www.ibumengaji.com Setiap manusia menjalani kehidupan dengan mencari jawaban atas berbagai pertanyaan: untuk apa saya hidup, dari mana saya berasal, siapa yang menentukan kehidupan saya, kepada siapa saya harus berharap, dan ke mana saya akan kembali?
Islam memberikan jawaban yang sangat mendasar: kehidupan manusia harus dimulai dengan mengenal Allah dan mengesakan-Nya.
Inilah yang disebut tauhid. Tauhid bukan sekadar satu bagian dari pelajaran akidah. Tauhid adalah fondasi seluruh bangunan Islam. Ia menjadi dasar bagi iman, ibadah, akhlak, muamalah, perjuangan, kesabaran, tawakal, bahkan cara seorang Muslim memandang dunia dan kehidupan.
Jika fondasi sebuah bangunan kokoh, bangunan di atasnya dapat berdiri dengan kuat. Demikian pula kehidupan seorang Muslim. Semakin kokoh tauhidnya, semakin jelas arah hidupnya.
Karena itu, pembahasan tentang tauhid bukan sekadar pembahasan teoretis. Ia menyentuh pertanyaan paling mendasar tentang siapa manusia, untuk apa manusia hidup, dan kepada siapa manusia akan mempertanggungjawabkan kehidupannya.
Apa Sebenarnya Tauhid Itu?
Secara bahasa, tauhid berasal dari kata Arab وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيدًا yang berarti menjadikan sesuatu satu atau mengesakan.
Dalam pengertian syariat, tauhid berarti mengesakan Allah dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan-Nya.
Para ulama menjelaskan tauhid dengan berbagai redaksi. Di antara penjelasan yang populer dalam literatur akidah adalah mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, serta nama dan sifat-Nya.
Namun penting dipahami bahwa pembagian tersebut adalah cara ulama menjelaskan dan mengklasifikasikan kandungan tauhid, bukan berarti tauhid sebagai agama terpecah menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri.
Inti semuanya tetap satu:
Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Karena itu, tauhid tidak cukup hanya dengan keyakinan bahwa Allah ada.
Tauhid menuntut pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta, sekaligus menuntut manusia untuk mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada-Nya.
Inilah yang dijelaskan Rasulullah ﷺ ketika bersabda kepada Mu’adz bin Jabal:
«أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا»
“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ menjelaskan inti tauhid: ibadah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.
Tauhid Adalah Inti Dakwah Seluruh Nabi
Tauhid bukan ajaran yang baru muncul pada masa Nabi Muhammad ﷺ.
Sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa hingga Nabi Muhammad ﷺ, pesan fundamental para nabi adalah mengajak manusia kembali kepada Allah.
Allah Swt. berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat dengan seruan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”
(QS. An-Nahl: 36)
Ayat ini menunjukkan kesatuan misi para rasul: mengajak manusia beribadah kepada Allah dan menjauhi segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya.
Allah juga berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya’: 25)
Dengan demikian, tauhid merupakan benang merah risalah kenabian.
Syariat masing-masing nabi dapat memiliki perbedaan dalam beberapa hukum dan tata cara ibadah, tetapi pokok dakwah mereka sama: mengesakan Allah.
Mengapa Manusia Diciptakan?
Pertanyaan berikutnya sangat penting:
Jika tauhid begitu fundamental, mengapa Allah menciptakan manusia?
Al-Qur’an memberikan jawaban:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini memberikan orientasi kehidupan yang sangat mendasar.
Manusia memang bekerja, belajar, berdagang, membangun keluarga, mencari nafkah, menjadi pemimpin, mengembangkan teknologi dan memakmurkan bumi. Semua itu penting.
Tetapi semua aktivitas tersebut bukan tujuan tertinggi keberadaan manusia.
Tujuan tertingginya adalah pengabdian kepada Allah.
Dalam penjelasan ulama yang dinukil dalam kajian tauhid, makna liya’budun pada ayat tersebut dikaitkan dengan liyuwahhidun—agar manusia mengesakan Allah. Penjelasan tersebut juga ditemukan dalam tradisi penafsiran yang dinisbatkan kepada Imam al-Bukhari dan ulama setelahnya.
Artinya, tauhid bukan sesuatu yang berada di pinggir kehidupan.
Tauhid adalah tujuan mendasar kehidupan manusia.
Apakah Manusia Hanya Diciptakan untuk Beribadah di Masjid?
Sekilas, ayat tentang tujuan penciptaan dapat menimbulkan pertanyaan:
“Kalau manusia diciptakan untuk beribadah, apakah berarti seluruh hidup hanya diisi dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dan berada di masjid?”
Tentu tidak sesempit itu.
Ibadah dalam Islam memiliki cakupan yang luas.
Shalat adalah ibadah. Puasa adalah ibadah. Zakat adalah ibadah. Tetapi bekerja mencari nafkah dengan cara halal juga dapat menjadi ibadah. Mendidik anak dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi ibadah. Menolong orang lain dapat menjadi ibadah. Berdagang dengan jujur dapat menjadi ibadah. Mengelola lembaga dengan amanah dapat menjadi ibadah. Bahkan aktivitas kehidupan sehari-hari dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal, niat yang benar, dan tidak bertentangan dengan syariat. Karena itu, tauhid tidak membuat manusia meninggalkan dunia. Sebaliknya, tauhid mengubah cara manusia menjalani dunia.
Seorang Muslim tidak harus meninggalkan pekerjaan untuk menjadi hamba Allah. Ia justru menjadikan pekerjaannya sebagai sarana pengabdian kepada Allah.
Makna Lā Ilāha Illallāh
Pusat tauhid terdapat dalam kalimat:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Lā ilāha illallāh.
Kalimat ini sering diterjemahkan sebagai “Tidak ada Tuhan selain Allah.”
Namun maknanya dalam konteks tauhid lebih tepat dipahami sebagai:
“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.”
Kalimat tersebut memiliki dua kandungan besar.
Pertama: Menolak
لَا إِلٰهَ
Tidak ada sesembahan yang berhak menerima ibadah. Ini berarti seorang Muslim menolak segala bentuk penyembahan kepada selain Allah.
Kedua: Menetapkan
إِلَّا اللهُ
Hanya Allah yang berhak menerima seluruh ibadah. Maka tauhid tidak sekadar mengandung penolakan terhadap berhala. Tauhid juga menuntut penetapan hak Allah untuk disembah. Inilah sebabnya kalimat Lā ilāha illallāh bukan sekadar slogan. Ia merupakan ikrar, keyakinan, orientasi hidup, dan konsekuensi amal.
Mengapa Orang Musyrik Dahulu Mengakui Allah tetapi Tetap Disebut Musyrik?
Di sinilah kita menemukan salah satu persoalan penting dalam memahami tauhid. Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebagian kaum musyrik sebenarnya mengakui Allah sebagai pencipta.
Allah berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
“Jika engkau bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.'”
Namun pengakuan bahwa Allah adalah pencipta belum membuat mereka menjadi orang yang bertauhid secara benar.
Mengapa? Karena mereka masih memberikan ibadah kepada selain Allah. Di sinilah pentingnya membedakan antara: mengakui Allah sebagai Pencipta dan mengesakan Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah. Tauhid yang benar tidak berhenti pada pengakuan terhadap kekuasaan Allah. Ia harus sampai pada penghambaan hanya kepada Allah.