Yayasan Ibu Indonesia Mengaji

Adab Menjaga Lisan Menurut Islam: 6 Cara agar Ucapan Menjadi Berkah

www.ibumengaji.com. Pernahkah kita menyesali perkataan yang telanjur diucapkan? Sebuah kalimat yang keluar karena emosi, candaan yang ternyata menyakiti, atau cerita tentang orang lain yang akhirnya menimbulkan perselisihan.

Kita mungkin sudah melupakannya. Namun, orang yang mendengarnya bisa jadi masih mengingatnya sampai bertahun-tahun kemudian.

Inilah salah satu alasan mengapa menjaga lisan menjadi perkara penting dalam Islam. Lisan memang kecil, tetapi pengaruhnya dapat menjangkau banyak orang. Dengan lisan, kita bisa menghibur orang yang bersedih, menenangkan hati yang gelisah, menyampaikan ilmu, dan mempererat persaudaraan. Sebaliknya, ucapan yang tidak terjaga dapat melukai hati, merusak hubungan, dan menimbulkan permusuhan.

Allah Swt. berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).” (QS. Al-Isra’: 53).

Ayat ini tidak sekadar mengajarkan kita untuk berbicara dengan sopan. Allah juga mengingatkan bahwa perkataan yang buruk dapat menjadi jalan bagi setan untuk menimbulkan perselisihan di antara manusia.

Lalu, bagaimana cara menjaga lisan agar perkataan kita membawa kebaikan? Dalam kajian Sabtu Kliwonan di Yayasan Ibu Indonesia Mengaji-Mujahadah BMT PAS, Ustdz. Early Utami, S.Psi, M.A. (Bu Luluk)  memberikan tips menjaga lisan, berikut enam adab yang dapat kita latih dalam kehidupan sehari-hari.

1. Membiasakan Diri Berkata Baik dan Bermanfaat

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 83 agar manusia bertutur kata yang baik.

Berkata baik tidak selalu berarti memberikan nasihat panjang atau mengucapkan kalimat yang indah. Sapaan ramah, ucapan terima kasih, permintaan maaf yang tulus, dan kalimat sederhana yang menguatkan orang lain juga merupakan bentuk kebaikan.

Bayangkan seorang ibu yang mendapati anaknya gagal dalam ujian. Ia bisa langsung memarahi dan membandingkan anaknya dengan orang lain. Namun, ia juga bisa berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Mari kita pelajari bagian yang belum kamu pahami agar nanti lebih siap.”

Keduanya sama-sama memberikan tanggapan terhadap kegagalan. Namun, ucapan kedua memberikan ruang bagi anak untuk belajar tanpa merasa kehilangan harga dirinya.

Begitu pula ketika berbicara dengan pasangan, rekan kerja, atau tetangga. Kita dapat menyampaikan pendapat dan koreksi tanpa harus merendahkan orang lain.

Sebelum berbicara, biasakan bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah cara penyampaiannya baik?

Jika ketiganya kita pertimbangkan, insyaallah lisan akan lebih terjaga.

2. Menjauhi Ghibah dan Fitnah

Ghibah dan fitnah termasuk perbuatan yang dapat merusak kehormatan seseorang serta hubungan antarmanusia.

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ghibah adalah membicarakan saudara kita dengan sesuatu yang tidak disukainya. Ketika ditanya bagaimana jika hal yang dibicarakan itu memang benar, beliau menjelaskan bahwa jika hal tersebut benar-benar ada padanya, itulah ghibah; jika tidak ada padanya, berarti kita telah membuat kedustaan terhadapnya. (HR. Muslim, no. 2589).

Penjelasan ini penting karena kita sering menganggap pembicaraan tentang keburukan orang lain bukan masalah selama ceritanya benar.

Padahal, kebenaran suatu cerita tidak otomatis membuat kita boleh menyebarkannya.

Allah Swt. memberikan perumpamaan yang sangat kuat dalam QS. Al-Hujurat ayat 12. Orang yang menggunjing saudaranya diibaratkan seperti orang yang memakan daging saudaranya yang telah meninggal. Perumpamaan ini mengajak kita menyadari betapa buruknya merusak kehormatan orang lain di belakangnya.

Bagaimana jika teman mulai bergosip di hadapan kita?

Kita tidak harus memarahinya atau mempermalukannya. Cobalah mengalihkan pembicaraan, mengingatkan dengan lembut, atau tidak ikut menambahkan cerita.

Namun, perlu dibedakan antara ghibah dan menyampaikan informasi demi tujuan yang dibenarkan, misalnya melaporkan tindakan yang membahayakan kepada pihak berwenang atau meminta bantuan untuk menyelesaikan kezaliman. Dalam keadaan seperti ini, sampaikan sebatas yang diperlukan, dengan jujur, kepada pihak yang tepat.

Menjaga lisan bukan berarti membiarkan keburukan. Kita tetap dapat mencegah kemungkaran tanpa menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan percakapan yang tidak perlu.

3. Mengurangi Keluhan dan Memperbanyak Syukur

Menghadapi kesulitan terkadang membuat kita ingin mengeluh. Ketika pekerjaan menumpuk, penghasilan berkurang, atau rencana tidak berjalan sesuai harapan, hati bisa terasa berat.

Menceritakan kesulitan untuk mencari solusi bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Kita boleh meminta bantuan, mengungkapkan kesedihan, dan mencari dukungan dari orang yang dipercaya.

Yang perlu dijaga adalah kebiasaan mengeluh tanpa henti hingga membuat kita sulit melihat nikmat yang masih ada.

Allah Swt. berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5).

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak kehilangan harapan ketika menghadapi keadaan yang sulit.

Ketika menghadapi masalah, cobalah mengubah keluhan menjadi langkah yang lebih bermanfaat. Daripada terus mengatakan bahwa penghasilan tidak pernah cukup, kita bisa mulai mengevaluasi pengeluaran dan menyusun anggaran. Daripada hanya mengeluhkan konflik keluarga, kita dapat mencari waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menganggap setiap ungkapan kesedihan sebagai tanda kurang bersyukur. Bahkan, Nabi Ya’qub menyampaikan kesedihan dan pengaduannya kepada Allah dalam QS. Yusuf ayat 86.

Artinya, bersyukur tidak mengharuskan kita berpura-pura bahagia ketika sedang menghadapi masalah.

Bersyukur berarti tetap mengakui nikmat Allah, sementara bersabar berarti terus berusaha menghadapi kesulitan dengan cara yang benar.

4. Mengucapkan Kalimat yang Baik dan Santun

Kadang-kadang, persoalan bukan terletak pada apa yang kita sampaikan, melainkan bagaimana kita menyampaikannya.

Nasihat yang benar bisa terasa menyakitkan apabila disampaikan dengan nada merendahkan. Sebaliknya, teguran yang tegas dapat lebih mudah diterima jika disampaikan dengan santun dan penuh kepedulian.

Rasulullah saw. bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari, no. 6018; lihat juga no. 6475).

Hadis ini memberikan pedoman sederhana yang dapat kita gunakan setiap hari. Ketika perkataan membawa manfaat, sampaikanlah. Ketika kita belum mampu berbicara dengan baik, menahan diri dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana.

Terutama ketika sedang marah, jangan terburu-buru membalas perkataan orang lain. Berikan waktu kepada diri sendiri untuk menenangkan hati.

Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, jangan sampai perbedaan tersebut membuat suami atau istri mengungkit kesalahan lama, merendahkan keluarga pasangan, atau mengucapkan kata-kata yang sulit dilupakan.

Kita tidak harus selalu menang dalam percakapan. Terkadang, menjaga hubungan jauh lebih penting daripada membuktikan bahwa pendapat kita paling benar.

5. Menghindari Ucapan Sia-sia dan Candaan yang Melukai

Bercanda dapat membuat suasana lebih hangat. Akan tetapi, candaan yang berlebihan bisa berubah menjadi ejekan, penghinaan, atau kebiasaan merendahkan orang lain.

Ada orang yang melontarkan perkataan menyakitkan, kemudian berlindung di balik kalimat, “Saya cuma bercanda.”

Padahal, niat bercanda tidak selalu menghapus dampak buruk dari perkataan tersebut.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 53 agar hamba-hamba-Nya mengucapkan perkataan yang lebih baik. Ayat ini juga mengingatkan bahwa setan dapat memanfaatkan perkataan manusia untuk menimbulkan perselisihan.

Karena itu, hindarilah candaan yang merendahkan bentuk tubuh, kondisi ekonomi, pekerjaan, kekurangan fisik, atau keadaan keluarga seseorang.

Adab menjaga lisan juga berlaku di media sosial. Jari yang mengetik komentar mungkin tidak melukai tubuh seseorang, tetapi kata-kata yang ditulis dapat melukai perasaan dan menyebar kepada banyak orang.

Sebelum mengirim pesan di grup WhatsApp atau menulis komentar, berhentilah sejenak. Pikirkan apakah tulisan itu benar, perlu, dan pantas disampaikan.

Jangan sampai sesuatu yang hanya berlangsung beberapa detik ketika kita mengetik justru menimbulkan perselisihan selama berhari-hari.

6. Berdoa dan Membiasakan Evaluasi Diri

Menjaga lisan bukan hanya soal kemampuan memilih kata. Kita juga perlu melatih kesabaran, mengendalikan emosi, dan membersihkan hati dari sifat yang mendorong kita merendahkan orang lain.

Karena itu, mintalah pertolongan Allah agar lisan kita digunakan untuk menyampaikan kebenaran dan kebaikan.

Kita dapat berdoa dengan kalimat sederhana berikut:

“Ya Allah, bimbinglah lisan kami agar senantiasa berkata benar, berkata baik, dan membawa manfaat. Jauhkan kami dari ghibah, fitnah, dusta, dan ucapan yang menyakiti. Jadikanlah perkataan kami sebagai jalan menuju rida-Mu.”

Doa tersebut merupakan susunan doa pribadi, bukan kutipan doa khusus dari hadis.

Selain berdoa, biasakan mengevaluasi perkataan sebelum tidur. Cobalah mengingat kembali percakapan yang terjadi sepanjang hari.

Apakah hari ini ada orang yang tersakiti oleh ucapan kita? Apakah kita ikut membicarakan keburukan seseorang? Apakah kita sudah mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu kita?

Jika menyadari kesalahan, jangan hanya menyesal. Perbaikilah. Apabila kita menyakiti seseorang, mintalah maaf dengan tulus. Jika menyebarkan informasi yang keliru, luruskan informasi tersebut kepada pihak yang menerima.

Kesalahan dalam berbicara dapat menjadi pelajaran untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk terus menyalahkan diri sendiri.

Menjaga Lisan, Menjaga Hati, Merawat Persaudaraan

Menjaga lisan merupakan latihan sepanjang hayat. Kita mungkin belum mampu menghindari semua kesalahan, tetapi setiap hari selalu ada kesempatan untuk memperbaiki cara berbicara.

Mulailah dari hal sederhana: berbicara dengan santun kepada keluarga, tidak ikut bergosip, menghindari candaan yang menyakitkan, serta membiasakan diri mengucapkan kalimat yang menenangkan.

Ingatlah bahwa perkataan yang telah keluar tidak selalu dapat ditarik kembali. Karena itu, kebijaksanaan bukan hanya kemampuan berbicara dengan baik, tetapi juga kemampuan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya diam.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita bukanlah seberapa banyak kata yang kita ucapkan, melainkan seberapa banyak kebaikan yang hadir melalui perkataan tersebut.

Semoga Allah membimbing kita untuk menjaga lisan, membersihkan hati, dan mempererat persaudaraan. Semoga ucapan kita menjadi sumber ketenangan bagi keluarga, penguat bagi sahabat, dan jalan kebaikan bagi masyarakat.

Lisan yang terjaga, hati yang tenang, hidup yang berkah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments