www.ibumengaji.com Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan dengan lisan. Ia adalah kalamullah, firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang diturunkan sebagai petunjuk, cahaya, dan rahmat bagi manusia. Karena kemuliaannya, para ulama memberikan perhatian besar terhadap adab ketika seorang Muslim berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Imam an-Nawawī رحمه الله dalam kitab At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalatil Qur’ān menjelaskan:
يُسْتَحَبُّ لِلْقَارِئِ فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ… وَيَجْلِسَ مُتَخَشِّعًا بِسَكِينَةٍ وَوَقَارٍ، مُطَرِّقًا رَأْسَهُ، وَيَكُونَ جُلُوسُهُ وَحْدَهُ فِي الْأَدَبِ وَالْخُضُوعِ كَجُلُوسِهِ بَيْنَ يَدَيْ مُعَلِّمِهِ؛ فَهَذَا هُوَ الْأَكْمَلُ
“Disunnahkan bagi pembaca Al-Qur’an di luar shalat untuk menghadap kiblat… duduk dengan khusyuk disertai ketenangan dan wibawa, sambil menundukkan kepalanya. Hendaknya ketika sendirian ia duduk dengan penuh adab dan ketundukan seperti duduknya di hadapan gurunya; sebab inilah keadaan yang paling sempurna.”
Perkataan Imam an-Nawawī menunjukkan bahwa menghadap kiblat merupakan adab yang dianjurkan, bukan syarat sah membaca Al-Qur’an. Demikian pula duduk dengan tenang dan penuh kekhusyukan merupakan bentuk kesempurnaan adab. Artinya, seseorang tetap boleh membaca Al-Qur’an dalam keadaan lain sesuai kebutuhan dan kemampuannya. Namun, ketika keadaan memungkinkan, menghadirkan adab tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap kalam Allah.
Menghormati Pemilik Kalam
Hal pertama yang perlu hadir dalam hati adalah kesadaran bahwa yang sedang kita baca bukan perkataan manusia. Al-Qur’an adalah firman Allah Yang Maha Mulia.
Kesadaran ini semestinya melahirkan sikap hormat. Menghadap kiblat, menjaga ketenangan, menundukkan kepala, dan tidak tergesa-gesa adalah bagian dari usaha seorang hamba untuk mengagungkan wahyu.
Namun, penghormatan kepada Al-Qur’an tidak berhenti pada sikap tubuh. Adab lahir seharusnya mengantarkan kepada adab hati.
Adab Lahir Membantu Menghadirkan Hati
Seseorang yang duduk dengan tenang akan lebih mudah mengumpulkan pikirannya. Demikian pula seseorang yang mengurangi gangguan ketika membaca Al-Qur’an akan lebih mudah menghadirkan hati.
Inilah yang dapat membantu seseorang mencapai jam‘ul qalb, yaitu terkumpulnya perhatian dan hati ketika membaca ayat-ayat Allah.
Tujuan akhirnya bukan sekadar membaca dengan posisi tubuh yang baik, tetapi agar hati lebih siap menerima petunjuk. Dari sinilah lahir tadabbur: merenungkan makna ayat, mengambil pelajaran, kemudian berusaha mengamalkannya.
Karena itu, membaca satu halaman dengan hati yang hadir dan berusaha memahami pesannya dapat menjadi pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan membaca banyak halaman dengan pikiran yang terus mengembara.
Beberapa Adab Ketika Membaca Al-Qur’an
Para ulama menjelaskan berbagai adab dalam membaca Al-Qur’an. Di antaranya adalah membersihkan diri dan menjaga kebersihan, memilih tempat yang baik dan tenang, membaca ta‘awudz sebelum memulai, membaca dengan tartil dan tidak tergesa-gesa, serta berusaha memperhatikan makna ayat.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)
Ketika membaca ayat tentang rahmat, seorang mukmin berharap kepada Allah. Ketika membaca ayat tentang azab, ia berlindung kepada-Nya. Ketika membaca perintah, ia berusaha menerimanya dengan ketundukan. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya melewati lisan, tetapi juga menyentuh hati.
Al-Qur’an Adalah Guru Utama Kehidupan
Imam an-Nawawī memberikan gambaran yang sangat indah: hendaknya seorang pembaca Al-Qur’an duduk seperti seseorang yang duduk di hadapan gurunya.
Seorang murid akan menjaga sikap ketika berada di hadapan guru karena ia menyadari bahwa dirinya sedang menerima ilmu. Maka bagaimana dengan Al-Qur’an, yang merupakan petunjuk dari Allah untuk seluruh perjalanan kehidupan?
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca. Ia adalah petunjuk yang harus didengar dengan hati, direnungkan dengan akal, dan diwujudkan dalam amal.
Membaca Al-Qur’an Adalah Munajat
Imam an-Nawawī juga mengingatkan bahwa pembaca Al-Qur’an hendaknya menyadari bahwa dirinya sedang bermunajat kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.”
(HR. at-Tirmidzi)
Maka jangan sampai lisan membaca Al-Qur’an sementara hati justru jauh dari Allah. Setiap kali membuka mushaf, hadirkan kesadaran bahwa kita sedang menerima pesan dari Rabb Yang Maha Mengetahui keadaan kita.
Hadirkan Hati Ketika Membuka Mushaf
Adab membaca Al-Qur’an pada akhirnya bukan sekadar persoalan bagaimana kita duduk, ke mana kita menghadap, atau seberapa banyak halaman yang kita selesaikan. Semua itu adalah jalan untuk menghadirkan pengagungan, ketundukan, dan kesadaran hati di hadapan firman Allah.
Mungkin hari ini kita belum mampu membaca Al-Qur’an sebanyak yang kita inginkan. Tidak mengapa. Mari mulai dengan membaca lebih tenang, lebih sadar, dan lebih berusaha memahami maknanya.
Jangan hanya bertanya, “Berapa halaman yang sudah aku baca hari ini?” Tetapi tanyakan pula, “Ayat apa yang hari ini menyentuh hatiku dan mengubah sikapku?”
Sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang selesai ketika halaman terakhir ditutup. Ia adalah petunjuk yang seharusnya terus hidup dalam hati dan tercermin dalam kehidupan.
Ketika hari ini kita membuka mushaf, apakah yang datang hanya lisan kita, ataukah hati kita juga benar-benar datang menghadap Allah?