Ada nasihat yang sangat indah tentang bagaimana seorang Muslim menyikapi pujian. Ketika seseorang memuji kita di hadapan kita, dianjurkan untuk berdoa:
فإذا أثنى عليك شخص في وجهك فقل: اللهم اجعلني خيرًا مما يقولون، واغفر لي ما لا يعلمون، ولا تؤاخذني بما يقولون
“Jika seseorang memujimu di hadapanmu, maka ucapkanlah: Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka katakan, ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau menghukumku karena apa yang mereka katakan.”
Memahami Makna Kata-Kata Penting
Kata أَثْنَى (atsnā) berarti memuji atau menyebutkan kebaikan seseorang. Adapun خَيْرًا (khairan) berarti lebih baik. Doa اللهم اجعلني خيرًا مما يقولون berarti permohonan agar keadaan diri kita di hadapan Allah benar-benar lebih baik daripada gambaran baik yang disampaikan manusia.
Kata اغفر (ighfir) berasal dari kata maghfirah, yaitu ampunan Allah. Sementara ما لا يعلمون berarti “apa yang tidak mereka ketahui”. Manusia hanya melihat bagian luar kehidupan seseorang. Mereka tidak mengetahui seluruh dosa, kekurangan, kelemahan, perjuangan, dan kesalahan yang tersembunyi.
Adapun لا تؤاخذني berarti “janganlah Engkau menghukumku”. Sedangkan بما يقولون berarti “karena apa yang mereka katakan”. Doa ini menunjukkan bahwa pujian manusia tidak boleh membuat seseorang merasa aman dari penilaian Allah.
Bagaimana Adab Memuji?
Islam tidak melarang seseorang memuji orang lain. Pujian bahkan dapat menjadi sarana memberikan penghargaan, membangun semangat, dan menguatkan seseorang dalam kebaikan. Namun, pujian memiliki adab.
Pujian hendaknya benar, proporsional, dan tidak berlebihan. Jangan memuji sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Jangan pula memberikan sanjungan yang membuat seseorang merasa dirinya sempurna.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahaya pujian yang berlebihan. Pujian dapat menjadi ujian bagi orang yang dipuji apabila membuatnya terjebak dalam kesombongan, merasa lebih tinggi daripada orang lain, atau bergantung kepada penilaian manusia.
Karena itu, pujian yang baik adalah pujian yang mendorong seseorang bersyukur kepada Allah, bukan membanggakan dirinya sendiri. Misalnya, daripada mengatakan, “Engkau hebat karena kemampuanmu sendiri,” lebih baik mengatakan, “Masya Allah, semoga Allah memberkahi ilmu dan kemampuanmu.” Dengan demikian, pujian dikembalikan kepada Allah sebagai sumber segala nikmat.
Mengapa Memohon Menjadi Lebih Baik dari Pujian Mereka?
Kalimat اللهم اجعلني خيرًا مما يقولون mengajarkan kerendahan hati yang sangat dalam.
Ketika seseorang memuji kita, sebenarnya ia sedang menyampaikan penilaiannya berdasarkan apa yang terlihat. Bisa jadi ia melihat kita rajin beribadah, suka membantu, amanah, dermawan, atau memiliki akhlak yang baik. Namun, kita sendiri mengetahui bahwa masih banyak kekurangan yang belum terlihat.
Karena itu, seorang mukmin tidak berhenti pada rasa senang ketika dipuji. Ia justru menjadikan pujian sebagai doa dan motivasi untuk memperbaiki diri.
“Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka katakan.”
Artinya, jangan sampai pujian manusia hanya menggambarkan sesuatu yang sebenarnya belum ada secara sempurna dalam diri kita. Jika mereka mengatakan kita baik, semoga Allah benar-benar menjadikan kita baik. Jika mereka mengatakan kita ikhlas, semoga Allah memberikan keikhlasan yang sebenarnya. Jika mereka mengatakan kita saleh, semoga Allah memperbaiki kesalehan kita.
“Ampunilah Aku dari Apa yang Tidak Mereka Ketahui”
Bagian kedua doa ini sangat menyentuh: وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ.
Manusia melihat amal yang tampak, sementara Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang tersembunyi dalam hati.
Mungkin seseorang dikenal sebagai orang yang rajin bersedekah, tetapi ia pernah memiliki kesalahan yang tidak diketahui orang lain. Mungkin seseorang terlihat sabar, tetapi di dalam dirinya masih ada kelemahan yang sedang ia perjuangkan.
Karena itu, pujian semestinya membuat kita semakin banyak beristighfar, bukan semakin membanggakan diri.
Jangan Terpedaya oleh Pujian
Bagian terakhir, وَلَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ, mengandung permohonan perlindungan agar kita tidak celaka karena pujian manusia.
Pujian bisa menjadi fitnah apabila membuat seseorang merasa dirinya sudah baik, kemudian berhenti memperbaiki diri. Lebih berbahaya lagi jika seseorang mulai beramal agar dipuji.
Maka, doa ini sebenarnya mengajarkan keseimbangan: ketika dipuji, jangan sombong; ketika dipuji, jangan merasa sempurna; ketika dipuji, jangan lupa beristighfar; dan ketika dipuji, jadikanlah pujian sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik.
Pujian manusia bersifat sementara. Penilaian Allah adalah yang menentukan. Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang yang sibuk mempertahankan citra baik di hadapan manusia, tetapi orang yang sungguh-sungguh memperbaiki dirinya di hadapan Allah.
Semoga setiap pujian yang sampai kepada kita tidak menjadi sebab kesombongan, tetapi menjadi doa yang mengantarkan kita kepada perbaikan diri, ampunan Allah, dan keselamatan dari fitnah pujian.