Ada kalimat-kalimat pendek yang memiliki makna sangat dalam. Salah satunya adalah zikir Radhītu billāhi rabban. Kalimat ini tidak hanya mengandung pujian kepada Allah, tetapi juga merupakan pernyataan iman seorang Muslim. Di dalamnya terdapat tiga pengakuan besar: Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasul.
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا
Radhītu billāhi rabban, wa bil-islāmi dīnan, wa bi Muḥammadin nabiyyan wa rasūlā.
“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.”
Ketika seseorang mengucapkan kalimat ini, ia sebenarnya sedang memperbarui kembali arah hidupnya. Ia mengingat siapa yang menciptakannya, jalan hidup apa yang harus ditempuh, dan siapa yang harus dijadikan teladan.
Ridha kepada Allah sebagai Rabb
Kalimat رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا — Radhītu billāhi rabban berarti, “Aku ridha Allah sebagai Rabb.”
Rabb bukan hanya berarti Tuhan dalam pengertian sebagai Pencipta. Allah adalah Rabb yang menciptakan, memiliki, mengatur, memelihara, dan menentukan segala sesuatu. Karena itu, ridha kepada Allah berarti menerima Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan sumber pertolongan.
Ridha tidak berarti seorang Muslim tidak boleh merasa sedih ketika menghadapi ujian. Nabi dan para sahabat juga mengalami kesedihan, kehilangan, dan kesulitan. Namun, seorang mukmin tetap memiliki keyakinan bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
Inilah yang berkaitan erat dengan sikap tawakal. Seorang Muslim berusaha, berikhtiar, dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Pembahasan mengenai keyakinan dan keteguhan dalam tawakal kepada Allah dapat memperkaya pemahaman tentang bagaimana seorang mukmin menghadapi ketetapan Allah dalam kehidupan.
Dengan demikian, ridha kepada Allah bukanlah sikap pasif. Ridha justru melahirkan ketenangan untuk terus berusaha tanpa kehilangan kepercayaan kepada Allah.
Ridha Islam sebagai agama
Bagian kedua berbunyi:
وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا — Wa bil-islāmi dīnan
“Aku ridha Islam sebagai agama.”
Islam bukan sekadar identitas yang tercantum dalam dokumen atau pengakuan lisan. Islam adalah jalan hidup. Ia mengajarkan bagaimana manusia berhubungan dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan keluarga, dan dengan sesama manusia.
Ridha kepada Islam berarti menerima petunjuk Allah sebagai pedoman. Ketika Islam mengajarkan kejujuran, seorang Muslim berusaha untuk jujur. Ketika Islam mengajarkan kesabaran, ia belajar bersabar. Ketika Islam melarang kezaliman, ia berusaha menjauhinya.
Namun, untuk dapat mencintai dan menjalankan Islam dengan benar, seorang Muslim membutuhkan ilmu. Karena itu, semangat kewajiban menuntut ilmu bagi seorang Muslim memiliki hubungan yang sangat kuat dengan makna kalimat ini. Bagaimana seseorang dapat ridha kepada Islam jika ia tidak berusaha mengenal ajarannya?
Ilmu membuat seseorang memahami apa yang harus diyakini dan bagaimana keyakinan itu diwujudkan dalam kehidupan. Iman yang benar akan melahirkan amal. Amal yang benar membutuhkan ilmu. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Ridha kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul
Bagian ketiga berbunyi:
وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا — Wa bi Muḥammadin nabiyyan wa rasūlā
“Aku ridha Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.”
Pengakuan ini berarti membenarkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, menerima ajaran yang beliau sampaikan, dan berusaha mengikuti petunjuknya.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya diwujudkan dengan ucapan. Cinta kepada beliau juga tampak dalam usaha meneladani akhlaknya. Beliau adalah teladan dalam ibadah, kejujuran, kesabaran, kasih sayang, kepemimpinan, dan hubungan dengan sesama manusia.
Karena itu, mengucapkan Radhītu billāhi rabban seharusnya mendorong seseorang untuk semakin mengenal sunnah Rasulullah ﷺ. Sebab, melalui beliau, kita mengenal bagaimana Islam harus dijalankan.
Keutamaan membaca Radhītu Billāhi Rabban
Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bagi orang yang mengucapkan kalimat ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, disebutkan bahwa barang siapa mengucapkan:
“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul,”
maka surga menjadi hak baginya.
Hadis ini menunjukkan betapa agungnya kandungan kalimat tersebut. Ia bukan sekadar rangkaian kata, tetapi mengandung tiga dasar utama keimanan seorang Muslim.
Terdapat pula riwayat mengenai membaca kalimat ini pada pagi dan petang. Dalam riwayat tersebut disebutkan keutamaan mendapatkan keridhaan Allah pada hari kiamat. Selain itu, kalimat yang semakna juga dibaca setelah azan, sebagaimana terdapat dalam hadis sahih mengenai keutamaan mengakui Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama.
Karena itu, kalimat ini dapat menjadi bagian dari kebiasaan zikir seorang Muslim. Ia mengingatkan hati agar tidak mudah kehilangan arah di tengah berbagai kesibukan dan persoalan kehidupan.
Ridha yang melahirkan istiqamah
Ridha kepada Allah, Islam, dan Rasulullah ﷺ pada akhirnya harus melahirkan istiqamah.
Seseorang yang benar-benar ridha kepada Allah akan berusaha tetap berada di jalan-Nya. Ia mungkin jatuh, tetapi berusaha bangkit. Ia mungkin mengalami kelemahan, tetapi tidak berhenti mencari pertolongan Allah.
Di sinilah makna kalimat Radhītu billāhi rabban memiliki hubungan erat dengan pembahasan mengenai keimanan sejati dan jalan istiqamah. Keimanan bukan hanya perasaan yang hadir sesaat. Keimanan harus dijaga, dirawat, dan dibuktikan melalui perjalanan hidup.
Hal ini juga sejalan dengan makna Ihdinash Shirathal Mustaqim dalam Surat Al-Fatihah: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Setiap hari seorang Muslim meminta petunjuk kepada Allah karena manusia selalu membutuhkan bimbingan-Nya.
Kita tidak cukup hanya mengetahui jalan yang benar. Kita juga membutuhkan pertolongan Allah agar mampu berjalan di atasnya.
Ketika hati belajar menerima dan bersyukur
Ridha kepada Allah juga memiliki hubungan yang erat dengan rasa syukur. Seorang hamba yang mengenal Allah akan memahami bahwa segala nikmat berasal dari-Nya.
Dalam keadaan lapang, ia bersyukur. Dalam keadaan sempit, ia bersabar. Dalam keadaan tidak memahami takdir, ia tetap percaya kepada kebijaksanaan Allah.
Sikap tersebut dapat ditemukan dalam berbagai doa dan zikir yang mengajarkan seorang Muslim untuk senantiasa memuji Allah. Sebagaimana makna doa Ya Rabbi Lakal Hamdu, seorang hamba menyadari bahwa segala pujian pada akhirnya kembali kepada Allah.
Dengan demikian, Radhītu billāhi rabban bukan hanya kalimat tentang menerima. Ia juga merupakan kalimat tentang mengenal Allah, mempercayai-Nya, mencintai agama-Nya, dan mengikuti Rasul-Nya.
Penutup
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا
“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.”
Kalimat ini pendek, tetapi mengandung peta kehidupan seorang Muslim.
Allah adalah Rabb yang menjadi tempat bergantung. Islam adalah agama yang menjadi jalan hidup. Muhammad ﷺ adalah Nabi dan Rasul yang menjadi teladan.
Karena itu, marilah kita mengucapkannya dengan lisan yang sadar dan hati yang memahami. Sebab ridha yang sejati bukan hanya pengulangan kata-kata, melainkan keyakinan yang melahirkan ketundukan, kesabaran, syukur, istiqamah, dan kecintaan kepada Allah serta Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar ridha kepada-Nya sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasul.
آمِينَ.