Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Pengertian

www.ibumengaji.com Hadis berikut ini mengandung pesan yang sangat mendalam tentang hakikat syukur dalam Islam. Banyak orang menganggap syukur hanya berkaitan dengan hubungan seorang hamba dengan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Padahal, syukur yang sejati juga tercermin dalam sikap seseorang terhadap sesama manusia. Orang yang benar-benar menyadari besarnya nikmat Allah akan mudah menghargai kebaikan orang lain, sedangkan orang yang terbiasa mengabaikan jasa sesama sering kali juga lalai dalam menyadari nikmat Allah yang begitu banyak.

Melalui hadis ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kesalehan spiritual harus berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak sosial.

Hakikat Syukur dalam Tinjauan Bahasa dan Istilah

Secara bahasa, kata syukur berasal dari bahasa Arab شَكَرَ – يَشْكُرُ – شُكْرًا yang berarti mengakui kebaikan, memuji pemberi nikmat, dan menampakkan pengaruh nikmat yang diterima. Lawan kata syukur adalah kufur, yang secara bahasa berarti menutupi atau mengingkari.

Dari makna bahasa ini dapat dipahami bahwa orang yang bersyukur adalah orang yang tidak menutupi nikmat yang diterimanya, melainkan mengakui dan menghargainya.

Adapun secara istilah syariat, para ulama menjelaskan bahwa syukur adalah mengakui nikmat berasal dari Allah, memuji-Nya atas nikmat tersebut, serta menggunakan nikmat itu dalam perkara yang diridhai-Nya. Oleh karena itu, syukur memiliki tiga unsur utama.

Pertama, syukur dengan hati, yaitu meyakini bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah semata.

Kedua, syukur dengan lisan, yaitu memuji Allah, memperbanyak dzikir, dan mengucapkan alhamdulillah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat untuk ketaatan dan kemaslahatan.

Dengan demikian, syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hidup yang tampak dalam keyakinan, perkataan, dan tindakan.

Sahabat Periwayat Hadis dan Keteladanannya

Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nama beliau adalah Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi. Beliau dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ.

Keistimewaan Abu Hurairah bukan terletak pada kekayaan atau kedudukannya, melainkan pada kecintaannya kepada ilmu. Setelah memeluk Islam, beliau mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk mendampingi Rasulullah ﷺ. Dalam banyak kesempatan beliau menahan lapar dan hidup dalam kesederhanaan demi memperoleh ilmu langsung dari Nabi ﷺ.

Kesungguhan itu membuahkan hasil yang luar biasa. Ribuan hadis yang menjadi pedoman umat hingga hari ini sampai kepada kita melalui periwayatan Abu Hurairah. Pengorbanannya menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi oleh manfaat yang dapat ia berikan kepada orang lain.

Keteladanan Abu Hurairah mengajarkan bahwa rasa syukur kepada Allah harus diwujudkan dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan warisan manfaat bagi generasi setelahnya.

Mengapa Syukur kepada Allah Harus Disertai Terima Kasih kepada Manusia?

Allah adalah sumber segala nikmat. Namun dalam kehidupan sehari-hari, banyak nikmat Allah yang sampai kepada kita melalui perantaraan manusia. Orang tua menjadi perantara kehidupan kita. Guru menjadi perantara ilmu. Teman menjadi perantara bantuan. Dokter menjadi perantara kesembuhan. Petani menjadi perantara tersedianya makanan.

Karena itu, menghargai manusia yang menjadi perantara nikmat merupakan bagian dari penghargaan terhadap nikmat Allah itu sendiri.

Para ulama menjelaskan bahwa makna hadis ini bukan berarti Allah membutuhkan ucapan terima kasih kepada manusia. Akan tetapi, orang yang tidak mampu menghargai kebaikan manusia menunjukkan bahwa ia belum memiliki jiwa syukur yang sempurna. Jika terhadap nikmat yang tampak di hadapannya saja ia tidak peduli, maka bagaimana mungkin ia mampu mensyukuri nikmat Allah yang jauh lebih banyak dan tidak terhitung jumlahnya?

Implementasi Syukur dalam Kehidupan Sehari-hari

Hadis ini mengajarkan agar kita membiasakan diri menghargai setiap kebaikan yang diberikan orang lain, sekecil apa pun bentuknya.

Seorang anak hendaknya berterima kasih kepada kedua orang tuanya atas kasih sayang dan pengorbanan mereka. Seorang murid hendaknya menghormati guru yang telah mengajarkan ilmu. Seorang anggota masyarakat hendaknya menghargai setiap orang yang membantu pekerjaannya.

Ucapan sederhana seperti “terima kasih”, “jazakallahu khairan”, atau doa yang tulus sering kali memiliki pengaruh besar dalam mempererat hubungan antarmanusia. Sikap ini melahirkan budaya saling menghargai, menumbuhkan kerendahan hati, dan menghilangkan sifat merasa paling berjasa.

Lebih jauh lagi, syukur akan mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Syukur mengubah keluhan menjadi ketenangan. Syukur mengubah kekurangan menjadi rasa cukup. Syukur mengubah kesulitan menjadi pelajaran berharga. Syukur mengubah perkara yang biasa menjadi nikmat yang istimewa.

Orang yang bersyukur tidak selalu memiliki kehidupan yang paling mudah, tetapi ia memiliki hati yang mampu melihat kebaikan di balik setiap keadaan.

Penutup

Hadis Rasulullah ﷺ tentang pentingnya berterima kasih kepada manusia mengajarkan bahwa syukur memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Syukur bukan hanya hubungan antara seorang hamba dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam sikap menghargai sesama.

Ketika seseorang mengakui nikmat Allah dengan hati, memuji-Nya dengan lisan, menggunakan nikmat untuk kebaikan, serta menghargai setiap orang yang menjadi perantara datangnya nikmat tersebut, maka ia telah mencapai hakikat syukur yang lebih sempurna.

Pada akhirnya, semakin besar rasa syukur seseorang kepada Allah, semakin mudah pula ia menghargai manusia. Dan semakin pandai ia berterima kasih kepada manusia, semakin tampak kesempurnaan syukurnya kepada Allah Ta’ala.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments