www.ibumengaji.com Shalat merupakan tiang agama dan kewajiban utama bagi setiap Muslim. Namun, melaksanakan shalat saja belum cukup jika kewajiban tersebut tidak dijaga dengan sungguh-sungguh. Allah SWT memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang lalai terhadap shalatnya dalam Surah Al-Ma’un ayat 4–5.
Allah SWT berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٤
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥
Fa wailul lil-mushallīn. Alladzīna hum ‘an shalātihim sāhūn.
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang melaksanakan shalat, (yaitu) yang lalai terhadap shalatnya.” (QS. Al-Ma’un [107]: 4–5).
Kata wail mengandung makna ancaman kecelakaan dan azab yang berat. Sementara itu, sāhūn berarti orang-orang yang lalai atau lengah. Ayat ini bukan sekadar mengingatkan agar kita rajin shalat, melainkan juga agar menjaga shalat sebagai kewajiban yang harus ditunaikan dengan benar.
Menurut penjelasan dalam Tafsir Ibnu Katsir, kelalaian tersebut dapat berupa meninggalkan shalat, mengerjakannya di luar waktu yang ditentukan, terus-menerus menundanya, tidak memenuhi rukun dan syaratnya, atau tidak memperhatikan kekhusyukan dan maknanya. Karena itu, ayat ini perlu dipahami secara utuh, bukan hanya sebagai teguran kepada orang yang kurang berkonsentrasi ketika shalat.
Siapa Saja yang Termasuk Orang yang Lalai dalam Shalatnya?
Pertama, orang yang meninggalkan shalat atau meremehkan kewajibannya.
Mereka adalah orang-orang yang tidak menjaga shalat lima waktu, bahkan mengabaikannya tanpa alasan yang dibenarkan. Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini juga mencakup orang yang tidak mengerjakan shalat sama sekali. Meninggalkan shalat merupakan persoalan serius dalam Islam yang tidak boleh dianggap ringan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ [4]: 103).
Kedua, orang yang sengaja mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya.
Sebagian orang lebih mengutamakan pekerjaan, hiburan, atau urusan dunia sehingga shalat ditunda sampai waktunya habis. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa shalat belum ditempatkan sebagai prioritas utama.
Perlu dibedakan antara menunaikan shalat pada awal waktu dan sengaja membiarkan waktu shalat habis. Menunaikan shalat pada awal waktu merupakan keutamaan, sedangkan mengerjakannya setelah waktu berakhir tanpa alasan yang dibenarkan merupakan bentuk kelalaian yang serius.
Ketiga, orang yang tidak menjaga rukun dan ketentuan shalat.
Shalat tidak cukup dilakukan dengan gerakan yang cepat tanpa ketenangan. Rukuk, iktidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud harus dilaksanakan dengan benar sesuai ketentuan syariat.
Rasulullah SAW pernah memerintahkan seseorang yang belum melaksanakan shalat dengan benar untuk mengulangi shalatnya, kemudian mengajarkan tata cara shalat yang benar. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa kualitas shalat tidak boleh dikorbankan hanya demi segera menyelesaikannya.
Keempat, orang yang lalai terhadap kekhusyukan dan makna shalat.
Ada orang yang tubuhnya mengerjakan shalat, tetapi pikirannya terus dikuasai urusan dunia. Ia tidak berusaha memahami bacaan, menghadirkan hati, atau menyadari bahwa dirinya sedang menghadap Allah.
Akan tetapi, tidak setiap pikiran yang melayang menjadikan seseorang termasuk golongan yang diancam dalam ayat ini. Lupa atau kehilangan konsentrasi sesaat merupakan hal yang dapat dialami manusia. Yang perlu diwaspadai ialah sikap meremehkan shalat dan tidak berusaha memperbaiki kekhusyukan.
Kelima, orang yang mengerjakan shalat demi mendapatkan pujian.
Ayat berikutnya menjelaskan sifat lain:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Yang berbuat ria.” (QS. Al-Ma’un [107]: 6).
Riya adalah melakukan ibadah agar dilihat, dipuji, atau memperoleh pengakuan manusia. Seseorang mungkin terlihat rajin shalat ketika berada di tengah masyarakat, tetapi mengabaikannya ketika sendirian. Perilaku ini menunjukkan bahwa penilaian manusia lebih diutamakan daripada keikhlasan kepada Allah.
Keenam, orang yang shalat tetapi mengabaikan kepedulian sosial.
Allah melanjutkan dalam ayat ketujuh:
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Dan enggan memberikan bantuan.” (QS. Al-Ma’un [107]: 7).
Rangkaian ayat ini menghubungkan ibadah dengan akhlak dan kepedulian sosial. Orang yang benar-benar mengambil pelajaran dari shalat semestinya berusaha menjadi pribadi yang jujur, amanah, penyayang, dan ringan membantu sesama. Shalat tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak orang lain.
Lalai Terhadap Shalat dan Lalai Ketika Shalat
Kedua keadaan ini perlu dibedakan. Lalai terhadap shalat berarti mengabaikan kewajiban, waktu, atau pelaksanaannya. Sementara itu, lalai ketika shalat berarti perhatian dan pikiran tidak sepenuhnya tertuju kepada ibadah yang sedang dikerjakan.
Perbedaan ini penting. Orang yang sesekali kehilangan konsentrasi tidak serta-merta sama dengan orang yang sengaja meninggalkan atau meremehkan shalat. Namun, kekhusyukan tetap perlu diperjuangkan melalui pemahaman bacaan, ketenangan gerakan, dan kesadaran akan kehadiran kita di hadapan Allah.
Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 1–2).
Cara Memperbaiki Kualitas Shalat
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Pertama, segera tunaikan shalat ketika waktunya tiba dan atur pekerjaan agar tidak menghalangi kewajiban. Kedua, pelajari arti bacaan shalat supaya ibadah tidak berhenti pada hafalan. Ketiga, lakukan setiap gerakan dengan tenang dan sempurna. Keempat, luruskan niat agar shalat dilakukan karena Allah, bukan demi pujian. Kelima, evaluasi akhlak setelah shalat: apakah kita semakin sabar, jujur, disiplin, dan peduli kepada sesama?
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat seharusnya berpengaruh terhadap perilaku. Jika masih sering berbuat salah, jangan meninggalkan shalat. Sebaliknya, perbaikilah shalat sekaligus berusaha memperbaiki akhlak.
Penutup: Jangan Hanya Mengerjakan, tetapi Jagalah Shalat
Peringatan fawailul lil-mushallin merupakan ajakan untuk melakukan introspeksi. Jangan sampai kita mengerjakan shalat, tetapi meremehkan waktunya; melaksanakan gerakannya, tetapi mengabaikan ketentuannya; atau rajin beribadah, tetapi tetap menyakiti dan mengabaikan sesama.
Ayat ini sebaiknya menjadi cermin untuk menilai diri sendiri, bukan alat untuk mudah menghakimi orang lain. Setiap Muslim perlu terus memperbaiki shalatnya, menjaga keikhlasan, dan menghadirkan dampak ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang mendirikan shalat dengan benar, menjaga waktunya, memperjuangkan kekhusyukannya, serta memancarkan nilai-nilai shalat melalui akhlak yang mulia. Aamiin.