Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Saat Hati Diliputi Cemas dan Kesedihan, Ingatlah: Allahu Rabbi La Syarika Lahu

www.ibumengaji.com — Setiap manusia pasti pernah merasakan cemas, sedih, sakit, atau berada dalam kesempitan. Ada kesedihan karena kehilangan. Ada kecemasan menghadapi masa depan. Ada sakit yang membuat tubuh lemah. Ada pula persoalan hidup yang terasa begitu berat hingga seseorang tidak tahu harus mencari jalan keluar ke mana.

Islam tidak mengajarkan seorang Muslim untuk mengingkari perasaan tersebut. Namun, Islam mengajarkan ke mana hati harus kembali ketika semua terasa berat.

Salah satunya adalah dengan mengingat Allah melalui kalimat:

اللَّهُ رَبِّي لَا شَرِيكَ لَهُ

“Allah adalah Rabbku, tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Hadis tentang Menghilangkan Kesedihan dan Kesempitan

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Asma’ binti ‘Umais radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَصَابَهُ هَمٌّ أَوْ غَمٌّ أَوْ سَقَمٌ أَوْ شِدَّةٌ، فَقَالَ: اللَّهُ رَبِّي لَا شَرِيكَ لَهُ، كُشِفَ ذَلِكَ عَنْهُ.

“Barang siapa ditimpa kegelisahan, kesedihan, sakit, atau kesempitan, lalu ia berkata, ‘Allah adalah Rabbku, tidak ada sekutu bagi-Nya,’ niscaya hal itu akan dihilangkan darinya.”

Hadis ini dinisbatkan kepada riwayat ath-Thabrani. Adapun riwayat Ahmad memiliki lafaz yang sedikit berbeda, tetapi mengandung makna yang sama, yaitu mengajarkan kalimat tauhid untuk dibaca ketika seseorang mengalami kesusahan.

Siapakah Asma’ binti ‘Umais?

Perawi hadis ini adalah Asma’ binti ‘Umais al-Khats‘amiyyah radhiyallahu ‘anha, seorang sahabiyah mulia yang termasuk generasi awal kaum Muslimin.

Asma’ dikenal sebagai salah seorang pemilik dua hijrah. Ia berhijrah ke Habasyah bersama suaminya, Ja‘far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, kemudian berhijrah ke Madinah. Di Habasyah, ia melahirkan anak-anaknya.

Setelah Ja‘far gugur sebagai syahid dalam Perang Mu’tah, Asma’ melanjutkan kehidupannya dalam berbagai keadaan. Ia kemudian menikah dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan setelah Abu Bakar wafat, ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Kehidupan Asma’ bukan kehidupan yang bebas dari ujian. Ia mengalami hijrah, perpisahan, kehilangan, dan perubahan besar dalam perjalanan hidupnya. Karena itu, hadis yang diriwayatkannya memberikan pelajaran yang sangat indah: ketika hidup berubah dan keadaan menjadi berat, tauhid tetap menjadi tempat kembali seorang mukmin.

Mengapa Seseorang Bisa Merasa Cemas dan Sedih?

Secara psikologis, kecemasan sering muncul ketika seseorang menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam, tidak pasti, atau berada di luar kendalinya.

Pikiran kemudian mulai bekerja secara berlebihan.

Bagaimana jika saya gagal?

Bagaimana jika keadaan semakin buruk?

Bagaimana jika sesuatu yang saya takutkan benar-benar terjadi?

Sementara itu, kesedihan sering muncul karena kehilangan, kegagalan, perpisahan, penolakan, atau harapan yang tidak sesuai kenyataan.

Masalah menjadi semakin berat ketika seseorang terus memikirkan masa lalu sekaligus mengkhawatirkan masa depan. Tubuh berada di masa sekarang, tetapi pikiran terus berjalan ke tempat lain.

Di sinilah iman memberikan arah.

Makna “Allahu Rabbi La Syarika Lahu”

Kalimat اللَّهُ رَبِّي berarti “Allah adalah Rabbku.”

Kata Rabb mengandung makna bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pemelihara, dan Pengatur kehidupan hamba-Nya.

Ketika seorang Muslim mengatakan, “Allah adalah Rabbku,” sebenarnya ia sedang mengingatkan dirinya:

Aku memiliki Rabb. Aku tidak sendirian. Allah mengetahui keadaanku. Allah melihat kesulitanku. Allah mendengar doaku. Dan tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kekuasaan-Nya.

Kemudian ia mengatakan:

لَا شَرِيكَ لَهُ

“Tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Kalimat ini meneguhkan tauhid. Tidak ada makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak seperti Allah. Manusia boleh mencari pertolongan melalui berbagai sebab, tetapi hatinya tidak boleh bergantung secara mutlak kepada sebab tersebut.

Dokter adalah sebab kesembuhan. Pekerjaan adalah sebab rezeki. Keluarga adalah sebab dukungan. Teman adalah sebab penghiburan. Tetapi semuanya tetap berada di bawah kehendak Allah.

Tauhid Mengubah Cara Kita Menghadapi Masalah

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat tersebut bukan sekadar ucapan lisan. Ia harus lahir dari keyakinan terhadap maknanya.

Ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa Allah adalah Rabbnya, pusat ketergantungan hatinya berubah.

Ia tetap berusaha, tetapi tidak berputus asa ketika usaha belum berhasil.

Ia tetap berobat ketika sakit, tetapi hatinya mengetahui bahwa kesembuhan berada di tangan Allah.

Ia tetap mencari solusi ketika menghadapi persoalan, tetapi tidak merasa bahwa dirinya harus menyelesaikan semuanya sendirian.

Inilah kekuatan tauhid.

Masalah mungkin belum langsung hilang, tetapi hati mendapatkan tempat untuk bersandar.

Dan terkadang, ketenangan bukan datang karena seluruh masalah telah selesai. Ketenangan datang karena seseorang telah menemukan keyakinan bahwa Rabb yang mengatur dirinya jauh lebih besar daripada masalah yang sedang dihadapinya.

Jangan Hadapi Kesulitan Sendirian

Ketika cemas datang, jangan biarkan pikiran terus berputar tanpa arah.

Ketika sedih datang, jangan merasa bahwa dunia telah berakhir.

Ketika sakit datang, jangan kehilangan harapan.

Ketika hidup terasa sempit, jangan mengira bahwa pintu pertolongan telah tertutup.

Kembalilah kepada Allah.

Ucapkan dengan hati yang sadar:

اللَّهُ رَبِّي لَا شَرِيكَ لَهُ

“Allah adalah Rabbku, tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Kalimat ini adalah pengakuan bahwa kita memiliki Rabb yang Maha Mengetahui, Maha Mengatur, dan Maha Berkuasa.

Sebab, seorang mukmin tidak selalu mampu mengendalikan keadaan. Tetapi ia selalu dapat memilih kepada siapa hatinya bersandar.

Dan ketika hati benar-benar bersandar kepada Allah, kesempitan tidak lagi terasa sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai jalan untuk semakin mengenal dan mendekat kepada Rabb-nya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments