www.ibumengaji.com Membaca surat atau beberapa ayat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama shalat merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ tidak selalu membaca surat yang sama dalam setiap shalat. Beliau membacakan berbagai surat yang berbeda sehingga para sahabat dapat mengetahui keluasan tuntunan syariat. Dari hadis-hadis sahih, kita menemukan beberapa pasangan surat yang sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ pada shalat-shalat tertentu. Pasangan-pasangan surat ini dapat menjadi inspirasi bagi kaum muslimin untuk menghidupkan sunnah dan memperkaya bacaan dalam shalat.
As-Sajdah dan Al-Insan pada Shalat Subuh Jumat
Salah satu pasangan surat yang paling kuat dalilnya adalah Surat As-Sajdah dan Surat Al-Insan pada shalat Subuh hari Jumat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: ﴿الم تَنْزِيلُ﴾ السَّجْدَةَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى، وَ﴿هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ﴾ فِي الثَّانِيَةِ
“Rasulullah ﷺ pada shalat Subuh hari Jumat membaca Alif Lam Mim Tanzil (Surat As-Sajdah) pada rakaat pertama dan Hal Ata ‘Alal Insan (Surat Al-Insan) pada rakaat kedua.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Kedua surat ini mengandung pembahasan tentang penciptaan manusia, hari kebangkitan, dan kehidupan akhirat.
Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun pada Shalat Jumat
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ بِسُورَةِ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقُونَ
“Rasulullah ﷺ membaca dalam shalat Jumat Surat Al-Jumu’ah dan Surat Al-Munafiqun.”
(HR. Sahih Muslim)
Surat Al-Jumu’ah menjelaskan kemuliaan hari Jumat dan kewajiban menghadirinya, sedangkan Surat Al-Munafiqun berisi peringatan terhadap sifat-sifat kemunafikan.
Al-A’la dan Al-Ghasyiyah pada Jumat dan Hari Raya
Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَالْجُمُعَةِ بِـ ﴿سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى﴾ وَ﴿هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ﴾
“Rasulullah ﷺ membaca pada shalat dua hari raya dan shalat Jumat dengan Sabbihisma Rabbikal A’la dan Hal Ataka Haditsul Ghasyiyah.”
(HR. Sahih Muslim)
Kedua surat ini mengingatkan manusia tentang keagungan Allah dan peristiwa hari kiamat.
Al-Kafirun dan Al-Ikhlas pada Sunnah Fajar
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ: ﴿قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ﴾ وَ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾
“Rasulullah ﷺ membaca dalam dua rakaat sebelum Subuh: Qul Yā Ayyuhal Kāfirūn dan Qul Huwallāhu Ahad.”
(HR. Sahih Muslim)
Surat Al-Kafirun mengandung penegasan pemurnian ibadah, sedangkan Surat Al-Ikhlas mengandung penegasan tauhid.
Al-A’la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas dalam Witir
Dari Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُوتِرُ بِـ ﴿سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى﴾ وَ﴿قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ﴾ وَ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾
“Rasulullah ﷺ berwitir dengan membaca Sabbihisma Rabbikal A’la, Qul Yā Ayyuhal Kāfirūn, dan Qul Huwallāhu Ahad.”
(HR. Sunan an-Nasa’i, dinilai sahih oleh banyak ulama hadis)
Pelajaran yang Dapat Diambil
Hadis-hadis sahih di atas menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memang memiliki beberapa pasangan surat yang sering beliau baca dalam shalat tertentu. Namun pada saat yang sama beliau juga membaca surat-surat lain sehingga tidak terikat pada satu pola bacaan saja. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk sesekali membaca pasangan surat yang disebutkan dalam hadis-hadis sahih tersebut, lalu pada kesempatan lain membaca surat yang berbeda sesuai hafalan dan kemampuannya.
Dengan demikian, shalat menjadi lebih hidup, lebih khusyuk, dan lebih dekat dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Semakin banyak surat yang dibaca dan direnungkan maknanya, semakin besar pula kesempatan seorang hamba untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam setiap shalat yang ia dirikan.