Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Muharram: Bulan Kemuliaan, Bukan Bulan Kesialan

www.ibumengaji.com Setiap kali bulan Muharram tiba, sebagian masyarakat menyambutnya dengan berbagai keyakinan dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Di sejumlah daerah, terutama dalam budaya Jawa, Muharram lebih dikenal dengan sebutan bulan Suro. Tidak sedikit orang yang menganggapnya sebagai bulan keramat sehingga muncul berbagai pantangan, seperti menunda pernikahan, menghindari pindah rumah, tidak memulai usaha baru, atau enggan mengadakan hajatan besar. Kepercayaan semacam ini telah lama hidup di tengah masyarakat. Namun, benarkah demikian pandangan Islam terhadap bulan Muharram?

Untuk menjawabnya, kita perlu kembali kepada sumber ajaran Islam yang autentik, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab, kemuliaan Muharram tidak terletak pada mitos atau anggapan kesialan, melainkan pada kedudukannya yang istimewa di sisi Allah Swt.

Secara bahasa, kata Muharram berasal dari bahasa Arab المحرم (al-Muharram), yang berarti “yang diharamkan” atau “yang disucikan”. Penamaan ini menunjukkan adanya penghormatan dan pengagungan terhadap bulan tersebut. Adapun secara istilah, Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan oleh Allah. Tiga bulan haram lainnya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36).

Ayat ini menegaskan bahwa Muharram adalah bulan yang memiliki kedudukan khusus dalam syariat Islam. Pada bulan-bulan haram, seorang Muslim dianjurkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa dan lebih bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan. Dengan demikian, kemuliaan Muharram bukanlah karena bulan ini dianggap membawa keberuntungan atau kesialan tertentu, melainkan karena Allah sendiri yang memuliakannya.

Di sinilah pentingnya membedakan antara tradisi budaya dan tuntunan agama. Islam menghormati budaya yang baik selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun, apabila muncul keyakinan bahwa suatu bulan dapat mendatangkan kesialan sehingga seseorang harus menghindari aktivitas tertentu yang sebenarnya halal, maka keyakinan tersebut perlu diluruskan. Tidak terdapat dalil yang melarang pernikahan, pindah rumah, membangun usaha, bepergian, atau menyelenggarakan acara pada bulan Muharram. Semua aktivitas tersebut tetap boleh dilakukan sebagaimana bulan-bulan lainnya.

Rasulullah ﷺ justru mengajarkan cara menghormati Muharram dengan memperbanyak ibadah. Beliau bersabda:

«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ»

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya Muharram. Bahkan Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai Syahrullah atau “bulan Allah”, sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya. Oleh karena itu, amalan yang paling dianjurkan pada bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah.

Di antara puasa yang paling utama adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Hari tersebut memiliki sejarah yang agung, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa `alaihissalam dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).

Untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan puasa pada tanggal 9 Muharram yang dikenal dengan puasa Tasu’a.

Selain puasa, Muharram merupakan momentum yang sangat baik untuk memperbanyak amal saleh lainnya. Membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir dan istighfar, bersedekah, mempererat silaturahmi, membantu sesama, serta melakukan muhasabah diri merupakan amalan-amalan yang patut dihidupkan sepanjang bulan ini. Sebagai pembuka tahun Hijriah, Muharram menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki kekurangan masa lalu, dan menyusun tekad baru agar menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah.

Pada akhirnya, Muharram bukanlah bulan untuk ditakuti, melainkan bulan untuk dimuliakan. Bukan bulan untuk menunda langkah karena khawatir akan kesialan, tetapi bulan untuk mempercepat langkah menuju kebaikan. Jika sebagian orang menyambut Muharram dengan berbagai pantangan yang tidak memiliki dasar syariat, maka seorang Muslim menyambutnya dengan puasa, taubat, doa, dan amal saleh. Sebab, kemuliaan Muharram tidak terletak pada mitos yang mengitarinya, melainkan pada kesempatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk meraih pahala yang lebih besar dan memulai tahun baru Hijriah dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, serta semangat yang lebih tinggi dalam beribadah kepada-Nya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments