Keindahan Pilihan Kata dalam Al-Qur’an
www.ibumengaji.com Keindahan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan maknanya, tetapi juga pada ketepatan pilihan katanya. Setiap kata yang dipilih Allah di dalam Al-Qur’an tidak pernah hadir secara kebetulan. Masing-masing diksi mengandung pesan, nuansa, dan hikmah yang sesuai dengan konteks ayat.
Para ulama tafsir dan ahli balaghah (retorika bahasa Arab) berulang kali menegaskan bahwa salah satu sisi kemukjizatan Al-Qur’an adalah وضع الكلمة في موضعها — menempatkan setiap kata pada posisi yang paling tepat. Karena itu, ketika Allah memerintahkan manusia untuk mencari rezeki, menghadiri salat, berlomba dalam kebaikan, dan mendekat kepada-Nya, Al-Qur’an tidak menggunakan satu kata kerja yang sama. Allah memilih empat kata yang berbeda, yaitu فَامْشُوا (berjalanlah), فَاسْعَوْا (bersegeralah), وَسَارِعُوا (berlomba-lombalah), dan فَفِرُّوا (larilah). Perbedaan pilihan kata tersebut mengajarkan skala prioritas hidup seorang mukmin.
1. Mencari rezeki dengan ketenangan dan keseimbangan
Tahapan pertama adalah perintah untuk mencari rezeki. Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kalian dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk [67]: 15)
Menariknya, Allah menggunakan kata فَامْشُوا (famsyū), yang secara harfiah berarti “berjalanlah.” Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk berusaha dan menjelajahi bumi guna mencari penghidupan yang halal. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa penggunaan kata “berjalan” menunjukkan ketenangan dan keseimbangan dalam mencari nafkah.
Allah tidak memerintahkan manusia untuk “berlari” mengejar dunia, karena rezeki pada hakikatnya telah ditetapkan oleh-Nya. Tugas manusia adalah berikhtiar dengan cara yang benar, tanpa kehilangan ketenangan, tanpa menghalalkan segala cara, dan tanpa melupakan akhirat. Inilah pelajaran pertama: dunia harus dicari dengan usaha yang sungguh-sungguh, tetapi tidak dengan kepanikan dan ketamakan.
2. Mendahulukan ibadah di atas urusan dunia
Setelah urusan rezeki, Al-Qur’an mengangkat derajat kesungguhan ketika berbicara tentang ibadah. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan salat Jumat, maka bersegeralah menuju mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 9)
Pada ayat ini, Allah memilih kata فَاسْعَوْا (fas‘aw), bukan فَامْشُوا. Menurut Ibnu Katsir, kata sa’yu dalam ayat ini bukan berarti berlari secara fisik menuju masjid, sebab Nabi ﷺ melarang seseorang berlari ketika hendak shalat. Maknanya adalah bersegera dengan hati yang siap, meninggalkan kesibukan dunia, dan mendahulukan panggilan Allah.
Ketika azan Jumat berkumandang, aktivitas ekonomi yang sebelumnya dibolehkan harus dihentikan. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada pekerjaan. Seorang mukmin tidak sekadar bekerja untuk hidup, tetapi juga hidup untuk beribadah.
3. Berlomba-lomba dalam meraih ampunan
Gradasi berikutnya lebih tinggi lagi. Allah tidak hanya meminta manusia bersegera, tetapi juga berlomba-lomba dalam meraih ampunan-Nya. Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
“Dan berlomba-lombalah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 133)
Kata وَسَارِعُوا (wasāri‘ū) berasal dari akar kata yang menunjukkan saling mendahului. Menurut Fakhruddin Ar-Razi, ayat ini menggambarkan bahwa seorang mukmin tidak cukup hanya berbuat baik, tetapi harus berusaha menjadi yang terdepan dalam kebaikan.
Kesempatan hidup sangat terbatas, sementara waktu terus berjalan. Karena itu, seseorang tidak boleh menunda taubat, sedekah, shalat di awal waktu, atau berbuat baik kepada orang tua, keluarga, dan sesama. Amal saleh yang ditunda sering kali berubah menjadi penyesalan. Al-Qur’an mengajarkan budaya kompetisi yang benar: bukan berlomba mengumpulkan dunia, melainkan berlomba meraih ridha Allah.
4. Menuju Allah sebagai tujuan akhir
Puncak dari seluruh perjalanan spiritual itu terdapat dalam firman Allah:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
“Maka larilah menuju Allah.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 50)
Inilah diksi yang paling kuat. Kata فِرَار (firār) dalam bahasa Arab berarti melarikan diri dari sesuatu yang menakutkan menuju tempat yang aman. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa seseorang diperintahkan lari dari murka Allah menuju rahmat-Nya, dari dosa menuju taubat, dari kelalaian menuju dzikir, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dan dari ketergantungan kepada makhluk menuju tawakal kepada Allah semata.
Menariknya, dalam kehidupan sehari-hari manusia biasanya lari menjauhi musuh. Namun dalam ayat ini, manusia justru diperintahkan lari menuju Allah. Sebab hanya di sisi-Nya terdapat keamanan, ketenangan, dan keselamatan yang hakiki.
Penutup
Jika keempat ayat tersebut disusun, tampaklah sebuah kurikulum kehidupan yang sangat indah. Untuk mencari rezeki, Allah berkata: “berjalanlah.” Untuk memenuhi panggilan ibadah, Allah berkata: “bersegeralah.” Untuk memperoleh ampunan dan surga, Allah berkata: “berlomba-lombalah.” Dan ketika tujuan akhirnya adalah Allah sendiri, Dia berfirman: “larilah.”
Semakin tinggi nilai sesuatu, semakin besar kesungguhan yang dituntut untuk meraihnya. Karena itu, pelajaran besar yang dapat kita ambil adalah menata ulang prioritas hidup. Jangan sampai kita berlari mengejar dunia, tetapi berjalan santai menuju masjid. Jangan sampai kita berlomba mengumpulkan harta, tetapi menunda taubat dan amal saleh. Jangan pula kita sibuk mengejar jabatan, sementara hati menjauh dari Allah.
Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: bekerja dengan tenang, beribadah dengan segera, beramal dengan semangat berlomba, dan kembali kepada Allah dengan seluruh jiwa. Inilah keindahan Al-Qur’an. Hanya dengan empat kata kerja yang berbeda, Allah mengajarkan filosofi hidup yang utuh. Dunia ditempatkan pada porsinya, ibadah dimuliakan, akhirat diprioritaskan, dan Allah dijadikan tujuan akhir dari seluruh perjalanan manusia.
Siapa yang mampu memahami dan mengamalkan urutan ini, niscaya ia akan menjalani kehidupan yang produktif di dunia sekaligus berbahagia di akhirat. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita mengejar dunia yang menentukan keselamatan kita, melainkan seberapa cepat kita kembali kepada Allah.