www.ibumengaji.com Takdir atau qadha dan qadar merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap Muslim. Keimanan kepada takdir bukan sekadar menerima apa yang terjadi dalam hidup, tetapi juga memahami maknanya secara benar serta bersikap bijak dalam menyikapi setiap ketentuan Allah SWT. Pemahaman yang utuh tentang takdir akan melahirkan ketenangan hati, kekuatan jiwa, dan sikap hidup yang seimbang antara usaha dan tawakal.
Pengertian Qadha dan Qadar Secara Bahasa dan Istilah
Secara bahasa, qadha berarti keputusan, ketetapan, atau hukum. Sedangkan qadar berarti ukuran, ketentuan, atau kadar tertentu. Dalam istilah syariat, qadha dan qadar merujuk pada ketetapan Allah SWT terhadap seluruh makhluk-Nya sejak zaman azali, meliputi apa yang terjadi, kapan terjadi, dan bagaimana terjadinya, sesuai dengan ilmu dan kehendak Allah yang Maha Sempurna.
Para ulama menjelaskan bahwa qadha adalah ketetapan Allah secara global, sedangkan qadar adalah perincian dari ketetapan tersebut yang terjadi di alam nyata. Keduanya tidak dapat dipisahkan dan menjadi bagian dari sistem keimanan yang utuh.
Cara Mengimani Takdir sebagai Rukun Iman
Mengimani takdir berarti meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, tidak lepas dari ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah SWT. Namun, iman kepada takdir tidak berarti pasrah tanpa usaha. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Manusia diperintahkan untuk berusaha secara maksimal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Keimanan kepada takdir juga menuntut keyakinan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Tidak ada satu pun ketentuan-Nya yang sia-sia atau zalim, meskipun terkadang tidak langsung dapat dipahami oleh akal manusia.
Makna Takdir Baik dan Takdir Buruk
Dalam kehidupan, terdapat takdir yang dianggap baik seperti kesehatan, keberhasilan, dan kebahagiaan. Ada pula takdir yang dipandang buruk seperti musibah, kegagalan, atau kesedihan. Namun dalam pandangan iman, semua takdir pada hakikatnya adalah baik karena berasal dari Allah SWT.
Takdir yang menyenangkan merupakan nikmat yang harus disyukuri, sedangkan takdir yang berat adalah ujian untuk menguatkan iman, menghapus dosa, dan meninggikan derajat seorang hamba. Yang dinilai buruk sering kali hanyalah dari sudut pandang manusia, bukan dari sisi hikmah Ilahi.
Tuntunan Islam dalam Menyikapi Takdir Allah
Islam membimbing umatnya untuk bersikap sabar saat menghadapi takdir yang tidak menyenangkan dan bersyukur ketika menerima nikmat. Rasulullah SAW bersabda bahwa menakjubkan urusan seorang mukmin, karena semua urusannya adalah kebaikan baginya.
Sikap ridha terhadap takdir juga menjadi kunci ketenangan jiwa. Ridha bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menerima hasil dengan lapang dada setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Batasan yang Diperbolehkan dan Dilarang dalam Mengimani Takdir
Dalam mengimani takdir, diperbolehkan untuk berdoa, berusaha, dan berharap akan kebaikan. Bahkan, doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang dianjurkan. Namun yang tidak dibenarkan adalah menyalahkan takdir untuk membenarkan kemaksiatan, bersikap putus asa, atau menolak ketentuan Allah dengan keluhan dan protes berlebihan.
Mengimani takdir secara benar akan membentuk pribadi yang optimis, rendah hati, dan kuat menghadapi kehidupan. Dengan pemahaman ini, seorang Muslim mampu menjalani hidup dengan penuh keyakinan bahwa setiap ketentuan Allah SWT selalu mengandung hikmah dan kebaikan.
enetapan rezeki bukan berarti manusia tidak perlu berusaha. Justru Islam mengajarkan bahwa usaha adalah bagian dari takdir itu sendiri.
Rezeki juga tidak selalu identik dengan kelimpahan materi. Seseorang bisa memiliki rezeki yang luas namun sempit keberkahannya, dan sebaliknya. Karena itu, yang terpenting adalah rezeki yang halal dan membawa kebaikan.
2. Takdir Ajal
Ajal adalah batas waktu kehidupan seseorang di dunia. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat mempercepat atau menunda ajalnya dari ketetapan Allah SWT. Keyakinan ini menanamkan kesadaran bahwa hidup adalah amanah dan waktu sangat berharga.
Iman kepada ajal membimbing seorang Muslim untuk tidak takut berlebihan terhadap kematian, tetapi juga tidak lalai dalam mempersiapkan diri dengan amal saleh.
3. Takdir Amal
Yang dimaksud amal adalah perjalanan perbuatan hidup seseorang, apakah ia akan banyak melakukan kebaikan atau keburukan. Namun penting dipahami, pencatatan amal tidak menghilangkan kehendak bebas manusia.
Allah Maha Mengetahui apa yang akan dipilih hamba-Nya, tetapi manusia tetap diberi kemampuan untuk memilih. Oleh karena itu, setiap manusia bertanggung jawab atas amal perbuatannya dan tetap diperintahkan untuk berusaha menjadi pribadi yang taat.
Makna Penetapan Takdir Sejak dalam Kandungan
Penetapan takdir pada usia 120 hari menunjukkan bahwa kehidupan manusia berada dalam ilmu dan kekuasaan Allah sejak sebelum lahir. Hal ini menumbuhkan sikap tawakal, rendah hati, dan optimis, sekaligus menjauhkan manusia dari kesombongan dan keputusasaan.
Takdir yang ditetapkan bukan untuk melemahkan usaha, tetapi untuk menguatkan iman bahwa setiap jalan hidup memiliki hikmah dan tujuan ilahi.
Kesimpulan
Takdir rezeki, ajal, dan amal yang ditetapkan pada usia 120 hari kehamilan adalah bagian dari ketetapan Allah SWT yang sempurna. Seorang Muslim dituntut untuk mengimani hal ini dengan keyakinan penuh, disertai usaha yang sungguh-sungguh dan doa yang tulus. Dengan pemahaman yang benar, iman kepada takdir akan melahirkan ketenangan jiwa dan sikap hidup yang seimbang antara ikhtiar dan tawakal.