Yayasan Ibu Indonesia Mengaji

Empat Nasihat Luqman: Menjaga Hati, Perut, Pandangan, dan Lisan

www.ibumengaji.com Nasihat yang dinisbatkan kepada Luqman Al-Hakim ini sederhana, tetapi menyentuh empat wilayah penting dalam kehidupan manusia: hati, perut, mata, dan lisan. Keempatnya menjadi pintu yang dapat membawa seseorang kepada kebaikan, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju keburukan apabila tidak dikendalikan.

“Duhai anakku, jika engkau sedang shalat, jagalah hatimu. Jika engkau sedang makan, jagalah perutmu. Jika engkau berada di rumah orang lain, jagalah pandanganmu. Jika engkau berada di tengah-tengah manusia, jagalah lisanmu.”

Luqman sendiri merupakan sosok yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah memberikan kepadanya hikmah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Luqman ayat 12:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ

“Dan sungguh, Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah!’”
(QS. Luqman: 12)

Hikmah bukan hanya kemampuan berbicara dengan indah. Hikmah adalah kemampuan menempatkan sesuatu secara tepat dan menjalani kehidupan dengan kesadaran kepada Allah.

1. Ketika Shalat, Jagalah Hati

Shalat adalah ibadah yang mempertemukan seorang hamba dengan Rabb-nya. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya gerakan dan bacaan, tetapi juga kehadiran hati.

Tidak jarang tubuh seseorang berdiri menghadap kiblat, tetapi pikirannya justru berada di tempat lain. Mulut membaca ayat, sementara hati sibuk memikirkan pekerjaan, harta, keluarga, atau berbagai persoalan dunia.

Menjaga hati berarti berusaha menghadirkan ikhlas, khusyuk, rasa takut, harapan, dan pengagungan kepada Allah. Semakin hati hadir dalam shalat, semakin besar peluang shalat tersebut membentuk akhlak dan mencegah seseorang dari perbuatan buruk.

2. Ketika Makan, Jagalah Perut

Makan adalah kebutuhan sekaligus nikmat dari Allah. Namun, nikmat tidak boleh membuat manusia kehilangan kendali.

Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Menjaga perut berarti memperhatikan apa yang dimakan, dari mana diperoleh, dan berapa banyak yang dikonsumsi. Makanan harus halal dan baik, sementara jumlahnya tidak berlebihan.

Perut yang dijaga akan membantu seseorang menjaga kesehatan dan beribadah dengan lebih baik. Sebaliknya, terlalu memperturutkan selera dapat membuat manusia kehilangan keseimbangan.

3. Ketika di Rumah Orang Lain, Jagalah Pandangan

Rumah memiliki privasi. Ketika seseorang bertamu, ia tidak memperoleh hak untuk melihat segala sesuatu yang ada di dalam rumah tersebut.

Karena itu, menjaga pandangan merupakan bagian dari adab menghormati orang lain. Pandangan juga perlu dijaga karena apa yang terus-menerus dilihat dapat memengaruhi hati.

Di zaman digital, pesan ini menjadi semakin relevan. Kita memang tidak selalu berada di rumah orang lain secara fisik, tetapi media sosial memungkinkan kita melihat kehidupan pribadi orang lain setiap saat. Maka, menjaga pandangan juga berarti mampu memilih apa yang layak dilihat dan apa yang sebaiknya dilewati.

4. Ketika Bersama Manusia, Jagalah Lisan

Lisan adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi dampaknya luar biasa besar. Sebuah perkataan dapat membangkitkan semangat seseorang. Sebaliknya, satu kalimat yang kasar dapat meninggalkan luka yang sulit dilupakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu bertanya: Apakah yang saya katakan benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu? Dan apakah cara menyampaikannya baik?

Menjaga lisan berarti menjauhi dusta, ghibah, fitnah, celaan, penghinaan, dan adu domba. Sebaliknya, lisan hendaknya digunakan untuk berdzikir, menyampaikan ilmu, memberi nasihat, menghibur, dan mendamaikan manusia.

Menjaga Empat Hal, Menjaga Kehidupan

Empat nasihat Luqman tersebut sebenarnya membentuk satu rangkaian pendidikan jiwa.

Hati dijaga ketika berhubungan dengan Allah. Perut dijaga ketika menerima nikmat. Pandangan dijaga ketika berhubungan dengan kehormatan orang lain. Lisan dijaga ketika berinteraksi dengan sesama manusia.

Jika hati terjaga, ibadah menjadi lebih bermakna. Jika perut terjaga, kehidupan menjadi lebih sehat dan sederhana. Jika pandangan terjaga, kehormatan diri dan orang lain terlindungi. Jika lisan terjaga, persaudaraan akan lebih mudah dipelihara.

Pada akhirnya, kedewasaan seorang Muslim bukan hanya terlihat dari seberapa banyak ilmu yang dimilikinya, tetapi juga dari seberapa mampu ia mengendalikan dirinya.

Maka, mari kita renungkan nasihat Luqman ini dalam kehidupan sehari-hari: ketika beribadah, jagalah hati; ketika menikmati rezeki, jagalah perut; ketika berada di tempat orang lain, jagalah pandangan; dan ketika bersama manusia, jagalah lisan.

Sebab, banyak masalah kehidupan bermula dari sesuatu yang sebenarnya dapat kita kendalikan: hati yang tidak dijaga, keinginan yang tidak dibatasi, pandangan yang tidak ditundukkan, dan lisan yang tidak dikendalikan.

Semoga Allah memberikan kita hikmah untuk menjaga semuanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments