www.ibumengaji.com Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti berhadapan dengan berbagai peristiwa yang tidak selalu sesuai harapan. Ada saat ketika cita-cita tercapai, kesehatan terjaga, dan rezeki mengalir dengan lancar. Namun, ada pula masa-masa sulit ketika kehilangan datang silih berganti, doa terasa belum terjawab, dan ujian hidup seakan tidak berkesudahan. Pada saat-saat seperti inilah seorang mukmin membutuhkan satu bekal penting yang mampu menjaga ketenangan hatinya, yaitu ridha terhadap ketentuan Allah.
Secara bahasa, ridha berarti rela, menerima, dan merasa puas tanpa keberatan. Adapun secara istilah, ridha adalah sikap menerima segala keputusan Allah dengan lapang dada, penuh kepercayaan kepada hikmah-Nya, serta tanpa menyimpan prasangka buruk terhadap-Nya. Jika sabar berarti menahan diri dari keluhan ketika menghadapi ujian, maka ridha adalah tingkat yang lebih tinggi, yaitu menerima ujian tersebut dengan hati yang tenang karena yakin bahwa pilihan Allah selalu lebih baik daripada pilihan diri sendiri.
Ridha merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)
Lalu, bagaimana cara menumbuhkan sikap ridha dalam kehidupan sehari-hari?
Pertama, kenalilah Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Seseorang akan lebih mudah menerima ketentuan Allah ketika memahami bahwa Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Adil, dan Maha Penyayang. Tidak mungkin Allah menakdirkan sesuatu tanpa hikmah dan kebaikan bagi hamba-Nya.
Kedua, yakini bahwa setiap takdir Allah mengandung kebaikan, meskipun terkadang belum terlihat saat ini. Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ketiga, perbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Kisah Nabi Ayyub yang diuji dengan penyakit, Nabi Yusuf yang dipenjara, serta Nabi Ya’qub yang kehilangan putranya mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu hadir pada waktu yang paling tepat.
Keempat, fokuslah pada nikmat yang masih dimiliki. Ketika musibah datang, manusia sering hanya memandang apa yang hilang dan melupakan banyak karunia yang masih tersisa. Padahal kesehatan, keluarga, iman, kesempatan beribadah, dan peluang untuk bertobat merupakan nikmat yang tak ternilai harganya.
Kelima, biasakan mengucapkan istirja’ ketika menghadapi musibah:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Kalimat ini mengingatkan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya adalah milik Allah, sehingga Dia berhak mengambilnya kapan saja sesuai kehendak-Nya.
Keenam, bergaullah dengan orang-orang saleh. Lingkungan yang baik akan membantu seseorang melihat ujian sebagai sarana mendekat kepada Allah, bukan sekadar kesulitan yang harus dikeluhkan.
Ketujuh, kurangi keluhan dan perbanyak doa. Semakin sering seorang hamba mengadu kepada Allah, semakin kuat hubungan hatinya dengan Sang Pencipta. Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa:
وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ
“Aku memohon kepada-Mu keridhaan setelah datangnya ketetapan-Mu.”
Kedelapan, lihatlah orang-orang yang menghadapi ujian lebih berat. Cara ini akan menumbuhkan rasa syukur dan membantu kita menyadari bahwa di balik kesulitan yang dialami masih terdapat banyak nikmat yang patut disyukuri.
Kesembilan, pahami perbedaan antara ikhtiar dan hasil. Islam memerintahkan manusia untuk berusaha secara maksimal, tetapi hasil akhir sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah. Ketika seseorang memahami batas tanggung jawabnya, ia tidak akan larut dalam penyesalan yang berkepanjangan.
Kesepuluh, ingatlah besarnya pahala bagi orang yang ridha. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At-Tirmidzi)
Pada akhirnya, ridha bukan berarti tidak pernah sedih, kecewa, atau kehilangan. Bahkan para nabi pun pernah merasakan kesedihan yang mendalam. Ridha adalah kemampuan untuk tetap percaya kepada Allah di tengah kesedihan, tetap berbaik sangka kepada-Nya di tengah kesulitan, dan tetap yakin bahwa setiap keputusan-Nya pasti mengandung hikmah.
Buah dari ridha bukan hanya ketenangan di dunia, tetapi juga kemuliaan di akhirat. Allah berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)
Inilah tujuan tertinggi seorang mukmin: hidup dalam keridhaan kepada Allah dan kembali kepada-Nya dalam keadaan diridhai. Ketika ridha telah bersemayam dalam hati, ujian tidak lagi menjadi beban yang menghancurkan, melainkan jembatan yang mengantarkan seorang hamba menuju cinta, rahmat, dan keridhaan Allah سبحانه وتعالى.