Sirah Nabi Muhammad ﷺ: Menjelang Kelahiran Sang Rasul
1. Nasab Mulia dari Nabi Ismail ‘Alaihissalam
Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ merupakan puncak dari perjalanan panjang sebuah nasab yang mulia. Beliau berasal dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam, putra Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, Quraisy dari Kinanah, Bani Hasyim dari Quraisy, kemudian memilih beliau dari Bani Hasyim.
Nasab tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah ﷺ berada dalam rangkaian sejarah yang telah Allah persiapkan jauh sebelum beliau dilahirkan. Dari keluarga Nabi Ismail inilah kemudian berkembang berbagai kabilah Arab, termasuk Quraisy yang menetap dan berkembang di Makkah.
2. Makkah dan Kedudukan Ka’bah
Makkah memiliki kedudukan istimewa karena di dalamnya terdapat Ka’bah. Rumah suci ini dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai tempat ibadah kepada Allah.
Allah berfirman:
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا
“Dan ingatlah ketika Kami menjadikan Baitullah sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.”
(QS. Al-Baqarah: 125)
Karena kedudukan tersebut, Makkah menjadi tempat yang ramai dikunjungi berbagai kabilah Arab. Pelayanan terhadap Ka’bah sekaligus menjadi sumber kehormatan dan pengaruh bagi keluarga yang mengelolanya.
3. Qusay dan Kepemimpinan Quraisy
Dalam sejarah Quraisy, Qusay bin Kilab merupakan salah satu tokoh penting. Ia berhasil menyatukan dan mengorganisasi masyarakat Quraisy di Makkah. Berbagai kewenangan penting berkaitan dengan Ka’bah berada dalam pengelolaannya.
Di antaranya adalah hijabah, yaitu pengurusan Ka’bah; liwa, yang berkaitan dengan kepemimpinan perang; wifadah, yaitu menerima dan melayani para tamu; serta siqayah, yaitu menyediakan minuman bagi para peziarah.
Dari sini terlihat bahwa kepemimpinan Makkah tidak hanya menyangkut kekuasaan, tetapi juga pelayanan kepada masyarakat dan para tamu Baitullah.
4. Dari Abdul Manaf kepada Hasyim
Setelah Qusay wafat, terjadi persaingan di antara keturunannya mengenai hak pengelolaan Ka’bah. Abdul Manaf memperoleh penghormatan besar dari masyarakat. Dari keturunannya lahir Hasyim, tokoh yang kemudian memegang peranan penting dalam pelayanan kepada jamaah Ka’bah.
Hasyim menikah dengan Salma binti Amr dari Bani Khazraj di Yatsrib. Dari pernikahan tersebut lahirlah Syaibah. Ketika masih muda, Syaibah dibawa ke Makkah oleh Muthalib, saudaranya. Masyarakat Makkah yang belum mengenalnya mengira ia adalah seorang budak, sehingga ia disebut Abdul Muthalib.
Nama tersebut akhirnya melekat dan menjadi nama yang sangat dikenal dalam sejarah Islam. Abdul Muthalib kelak menjadi kakek Nabi Muhammad ﷺ.
5. Abdul Muthalib dan Abdullah
Abdul Muthalib kemudian menjadi salah satu pemimpin Quraisy yang disegani. Salah satu peristiwa penting dalam kehidupannya adalah ditemukannya kembali sumur Zamzam.
Dalam perjalanan hidupnya, ia juga pernah menghadapi ujian berat berkaitan dengan nazar yang dibuatnya. Ketika jumlah anak laki-lakinya telah mencapai sepuluh, ia bermaksud memenuhi nazarnya. Abdullah, salah seorang putranya, terpilih dalam undian.
Namun masyarakat Quraisy menolak jika Abdullah dikorbankan. Setelah melalui proses penyelesaian, Abdullah akhirnya ditebus dengan seratus ekor unta. Abdullah kemudian tumbuh menjadi pemuda yang dikenal mulia. Ia menikah dengan Aminah binti Wahb.
Dari pasangan inilah lahir Muhammad bin Abdullah ﷺ.
6. Tahun Gajah: Penjagaan Allah terhadap Ka’bah
Salah satu peristiwa terbesar menjelang kelahiran Rasulullah ﷺ adalah serangan pasukan bergajah ke Makkah. Peristiwa ini dikenal sebagai ‘Amul Fil, atau Tahun Gajah.
Al-Qur’an mengabadikannya dalam Surah Al-Fil:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan.”
(QS. Al-Fil: 1–5)
Peristiwa tersebut mengandung pelajaran penting. Ka’bah tidak diselamatkan oleh kekuatan manusia, tetapi oleh pertolongan Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa kekuatan sebesar apa pun tidak akan mampu mengalahkan kehendak-Nya.
Adapun berbagai teori modern yang menghubungkan thayran ababil dengan wabah penyakit atau fenomena alam seperti hujan meteor sebaiknya ditempatkan sebagai hipotesis. Al-Qur’an sendiri menyebutnya sebagai thayran ababil dan menjelaskan bahwa pasukan tersebut dilempari batu dari sijjil. Karena itu, penafsiran ilmiah tersebut tidak seharusnya dipastikan sebagai makna ayat.
7. Kelahiran Sang Rasul
Dalam konteks sejarah itulah Muhammad bin Abdullah ﷺ dilahirkan. Beliau berasal dari Bani Hasyim, salah satu keluarga terhormat Quraisy, dan merupakan keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Kelahiran beliau bukan sekadar kelahiran seorang tokoh besar. Ia menjadi awal dari perubahan besar dalam sejarah umat manusia. Allah kemudian mengutus Muhammad ﷺ sebagai Rasul terakhir dan pembawa risalah bagi seluruh manusia.
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”
(QS. Saba’: 28)
Karena itu, perjalanan menjelang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa sejarah tidak berjalan secara kebetulan. Dari Nabi Ibrahim dan Ismail, perjalanan keturunan berlanjut melalui Quraisy dan Bani Hasyim hingga Abdullah dan akhirnya Muhammad ﷺ. Di Makkah yang dijaga Allah itulah lahir manusia yang kelak membawa risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.