www.ibumengaji.com Di tengah kehidupan yang sering mengukur manusia berdasarkan banyaknya ilmu, jabatan, atau prestasi, Islam menghadirkan ukuran yang lebih mendalam. Ukuran itu terletak pada kualitas hati dan kemuliaan akhlak. Karena itulah Imam Al-Junaid rahimahullah pernah mengungkapkan sebuah kalimat yang singkat namun sarat makna:
قَالَ الْجُنَيْدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَرْبَعٌ تَرْفَعُ الْعَبْدَ إِلَى أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَإِنْ قَلَّ عَمَلُهُ وَعِلْمُهُ: الْحِلْمُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَالسَّخَاءُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَهُوَ كَمَالُ الْإِيمَانِ.
“Empat perkara dapat mengangkat seorang hamba ke derajat tertinggi meskipun amal dan ilmunya sedikit: hilm, tawadhu’, dermawan, dan akhlak yang baik.” Ucapan ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju kemuliaan di sisi Allah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal, tetapi juga oleh bagaimana amal itu dihiasi dengan akhlak yang mulia.
Perkara pertama adalah al-hilm (الحلم), yaitu kemampuan menahan amarah dan bersikap tenang ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Orang yang memiliki hilm tidak mudah terpancing emosi. Ia mampu mengendalikan dirinya ketika dicela, disakiti, atau diperlakukan tidak adil. Sifat ini merupakan salah satu akhlak para nabi. Dalam kehidupan sehari-hari, hilm menjadi penyejuk dalam keluarga, perekat dalam persahabatan, dan penahan dari berbagai pertikaian yang merusak hubungan antarmanusia.
Perkara kedua adalah tawadhu’ (التواضع). Tawadhu’ bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, melainkan menyadari bahwa semua kelebihan yang dimiliki merupakan karunia Allah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia merasa membutuhkan petunjuk Allah. Orang yang tawadhu’ tidak memandang dirinya lebih baik daripada orang lain. Ia mudah menerima nasihat, tidak gemar membanggakan diri, dan menghormati siapa pun tanpa melihat status sosialnya. Karena itu, tawadhu’ menjadi pintu yang mengantarkan seseorang kepada kecintaan manusia sekaligus keridaan Allah.
Perkara ketiga adalah as-sakha’ (السخاء) atau kedermawanan. Sifat ini lahir dari keyakinan bahwa rezeki berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Orang yang dermawan tidak hanya memberi ketika berlebih, tetapi juga tetap berbagi ketika dirinya memiliki keterbatasan. Kedermawanan bukan semata-mata tentang harta. Senyuman, tenaga, ilmu, waktu, dan perhatian kepada sesama juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Kemudian perkara keempat adalah husnul khuluq (حسن الخلق), akhlak yang baik. Imam Al-Junaid bahkan menutup perkataannya dengan kalimat, “Dan itulah kesempurnaan iman.” Akhlak yang baik merupakan buah dari keimanan yang benar. Ia tampak dalam kelembutan ucapan, kejujuran, kesabaran, amanah, dan kepedulian terhadap sesama. Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan bahwa orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.
Empat sifat ini sesungguhnya saling melengkapi. Hilm menjaga seseorang dari kemarahan, tawadhu’ melindunginya dari kesombongan, kedermawanan membersihkan dirinya dari kekikiran, dan akhlak yang baik menyempurnakan seluruh perilakunya. Siapa yang menghiasi hidupnya dengan empat sifat tersebut, maka ia sedang menapaki jalan para nabi, orang-orang saleh, dan para kekasih Allah. Inilah pelajaran berharga dari Imam Al-Junaid: kemuliaan sejati tidak selalu terletak pada banyaknya amal yang terlihat manusia, tetapi pada hati yang bersih dan akhlak yang mulia yang mengiringi setiap amal tersebut.
Al-Junaid al-Baghdadi adalah salah seorang imam besar Islam yang hidup pada abad ketiga Hijriah. Nama lengkap beliau adalah Abul Qasim Al-Junaid bin Muhammad Al-Khazzaz Al-Baghdadi. Beliau lahir dan besar di kota Baghdad dan wafat sekitar tahun 298 H.
Dalam sejarah Islam, beliau dikenal dengan gelar:
سَيِّدُ الطَّائِفَةِ
“Pemimpin kaum sufi.”
Namun tasawuf yang beliau ajarkan bukanlah tasawuf yang jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah. Justru beliau terkenal sangat menekankan ilmu, ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ, serta menjaga batas-batas syariat. Di antara ucapan beliau yang terkenal:
“Seluruh jalan menuju Allah tertutup bagi manusia kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.”
Karena itulah banyak ulama Ahlus Sunnah memuji beliau sebagai tokoh zuhud dan tazkiyatun nafs yang lurus.