Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

Rukun, Wajib, dan Sunnah Haji: Memahami Thawaf Ifadhah

www.ibumengaji.com Ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah menempuh perjalanan jauh, mengenakan pakaian ihram, berkumpul di Padang Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan melontar jumrah di Mina, jemaah haji masih harus menunaikan satu amalan yang sangat penting, yaitu thawaf ifadhah. Amalan ini bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah, melainkan salah satu rukun haji yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji seseorang. Oleh karena itu, setiap jemaah perlu memahami kedudukan, tata cara, dan makna thawaf ifadhah dalam rangkaian manasik haji.

Thawaf ifadhah adalah thawaf yang dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran setelah pelaksanaan wukuf di Arafah. Thawaf ini dikenal pula dengan sebutan thawaf ziyarah atau thawaf rukun. Dinamakan ifadhah karena dilakukan setelah jemaah bertolak dari Arafah dan kembali menuju Makkah untuk menyempurnakan ibadah hajinya.

Dasar pelaksanaan thawaf ifadhah terdapat dalam firman Allah SWT:

﴿ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾

“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan thawaf sekeliling rumah tua itu (Ka’bah).” (QS. Al-Hajj: 29)

Ayat ini menjadi salah satu landasan utama kewajiban thawaf ifadhah dalam ibadah haji. Rasulullah SAW pun mencontohkannya secara langsung. Dari Aisyah r.a. diriwayatkan:

﴿أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَفَاضَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ رَجَعَ فَصَلَّى الظُّهْرَ بِمِنًى﴾

“Sesungguhnya Nabi SAW melakukan thawaf ifadhah pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah), kemudian beliau kembali ke Mina dan melaksanakan salat Zuhur di sana.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu pelaksanaan thawaf ifadhah dimulai setelah jemaah selesai wukuf di Arafah dan memasuki hari raya Iduladha. Mayoritas jemaah melaksanakannya pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah melontar Jumrah Aqabah dan melakukan tahallul. Namun, apabila terdapat uzur atau kepadatan jemaah, thawaf ini dapat diakhirkan hingga hari-hari tasyrik. Yang terpenting, thawaf tersebut tetap dilaksanakan sebelum berakhirnya rangkaian ibadah haji.

Secara teknis, thawaf ifadhah dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di tempat yang sama. Jemaah harus berada dalam keadaan suci dari hadas besar maupun kecil, menutup aurat, serta menjadikan Ka’bah berada di sebelah kirinya selama thawaf. Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jemaah dianjurkan melaksanakan salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim apabila memungkinkan, lalu melanjutkan sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah bagi yang belum melaksanakannya.

Pentingnya thawaf ifadhah semakin jelas karena ia termasuk salah satu rukun haji. Para ulama menjelaskan bahwa rukun haji terdiri atas ihram, wukuf di Arafah, thawaf ifadhah, sa’i antara Shafa dan Marwah, serta tertib menurut sebagian mazhab. Rukun merupakan bagian pokok ibadah yang tidak boleh ditinggalkan. Jika salah satu rukun tidak dikerjakan, maka hajinya tidak sah dan tidak dapat diganti dengan dam atau denda.

Selain rukun, terdapat pula wajib haji yang meliputi ihram dari miqat, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, mencukur atau memendekkan rambut, serta thawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah. Apabila wajib haji ditinggalkan, hajinya tetap sah tetapi wajib membayar dam. Adapun sunnah-sunnah haji antara lain mandi sebelum ihram, memperbanyak talbiyah, memperbanyak dzikir dan doa, mencium Hajar Aswad apabila memungkinkan, serta memperbanyak amal saleh selama berada di tanah suci.

Rasulullah SAW bersabda:

﴿خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ﴾

“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seluruh rangkaian haji, termasuk thawaf ifadhah, hendaknya dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Dengan mengikuti petunjuk beliau, seorang Muslim tidak hanya memperoleh kesempurnaan manasik, tetapi juga meraih nilai-nilai ketakwaan yang menjadi tujuan utama ibadah haji.

Pada akhirnya, thawaf ifadhah mengandung pesan yang sangat mendalam. Ketika seorang hamba mengelilingi Ka’bah, ia sedang menegaskan bahwa Allah adalah pusat orientasi hidupnya. Seluruh cita-cita, langkah, dan tujuan hidupnya harus berputar mengelilingi ketaatan kepada Allah sebagaimana tubuhnya berputar mengelilingi Baitullah. Karena itulah thawaf ifadhah bukan hanya penyempurna rangkaian haji, melainkan juga simbol penyempurnaan penghambaan seorang Muslim kepada Rabb semesta alam.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments