www.ibumengaji.com Tidak ada rezeki yang tertukar. Apa yang telah Allah SWT tetapkan untuk seseorang pasti akan sampai kepadanya pada waktu dan cara yang telah ditentukan-Nya. Terkadang manusia membuat berbagai rencana, tetapi Allah menghadirkan ketentuan yang jauh lebih baik dan penuh hikmah. Pelajaran berharga inilah yang dapat dipetik dari kegiatan Pengajian Gabungan PIM3 se-Kapanewon Sanden yang dirangkai dengan santunan bagi anak yatim, piatu, dan dhuafa pada Kamis, 18 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di kediaman Ibu Sukanti, Padukuhan Karanganyar, Kalurahan Gadingharjo, Kapanewon Sanden tersebut berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan. Sebanyak 28 anak yatim, piatu, dan dhuafa menerima santunan dari para donatur dan anggota PIM3. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Acara diawali dengan sambutan dari H. Jupriyanto, S.Si. yang sekaligus memimpin doa. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan pentingnya istiqamah dalam menjalankan berbagai program PIM3. Menurut beliau, sebuah amal tidak dinilai dari besarnya semata, tetapi juga dari kesinambungan dan konsistensinya. Organisasi yang mampu bertahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat adalah organisasi yang para anggotanya memiliki komitmen untuk terus bergerak dalam kebaikan, meskipun langkah yang ditempuh dilakukan sedikit demi sedikit.
Beliau juga menyampaikan hikmah yang sangat menyentuh tentang rezeki. Pada awalnya, program santunan ini direncanakan untuk dilaksanakan di wilayah Lendah, Kulon Progo. Namun karena berbagai pertimbangan, kegiatan akhirnya dipindahkan ke Sanden. Dari peristiwa tersebut, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan bahwa rezeki akan mendatangi orang yang memang telah Allah tetapkan sebagai penerimanya. Santunan yang diterima oleh 28 anak yatim, piatu, dan dhuafa pada hari itu menjadi bukti bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik Pengatur rezeki.
Pemahaman ini mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya tidak iri terhadap rezeki orang lain dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan. Allah SWT telah menentukan bagian masing-masing hamba-Nya dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan. Tugas manusia adalah berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada-Nya.
Semangat kepedulian terhadap anak yatim yang diwujudkan dalam kegiatan ini sejalan dengan firman Allah SWT:
وَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Dhuha: 9).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa memuliakan dan memperhatikan anak yatim merupakan bagian dari ajaran Islam yang luhur. Kehadiran mereka di tengah masyarakat bukanlah beban, melainkan kesempatan bagi kaum muslimin untuk meraih pahala dan keberkahan.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Ustazah Trianawati Nunung Bintari. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan sebuah hadis yang memberikan kabar gembira bagi kaum muslimah. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ.
Artinya: “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki.'” (HR. Ahmad).
Melalui hadis tersebut, Ustazah Trianawati menjelaskan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada perempuan. Rasulullah ﷺ menyebutkan empat amalan pokok yang menjadi jalan menuju surga, yaitu menjaga shalat lima waktu, melaksanakan puasa Ramadhan, menjaga kehormatan diri, dan menaati suami dalam perkara yang ma’ruf. Keempat amalan tersebut merupakan fondasi utama yang akan mengantarkan seorang muslimah kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Beliau juga menjelaskan bahwa shalat merupakan tiang agama dan bukti hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Puasa Ramadhan melatih kesabaran dan ketakwaan. Menjaga kehormatan diri adalah bentuk penjagaan terhadap martabat dan kemuliaan seorang muslimah. Sedangkan ketaatan kepada suami dalam perkara yang baik menjadi salah satu kunci terciptanya keluarga yang harmonis dan penuh keberkahan.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa surga memiliki delapan pintu yang diperuntukkan bagi berbagai golongan ahli ibadah. Namun hadis ini menunjukkan keistimewaan yang luar biasa bagi seorang muslimah yang mampu menjaga empat perkara tersebut. Ia akan dipersilakan memasuki surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki. Ini merupakan kabar gembira sekaligus motivasi agar setiap muslimah senantiasa menjaga kualitas ibadah dan akhlaknya.
Pesan tentang istiqamah yang disampaikan dalam sambutan serta nasihat tentang kemuliaan muslimah yang disampaikan dalam pengajian sesungguhnya saling melengkapi. Istiqamah dalam beribadah, istiqamah dalam berbagi, dan istiqamah dalam menjalankan amanah kehidupan merupakan jalan menuju ridha Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13).
Pada akhirnya, kegiatan Pengajian Gabungan PIM3 se-Kapanewon Sanden ini bukan sekadar agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kehidupan yang penuh keberkahan dibangun melalui kepedulian kepada sesama, keyakinan terhadap ketentuan Allah, dan istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya. Semoga semangat berbagi kepada anak yatim, piatu, dan dhuafa terus tumbuh di tengah masyarakat, serta menjadi jalan bagi kita semua untuk meraih ridha dan surga Allah SWT.