu ibadah hati dan lisan yang sangat dianjurkan. Al-Qur’an dan hadis banyak menekankan pentingnya memperbanyak permohonan ampun kepada Allah, terutama pada waktu-waktu yang mulia seperti bulan Ramadan dan khususnya pada malam-malam terakhirnya. Di antara bentuk permohonan tersebut adalah istighfar dan doa yang sangat masyhur pada malam-malam akhir Ramadan, yaitu doa “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Meskipun keduanya sama-sama bermakna memohon ampunan, terdapat perbedaan mendasar baik dari sisi makna bahasa maupun kedalaman maknanya.
Secara bahasa, kata ampunan dalam bahasa Arab berkaitan dengan beberapa istilah penting, di antaranya maghfirah dan ‘afw. Kata maghfirah berasal dari akar kata ghafara yang berarti menutup atau melindungi. Dalam makna syar’i, maghfirah berarti Allah menutup dosa seorang hamba sehingga dosa tersebut tidak terlihat dan tidak dihukumkan. Dari kata inilah muncul istilah istighfar, yaitu permohonan seorang hamba kepada Allah agar dosa-dosanya ditutup dan diampuni. Kalimat istighfar yang paling dikenal adalah:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ
Astaghfirullah
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
Istighfar berarti seorang hamba menyadari kesalahannya, kemudian memohon kepada Allah agar dosa tersebut dihapus dan tidak dihukumkan.
Adapun kata ‘afw memiliki makna yang lebih dalam. Secara bahasa, ‘afw berarti menghapus sesuatu hingga bekasnya hilang sama sekali. Dalam konteks dosa, ‘afw berarti Allah tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga menghapusnya sehingga seolah-olah dosa itu tidak pernah ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa ‘afw memiliki makna yang lebih sempurna dibandingkan sekadar maghfirah.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa pada malam-malam terakhir Ramadan dianjurkan membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini bersumber dari hadis sahih ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi ﷺ tentang doa yang dibaca jika menemukan malam Lailatul Qadr. Nabi menjawab:
“Katakanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hikmah penggunaan kata ‘afw dalam doa ini sangat dalam. Malam Lailatul Qadr adalah malam pengampunan besar-besaran dari Allah. Karena itu, seorang hamba tidak hanya memohon agar dosanya ditutup (maghfirah), tetapi agar dihapuskan seluruhnya tanpa bekas (‘afw). Dengan demikian, seorang mukmin berharap keluar dari Ramadan dalam keadaan bersih dari dosa.
Di sisi lain, Al-Qur’an juga memerintahkan umat Islam untuk memperbanyak istighfar. Salah satu ayat yang terkenal adalah firman Allah:
وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan mohonlah ampun kepada Allah, sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Muzzammil: 20)
Ayat lain juga menegaskan keutamaan istighfar:
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Barang siapa melakukan keburukan atau menzalimi dirinya kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 110)
Bahkan Nabi Muhammad ﷺ sendiri yang telah diampuni dosanya tetap memperbanyak istighfar. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”
(HR. Bukhari)
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa istighfar merupakan permohonan ampunan secara umum agar dosa diampuni dan ditutup oleh Allah, sedangkan doa “Allahumma innaka ‘afuwwun” merupakan permohonan yang lebih mendalam, yaitu agar Allah menghapus dosa sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas. Oleh karena itu, pada akhir Ramadan—terutama saat mencari Lailatul Qadr—seorang mukmin dianjurkan memperbanyak doa ini sebagai bentuk harapan agar seluruh dosa yang pernah dilakukan benar-benar dihapus oleh Allah dan ia keluar dari Ramadan dalam keadaan suci kembali.