www.ibumengaji.com Ada hati yang hidup meskipun tubuhnya sederhana. Ia mudah tersentuh oleh ayat Allah, takut ketika mengingat dosa, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan tetap berharap ketika menghadapi ujian.
Namun ada pula hati yang perlahan mengering. Al-Qur’an sering dibaca, tetapi tidak lagi menggetarkan. Nasihat didengar, tetapi tidak mengubah perilaku. Pengetahuan bertambah, tetapi hati tidak semakin dekat kepada Allah.
Di sinilah kita perlu memahami salah satu gambaran Al-Qur’an yang sangat indah: Al-Qur’an adalah ruh yang menghidupkan dan cahaya yang menerangi.
Allah ﷻ berfirman:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۖ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِۦ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۖ وَإِنَّكَ لَتَهْدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Asy-Syura: 52)
Al-Qur’an Disebut Ruh
Mengapa Allah menyebut wahyu sebagai رُوحًا (rūḥan)?
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ruh dalam ayat ini adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Rasulullah ﷺ. Ia disebut ruh karena dengannya manusia memperoleh kehidupan berupa petunjuk setelah sebelumnya berada dalam kebodohan dan kesesatan.
Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa ruh dalam ayat ini berkaitan dengan wahyu yang Allah sampaikan kepada Nabi ﷺ. Sedangkan Al-Qurthubi menyebut beberapa penjelasan ulama tentang makna ruh, di antaranya Al-Qur’an, wahyu, dan rahmat Allah.
Maknanya sangat dalam.
Sebagaimana tubuh membutuhkan ruh agar hidup, hati membutuhkan wahyu agar benar-benar hidup.
Seseorang mungkin hidup secara biologis: bernapas, bekerja, makan, berbicara dan beraktivitas. Tetapi kehidupan jasmani belum tentu menunjukkan kehidupan hati.
Allah bahkan menggambarkan orang yang tidak menerima kebenaran seperti orang yang mati:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan…”
(QS. Al-An’am: 122)
Para mufasir menjelaskan bahwa “kematian” dalam ayat tersebut adalah kematian dalam kekufuran dan kesesatan, sedangkan “kehidupan” adalah kehidupan dengan iman dan petunjuk.
Karena itu, Al-Qur’an tidak sekadar memberikan informasi kepada manusia. Ia menghidupkan hati dengan iman.
Al-Qur’an Juga Adalah Cahaya
Setelah menyebutnya sebagai ruh, Allah berfirman:
وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا
“Namun Kami menjadikannya cahaya.”
Ini menunjukkan dua fungsi yang sangat indah.
Ruh memberikan kehidupan, sedangkan cahaya menunjukkan jalan.
Hati yang hidup membutuhkan arah. Dan arah itu diberikan melalui cahaya wahyu.
Al-Qur’an memberitahu manusia dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, ke mana ia akan kembali, apa yang benar dan salah, apa yang halal dan haram, serta bagaimana menjalani kehidupan agar mendapatkan keridaan Allah.
Karena itu Allah melanjutkan:
نَّهْدِي بِهِۦ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا
“Dengan cahaya itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”
Al-Qur’an adalah cahaya, tetapi manusia harus membuka hatinya untuk menerima cahaya tersebut.
“Apa yang Telah Al-Qur’an Tanamkan di Hatimu?”
Di sinilah perkataan Malik bin Dinar rahimahullah menjadi sangat menyentuh:
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، مَاذَا زَرَعَ الْقُرْآنُ فِي قُلُوبِكُمْ؟ فَإِنَّ الْقُرْآنَ رَبِيعُ الْقُلُوبِ، كَمَا أَنَّ الْغَيْثَ رَبِيعُ الْأَرْضِ
“Wahai ahli Al-Qur’an, apa yang telah Al-Qur’an tanamkan di dalam hati kalian? Sesungguhnya Al-Qur’an adalah musim semi bagi hati, sebagaimana hujan adalah musim semi bagi bumi.”
Perhatikan pertanyaan tersebut.
Malik bin Dinar tidak mengatakan, “Berapa banyak ayat yang telah kalian baca?”
Ia justru bertanya:
“Apa yang telah Al-Qur’an tanamkan di dalam hati kalian?”
Sebab membaca Al-Qur’an seharusnya menghasilkan kehidupan.
Jika hujan turun ke tanah yang subur, akan tumbuh rumput, tanaman dan berbagai kehidupan. Demikian pula ketika Al-Qur’an benar-benar masuk ke dalam hati, seharusnya tumbuh iman, ketakwaan, kesabaran, kejujuran, rasa takut kepada Allah, kasih sayang, kerendahan hati dan akhlak yang baik.
Maka pertanyaannya bukan hanya:
“Sudah berapa kali kita khatam Al-Qur’an?”
Tetapi:
“Setelah membaca Al-Qur’an, apa yang berubah dalam diri kita?”
Tidak Cukup Hanya Membaca
Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk menjadi bacaan yang indah di lisan.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Shad: 29)
Ayat ini mengajarkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada membaca.
Ada proses:
membaca → memahami → mentadabburi → meyakini → mengamalkan → berubah.
Jika Al-Qur’an dibaca tetapi tidak pernah direnungkan, ia bisa berhenti di lisan. Jika direnungkan tetapi tidak diamalkan, ia belum sepenuhnya menghasilkan perubahan.
Al-Qur’an ingin masuk lebih jauh: dari lisan menuju pikiran, dari pikiran menuju hati, dan dari hati menuju perilaku.
Apakah Ayat Ini Memiliki Asbabun Nuzul?
Untuk QS. Asy-Syura ayat 52 secara khusus, tidak terdapat riwayat sahih yang tegas dan masyhur yang menetapkan satu peristiwa tertentu sebagai sebab turunnya ayat ini.
Karena itu, lebih tepat memahami ayat ini melalui konteks rangkaian ayatnya. Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan cara-cara Allah menyampaikan wahyu kepada manusia:
“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan…”
(QS. Asy-Syura: 51)
Kemudian ayat 52 menjelaskan bahwa wahyu yang diberikan kepada Nabi ﷺ adalah ruh dan cahaya yang menjadi sarana petunjuk menuju jalan yang lurus.
Jadi, kekuatan utama ayat ini bukan pada suatu peristiwa khusus yang melatarbelakanginya, tetapi pada pesan agung yang dikandungnya: Allah menghidupkan manusia dengan wahyu dan menerangi jalannya dengan Al-Qur’an.
Kapan Hati Benar-Benar Hidup?
Hati mulai hidup ketika Al-Qur’an tidak lagi sekadar menjadi sesuatu yang kita baca, tetapi menjadi sesuatu yang membimbing cara kita berpikir, merasa, berbicara dan bertindak.
Ketika membaca ayat tentang kesabaran, kita belajar bersabar.
Ketika membaca ayat tentang ampunan, kita belajar memaafkan.
Ketika membaca ayat tentang rezeki, kita belajar bertawakal.
Ketika membaca ayat tentang dosa, kita belajar takut dan segera bertaubat.
Ketika membaca ayat tentang akhirat, dunia tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan.
Inilah tanda bahwa Al-Qur’an sedang menjadi ruh dalam kehidupan kita.
Penutup: Biarkan Al-Qur’an Menumbuhkan Kehidupan
Tanah yang kering membutuhkan hujan.
Hati yang keras membutuhkan Al-Qur’an.
Hujan yang jatuh ke tanah subur melahirkan kehidupan. Demikian pula Al-Qur’an yang masuk ke hati yang tunduk akan melahirkan iman, ketenangan, ketakwaan dan akhlak.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak Al-Qur’an yang sudah aku baca?”
Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa yang sudah Al-Qur’an tumbuhkan di dalam hatiku?”
Jika setelah membaca Al-Qur’an kita menjadi lebih rendah hati, lebih sabar, lebih jujur, lebih mudah memaafkan, lebih takut kepada Allah dan lebih cinta kepada kebaikan, maka sesungguhnya wahyu itu sedang bekerja dalam diri kita.
Sebab Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca oleh hati yang hidup.
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang menghidupkan hati.
Dan seperti perkataan Malik bin Dinar, ia adalah musim semi bagi hati, sebagaimana hujan adalah musim semi bagi bumi.