www.ibumengaji.com Ketika seseorang mengucapkan “أَسْتَغْفِرُ اللهَ” (Astaghfirullah), sesungguhnya ia sedang memohon sesuatu yang sangat besar kepada Allah. Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sebuah pengakuan bahwa manusia memiliki kesalahan dan sangat membutuhkan ampunan Allah.
Ungkapan yang dinisbatkan kepada penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih رحمه الله تعالى tersebut dapat ditulis dengan harakat sebagai berikut:
عِنْدَمَا تَقُولُ: «أَسْتَغْفِرُ اللهَ»، تَسْأَلُ اللهَ شَيْئَيْنِ: سَتْرَ الذَّنْبِ، وَالتَّجَاوُزَ عَنْهُ، بِحَيْثُ لَا يُعَاقِبُكَ اللهُ عَلَيْهِ.
Artinya:
“Ketika engkau mengucapkan, ‘Aku memohon ampun kepada Allah’, engkau meminta kepada Allah dua hal: menutupi dosa dan mengampuni dosa tersebut, sehingga Allah tidak menghukummu karenanya.”
Penjelasan ini disebutkan dalam pembahasan tentang makna maghfirah, yaitu bahwa ampunan Allah mencakup menutupi dosa sekaligus tidak menghukum hamba karena dosa tersebut.
Memahami kata-kata penting
Kata عِنْدَمَا (ʿindamā) berarti “ketika”. تَقُولُ (taqūlu) berarti “engkau mengatakan”. Kata أَسْتَغْفِرُ (astaghfiru) berasal dari akar kata غَفَرَ (ghafara) yang berkaitan dengan makna menutupi dan melindungi. Dalam bentuk istighfar, kata ini berarti memohon ampunan.
Kata اللهَ adalah objek yang dimintai ampunan. Adapun شَيْئَيْنِ berarti “dua hal”. Kemudian سَتْرَ الذَّنْبِ berarti “menutupi dosa”, sedangkan التَّجَاوُزَ عَنْهُ berarti “melewati atau memaafkan dosa tersebut”.
Kata بِحَيْثُ bermakna “sehingga”, sementara لَا يُعَاقِبُكَ اللهُ عَلَيْهِ berarti “Allah tidak menghukummu karenanya”.
Dengan demikian, ketika kita mengucapkan Astaghfirullah, kita tidak hanya meminta agar dosa kita tidak diketahui manusia. Kita memohon kepada Allah agar dosa itu ditutupi dan diampuni, sehingga kita selamat dari hukuman atas dosa tersebut.
Apa makna istighfar secara bahasa?
Secara bahasa, istighfar (الِاسْتِغْفَارُ) berasal dari kata غَفَرَ – يَغْفِرُ – مَغْفِرَةً, yang berarti memohon maghfirah, yaitu ampunan.
Karena itu, أَسْتَغْفِرُ اللهَ secara sederhana berarti:
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
Namun, maknanya lebih dalam daripada sekadar mengucapkan kata-kata. Seorang hamba mengakui bahwa dirinya memiliki kekurangan, kesalahan, dan dosa, kemudian ia kembali memohon kepada Allah agar dosa tersebut diampuni.
Apa makna istighfar secara istilah?
Secara istilah, istighfar adalah permohonan seorang hamba kepada Allah agar dosa-dosanya diampuni, ditutupi, dan tidak dihukum karenanya.
Istighfar yang benar juga seharusnya disertai dengan taubat. Artinya, seseorang tidak hanya mengucapkan Astaghfirullah, tetapi juga menyesali dosa, meninggalkannya, dan berusaha tidak mengulanginya.
Al-Qur’an memberikan harapan yang sangat besar. Allah berfirman:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Barang siapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 110).
Allah juga mengajarkan melalui Nabi Nuh عليه السلام:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا
“Maka aku berkata, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun.’” (QS. Nuh: 10).
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya amalan setelah seseorang melakukan dosa. Istighfar merupakan bagian dari kehidupan seorang mukmin.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan
Yang sangat menarik, Rasulullah ﷺ adalah manusia yang telah mendapatkan ampunan Allah, tetapi beliau tetap memperbanyak istighfar.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau beristighfar dan bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.
Ini memberikan pelajaran penting: istighfar bukan hanya untuk orang yang merasa banyak dosa. Istighfar adalah kebutuhan setiap orang yang ingin selalu dekat dengan Allah.
Kapan waktu terbaik untuk beristighfar?
Pada dasarnya, istighfar dapat dilakukan kapan saja. Tidak perlu menunggu melakukan dosa terlebih dahulu. Bahkan semakin sering seseorang mengingat kelemahan dirinya dan kebesaran ampunan Allah, semakin baik.
Namun, Al-Qur’an secara khusus memuji orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur, yaitu penghujung malam menjelang Subuh:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampunan.” (QS. Adz-Dzariyat: 18).
Waktu ini sangat istimewa karena suasana malam lebih tenang. Hati lebih mudah menghadirkan rasa takut, berharap, menyesal, dan berserah diri kepada Allah.
Istighfar juga sangat baik dilakukan segera setelah menyadari kesalahan, setelah melakukan dosa, dalam doa, serta sebagai bagian dari dzikir sehari-hari. Rasulullah ﷺ sendiri membiasakan istighfar dalam kehidupan beliau.
Makna yang perlu kita bawa dalam kehidupan
Maka, ketika kita mengucapkan “أَسْتَغْفِرُ اللهَ”, jangan biarkan ia hanya menjadi gerakan lisan.
Ucapkan dengan kesadaran:
“Ya Allah, aku mengakui kesalahanku. Tutupilah aibku. Ampunilah dosaku. Jangan hukum aku karena kesalahanku. Berikan aku kekuatan untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki diri.”
Inilah keindahan istighfar. Ia mengajarkan manusia untuk tidak sombong dengan amalnya dan tidak pula berputus asa karena dosanya.
Orang yang banyak beristighfar bukan berarti orang yang tidak pernah salah. Justru ia menyadari bahwa dirinya mudah salah dan sangat membutuhkan Allah.
Karena itu, biasakanlah lisan kita basah dengan Astaghfirullah. Bukan hanya ketika hati sedang gelisah, bukan hanya setelah melakukan kesalahan, tetapi setiap hari. Sebab kita tidak pernah tahu dosa mana yang membutuhkan ampunan, aib mana yang sedang Allah tutupi, dan kesalahan mana yang hanya karena rahmat-Nya belum ditampakkan kepada manusia.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
Kalimatnya pendek. Tetapi jika diucapkan dengan hati yang sadar, ia mengandung pengakuan, kerendahan hati, harapan, taubat, dan permohonan keselamatan dari hukuman Allah.