www.ibumengaji.com Ungkapan yang dinukil dari Imam Ibnul Jauzi رحمه الله dalam Bahrud Dumu‘ dapat ditulis dengan harakat sebagai berikut:
فَمَنْ حَفِظَ لِسَانَهُ لِأَجْلِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا، أَطْلَقَ اللَّهُ لِسَانَهُ بِالشَّهَادَةِ عِنْدَ الْمَوْتِ وَلِقَاءِ اللَّهِ تَعَالَى.
Artinya: “Barang siapa menjaga lisannya karena Allah Ta‘ala di dunia, Allah akan melancarkan lisannya untuk mengucapkan syahadat ketika kematian dan ketika bertemu dengan Allah Ta‘ala.” Ungkapan ini memang dinisbatkan kepada Ibnul Jauzi dalam Bahrud Dumu‘, dan sejumlah sumber mencantumkannya pada halaman 124.
Memahami Kata-Kata Penting
Kata حَفِظَ (ḥafiẓa) berarti menjaga, memelihara, atau menahan dari sesuatu yang membahayakan. لِسَانَهُ (lisānahu) berarti lisannya. Secara istilah, menjaga lisan berarti mengendalikan ucapan agar tidak digunakan untuk kebohongan, ghibah, fitnah, namimah, celaan, penghinaan, perkataan keji, maupun pembicaraan yang tidak bermanfaat.
Frasa لِأَجْلِ اللَّهِ (li-ajlillāh) berarti “demi Allah” atau “karena Allah”. Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan bukan semata-mata agar dianggap santun oleh manusia, melainkan bentuk ketaatan dan muraqabah kepada Allah.
Kata أَطْلَقَ (aṭlaqa) berarti melepaskan, melancarkan, atau memberikan keleluasaan. Sedangkan الشَّهَادَة (asy-syahādah) berarti kesaksian. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah kemampuan mengucapkan kalimat tauhid dan syahadat pada saat menghadapi kematian. Adapun لِقَاءِ اللَّهِ (liqā’illāh) berarti perjumpaan dengan Allah, yakni keadaan manusia ketika kembali kepada-Nya setelah kehidupan dunia.
Mengenal Kitab Bahrud Dumu‘
Bahrud Dumu‘ atau Baḥr ad-Dumū‘ berarti “Lautan Air Mata.” Kitab ini merupakan karya Imam Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi al-Qurasyi al-Baghdadi, yang lebih dikenal sebagai Ibnul Jauzi, seorang ulama besar yang wafat pada 597 H. Katalog-katalog kitab menempatkannya dalam bidang tazkiyah, akhlak, zuhud, raqā’iq, dan nasihat.
Secara global, kitab ini berisi nasihat dan renungan yang mengajak manusia melakukan introspeksi, mengingat kematian, bertaubat, meninggalkan dosa, memperbaiki hati, serta mempersiapkan kehidupan akhirat. Ibnul Jauzi menggunakan ayat Al-Qur’an, hadis, kisah, perkataan salaf, dan syair untuk menggugah hati pembacanya. Karena karakter tersebut, Bahrud Dumu‘ termasuk karya yang kuat dalam tradisi kitab-kitab raqā’iq, yaitu karya yang bertujuan melembutkan hati dan membangkitkan kesadaran spiritual.
Mengapa Menjaga Lisan Sangat Penting?
Ucapan sering kali dianggap ringan karena keluar hanya dalam hitungan detik. Padahal, akibatnya dapat berlangsung bertahun-tahun. Satu kalimat dapat mendamaikan dua orang, tetapi satu kalimat pula dapat menghancurkan persaudaraan.
Al-Qur’an mengingatkan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).
Ayat ini membangun kesadaran bahwa tidak ada ucapan yang benar-benar “hilang”. Setiap perkataan berada dalam pengetahuan dan pencatatan Allah.
Allah juga berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53). Ayat ini sekaligus mengingatkan bahwa ucapan yang buruk dapat menjadi jalan setan untuk menimbulkan perselisihan di antara manusia.
Lebih tegas lagi, Al-Qur’an melarang ghibah:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12). Ghibah bahkan digambarkan dengan perumpamaan yang sangat keras, yaitu memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.
Penegasan dari Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ memberikan prinsip sederhana tetapi sangat mendalam:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan berstatus sahih.
Hadis tersebut tidak berarti Islam memerintahkan manusia untuk selalu diam. Prinsipnya adalah berbicara ketika perkataan itu membawa kebaikan dan memilih diam ketika ucapan berpotensi membawa keburukan. Dengan demikian, menjaga lisan bukan berarti kehilangan keberanian berbicara, tetapi memiliki kebijaksanaan dalam menentukan apa yang layak diucapkan.
Menjaga Lisan sebagai Jalan Husnul Khatimah
Pesan Ibnul Jauzi menjadi sangat penting karena menghubungkan kebiasaan lisan di dunia dengan keadaan seseorang ketika menghadapi kematian. Orang yang membiasakan lidahnya dengan dzikir, kebenaran, doa, nasihat, dan perkataan baik sedang melatih dirinya untuk mencintai kalimat-kalimat kebaikan. Sebaliknya, orang yang membiasakan lisannya dengan kebohongan, ghibah dan mencela kehormatan orang lain sedang membentuk kebiasaan yang dapat merusak dirinya.
Karena itu, menjaga lisan hendaknya dimulai dari hal-hal sederhana: berpikir sebelum berbicara, memastikan kebenaran sebuah berita, menghindari membicarakan aib orang lain, tidak mudah mencela, mengurangi perdebatan yang tidak bermanfaat, serta membiasakan lidah dengan dzikir dan perkataan yang baik.
Pada akhirnya, lisan adalah cermin hati dan sekaligus salah satu jalan menuju keselamatan atau kebinasaan. Apa yang keluar dari lisan mungkin hanya berlangsung sesaat, tetapi pertanggungjawabannya dapat terbawa sampai akhirat. Maka, sebagaimana pesan Bahrud Dumu‘, menjaga lisan karena Allah bukan sekadar akhlak sosial, melainkan bagian dari perjalanan seorang hamba menuju perjumpaan dengan-Nya.