Yayasan Ibu Mengaji Indonesia

3 Nasihat Ali bin Abi Thalib: Menjadi Mulia di Sisi Allah dan Rendah Hati kepada Manusia

www.ibumengaji.com Di tengah kehidupan modern, banyak orang berlomba menjadi yang terbaik di hadapan manusia. Sebagian berusaha memperoleh pengakuan, pujian, jabatan, atau kedudukan sosial. Tidak sedikit pula yang merasa senang ketika dipandang lebih baik daripada orang lain. Namun, Islam mengajarkan ukuran keberhasilan yang berbeda. Kemuliaan bukanlah tentang seberapa besar manusia memuji kita, melainkan seberapa besar nilai kita di sisi Allah.

Terdapat sebuah ungkapan hikmah yang populer dan sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib r.a. Meskipun penetapan sanad yang kuat mengenai penisbatan perkataan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, isi dan kandungannya secara umum sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis. Ungkapan singkat ini memberikan pelajaran besar tentang tiga hubungan penting dalam kehidupan manusia: hubungan dengan Allah, hubungan dengan diri sendiri, dan hubungan dengan sesama manusia.

Jika tiga hal ini terjaga dengan baik, seseorang akan memiliki keseimbangan antara ibadah, akhlak, dan kehidupan sosialnya.

Pertama: Jadilah Manusia Terbaik di Sisi Allah

Kalimat pertama mengajarkan bahwa tujuan utama seorang Muslim bukanlah menjadi besar di mata manusia, tetapi menjadi mulia di hadapan Allah. Sebab manusia menilai berdasarkan apa yang tampak di luar, sedangkan Allah melihat hati dan amal.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan sejati adalah takwa. Harta, jabatan, keturunan, dan popularitas bukan ukuran utama dalam Islam. Bisa jadi seseorang tidak dikenal oleh manusia, tetapi memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah karena keikhlasan dan amal salehnya.

Pelajaran yang dapat diambil dari bagian ini adalah:

  • Memperbaiki niat dalam setiap amal.
  • Mengutamakan ridha Allah daripada pujian manusia.
  • Berusaha meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.
  • Tidak menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan hidup.

Ketika seseorang fokus pada penilaian Allah, ia tidak akan mudah kecewa terhadap komentar manusia.

Kedua: Jadilah Manusia Terburuk dalam Pandangan Dirimu

Ungkapan ini bukan mengajarkan kebencian terhadap diri sendiri atau merendahkan diri secara berlebihan. Maksudnya adalah membangun sikap muhasabah atau introspeksi diri. Seseorang hendaknya tidak cepat merasa paling baik, paling saleh, atau paling berjasa.

Penyakit hati seperti ujub dan merasa diri lebih baik daripada orang lain sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Oleh sebab itu, para ulama terdahulu semakin banyak beramal justru semakin takut amal mereka tidak diterima.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sementara hati mereka merasa takut.”
(QS. Al-Mu’minun: 60)

Mereka takut bukan karena amalnya sedikit, tetapi karena khawatir amal tersebut tidak diterima oleh Allah.

Pelajaran yang dapat dipetik:

  • Membiasakan evaluasi diri setiap hari.
  • Tidak mudah merasa puas terhadap amal yang dilakukan.
  • Menjauhi sifat ujub dan sombong.
  • Selalu merasa membutuhkan rahmat Allah.

Introspeksi diri bukan berarti putus asa, tetapi menjadi bahan untuk terus memperbaiki diri.

Ketiga: Jadilah Manusia Biasa di Hadapan Orang Lain

Bagian terakhir mengajarkan tentang sikap tawadhu’ atau rendah hati. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk mencari penghormatan atau merasa lebih tinggi dibanding orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)

Kerendahan hati bukan berarti menghinakan diri sendiri, melainkan menempatkan diri secara proporsional. Orang yang tawadhu’ tidak merasa dirinya pusat perhatian. Ia tidak menuntut perlakuan khusus dan tidak merasa lebih mulia daripada orang lain.

Sikap ini dapat diwujudkan melalui:

  • Menghormati siapa pun tanpa memandang status sosial.
  • Menerima nasihat dari siapa saja.
  • Tidak meremehkan orang lain.
  • Membiasakan sikap sederhana dalam pergaulan.

Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya.

Penutup: Tiga Hubungan yang Membentuk Kemuliaan

Ungkapan ini memberikan keseimbangan hidup yang sangat indah. Kepada Allah, kita diajarkan memiliki cita-cita tertinggi, yaitu mencari ridha-Nya. Kepada diri sendiri, kita diajarkan untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki kekurangan. Kepada sesama manusia, kita diajarkan untuk bersikap sederhana dan rendah hati.

Bila diringkas, nasihat ini dapat dipahami sebagai berikut:

Di hadapan Allah: milikilah ambisi yang tinggi.
Di hadapan diri sendiri: perbanyak introspeksi.
Di hadapan manusia: peliharalah kerendahan hati.

Di zaman ketika banyak orang sibuk membangun citra dan mengejar pengakuan, nasihat ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada banyaknya pujian manusia, melainkan pada amal yang diterima oleh Allah. Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukanlah tepuk tangan dunia, tetapi ridha dari Rabb semesta alam.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments